Politisi Muslim Gelar Webinar Spesial Kemerdekaan, Bahas Peran Gerakan Islam Menuju Indonesia Emas 2045

sentralberita|Medan~Politisi Muslim untuk Semua menggelar Webinar Spesial Kemerdekaan bertema: “Refleksi 81 Tahun: Gerakan Islam Menuju Indonesia Emas 2045”, Jumat (14/8/2026) malam. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus diskusi mengenai kontribusi gerakan Islam dalam mengisi kemerdekaan dan mempersiapkan Indonesia menuju satu abad kemerdekaan pada 2045.

Webinar menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Ketua Umum Advokat Negarawan Indonesia (AdNI), Dr. (c) Eka Putra Zakran, S.H., M.H, Ketua DPW Partai Masyumi Sumatera Utara, Dr. H.M. Arfan Daulay, S.Ag., M.A, serta Ketua Politisi Muslim untuk Semua , Nanda Hafiz Pratama Lubis. Diskusi dipandu Islahuddin Panggabean sebagai host.

Dalam pemaparannya, Arfan Daulay menegaskan bahwa gerakan Islam pada hakikatnya merupakan gerakan untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Menurutnya, nilai tersebut harus dimulai dari pembentukan akhlak yang baik.

“Individu yang baik akan melahirkan keluarga yang baik, keluarga yang baik akan melahirkan lingkungan yang baik dan seterusnya akan melahirkan bangsa yang baik,” ujar Arfan dalam paparannya.

Ia mengaitkan cita-cita tersebut dengan konsep *baldatun tayyibatun wa rabbun ghafuur*, yakni harapan terwujudnya kehidupan masyarakat dan bangsa yang baik. Karena itu, menurutnya, Indonesia Emas 2045 tidak semata-mata merupakan proyek pemerintah, melainkan cita-cita bersama seluruh bangsa Indonesia.

Arfan menyebut gerakan Islam dapat menjadi kekuatan moral, pendidikan, sosial, ekonomi, dan kebangsaan. Hal itu dapat diwujudkan dengan menghadirkan nilai keadilan, amanah, ilmu, persaudaraan, kepedulian sosial, serta budaya antikorupsi dalam kehidupan masyarakat.

Ia memaparkan sejumlah agenda strategis gerakan Islam menuju Indonesia Emas, mulai dari membangun manusia unggul, memperkuat ekonomi umat, menjadi kekuatan antikorupsi, memperkokoh persatuan bangsa, hingga mendorong lahirnya kader-kader politik yang berintegritas dan memiliki wawasan kebangsaan.

Menurutnya, pesantren, madrasah, sekolah Islam, perguruan tinggi, masjid, dan organisasi kepemudaan perlu menjadi pusat pengembangan ilmu agama dan pengetahuan, teknologi digital, kewirausahaan, kepemimpinan, literasi keuangan, kreativitas, inovasi, serta karakter dan integritas.

Di bidang ekonomi, gerakan Islam juga didorong tidak berhenti pada aktivitas ibadah individual, tetapi ikut membangun kemandirian ekonomi umat. Pesantren dapat dikembangkan sebagai pusat kewirausahaan, masjid sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, sedangkan zakat dan wakaf dapat diarahkan menjadi instrumen pemberdayaan produktif.

“Indonesia Emas tidak boleh hanya diukur dari besarnya GDP atau kemajuan teknologi. Negara maju membutuhkan manusia yang berintegritas,” tegasnya.

Arfan juga menekankan pentingnya peran pemuda dan perempuan dalam pembangunan menuju 2045. Ia mendorong lahirnya pemuda Muslim yang berilmu, produktif, mandiri, berintegritas, dan siap menjadi pemimpin bangsa.

Sementara itu, Ketua Umum AdNI **Eka Putra Zakran** menyoroti pentingnya persaudaraan atau *ukhuwah* sebagai fondasi gerakan Islam dalam membangun Indonesia.

