Kemewahan yang Bernyawa

​Karya: Rizal 4G|sentralberita~Ketika ruh ditiupkan ke dalam sunyinya raga,
saat itulah detak pertama menjadi samudera rasa.
Daging yang tadinya tanah, tulang yang tadinya sepi,
tiba-tiba menjelma menjadi panggung megah kehidupan ini.
​Ruh dan raga, sepasang pengembara yang saling mengikat,
menenun waktu, menciptakan sebuah hakikat.
Sebab kemewahan dunia bukanlah emas yang bertumpuk mati,
melainkan rahasia saat keduanya masih saling mendiami.
​Mewah akan rasa,
saat lidah mengecap manisnya madu dan getirnya kopi,
saat kulit merasakan hangatnya mentari dan dinginnya sepi.
Semua itu takkan ada artinya,
jika ruh telah terbang meninggalkan raganya yang fana.
​Mewah akan nikmat,
bisa menghirup udara pagi yang bersih dan bebas,
bisa melangkah, tertawa, dan memandang langit luas.
Raga menjadi wadah, ruh menjadi sang penikmat,
menjadikan setiap embusan napas sebagai seuntai rahmat.
​Dan mewah akan emosional,
saat dada bergemuruh karena cinta yang membakar,
atau mata yang basah oleh rindu yang kian menjalar.
Merasakan kecewa, bahagia, cemburu, dan kedamaian yang dalam,
adalah kemewahan tertinggi yang tak mampu dibeli malam.
​Namun, semua kemewahan ini punya batas waktu,
hanya berlaku selama ruh dan raga masih bersatu.
Sebab jika nanti saatnya tiba mereka harus berpisah,
segala rasa, nikmat, dan emosi akan kembali senyap tanpa kisah.
​Maka selagi ruh masih betah di dalam raga,
basuhlah kemewahan itu dengan zikir yang menggema.
Kenali dirimu yang daif di balik bungkus daging dan tulang,
agar tahu dari mana kau datang dan ke mana akan pulang.
​Sebab puncak dari segala rasa dan emosi yang fana,
adalah saat ruh dan raga bersujud mengenal Sang Pencipta.
Menemukan ketenangan sejati dalam dekapan keagungan-Nya,
sebelum waktu menutup usia, dan kita kembali pada-Nya.

Baca Juga :  Menjaga Sumut dari Bahaya Narkoba, Polda Sumut Jadi Garda Depan Penyelamat Generasi
-->