Menurut Eka, momentum 81 tahun kemerdekaan merupakan saat yang tepat untuk memperkuat persaudaraan. Ia membagi ukhuwah dalam tiga dimensi, yakni *ukhuwah Islamiyah* sebagai persaudaraan sesama umat Islam, *ukhuwah wathaniyah* sebagai persaudaraan sesama anak bangsa, serta *ukhuwah basyariyah/insaniyah* sebagai persaudaraan sesama manusia.

“Ketiga bagian ukhuwah tersebut harus senantiasa dirawat, dipupuk dan dijaga serta dipererat tali ikatannya agar gerakan Islam menuju Indonesia Emas tahun 2045 dapat direalisasikan,” ujar Eka.

Ia kemudian memperkenalkan empat prinsip yang dinilainya dapat menjadi perekat gerakan Islam, yaitu *ta’aruf*, *ta’awun*, *takaful*, dan *tafahum*.

*Ta’aruf* berarti saling mengenal, *ta’awun* berarti saling menolong, *takaful* berarti saling menjamin, sedangkan *tafahum* berarti saling memahami atau mengerti.

Eka menilai penerapan keempat prinsip tersebut akan memperkuat persaudaraan sekaligus membangun gerakan Islam yang inklusif dan konstruktif dalam kehidupan kebangsaan.

Sementara itu, Ketua Politisi Muslim untuk Semua **Nanda Hafiz Pratama Lubis** dalam sambutannya mengatakan bahwa peringatan 81 tahun kemerdekaan harus menjadi momentum untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan bangsa sekaligus merajut asa menuju Indonesia Emas 2045.

Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan dan pengorbanan seluruh elemen bangsa, termasuk umat Islam yang memiliki peran historis dalam perjuangan kemerdekaan.

Menurut Nanda, tantangan bangsa ke depan semakin kompleks, mulai dari persoalan moral, ekonomi, sosial hingga dinamika global. Karena itu, umat Islam sebagai bagian terbesar dari masyarakat Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk hadir sebagai solusi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Ia menyampaikan tiga pilar penting peran gerakan Islam menuju Indonesia Emas, yakni penguatan akhlak dan moral bangsa, pemberdayaan ekonomi dan pendidikan, serta menjaga persatuan dan moderasi beragama.

Nanda menekankan bahwa kemajuan material dan pembangunan infrastruktur harus berjalan seiring dengan penguatan integritas moral. Gerakan Islam, kata dia, perlu terus menanamkan nilai kejujuran, amanah, etos kerja, kepedulian sosial dan tanggung jawab.

Di bidang pendidikan dan ekonomi, umat Islam juga didorong untuk memperkuat pendidikan berkualitas, kewirausahaan sosial, serta pemanfaatan zakat, infak, sedekah dan wakaf secara produktif. Literasi keuangan dan digital juga dinilai penting agar umat mampu menjadi pelaku ekonomi yang mandiri.

Sementara dalam kehidupan kebangsaan, Nanda menilai Islam *wasathiyah* atau moderat dapat menjadi kekuatan untuk menjaga kebinekaan, kerukunan dan stabilitas nasional.

Webinar tersebut pada akhirnya menegaskan bahwa gerakan Islam menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup berhenti sebagai gerakan moral dan wacana, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik, kebangsaan dan pemberdayaan generasi muda.

Gagasan yang mengemuka dalam diskusi tersebut dirangkum dalam semangat membangun Indonesia dengan **iman yang kokoh, akhlak yang mulia, ilmu yang tinggi, ekonomi yang mandiri, teknologi yang maju, politik yang berkeadilan serta persatuan yang kuat**.

“Dari masjid menuju masyarakat berdaya, dari pesantren menuju peradaban ilmu, dari ekonomi umat menuju kemandirian bangsa, dan dari akhlak menuju kepemimpinan,” menjadi semangat yang mengemuka dalam webinar tersebut.

Para narasumber berharap gerakan Islam dapat terus menjadi sumber inspirasi moral sekaligus kekuatan sosial untuk menghadirkan keadilan dan kemaslahatan, dengan ulama sebagai penjaga moral bangsa, pemuda sebagai pelopor perubahan, pendidikan sebagai jalan kemajuan, dan ekonomi umat sebagai salah satu fondasi kemandirian bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

-->