M4CR PPIU Sumut Fasilitasi Rehabilitasi Mangrove di Desa Sei Tuan dan Desa Denai Deliserdang

sentralbeita|Deliserdang~Kegiatan Media Visiting M4CR PPIU Sumatera Utara berlangsung, Kamis (17/9/2026) di Desa Sei Tuan dan Desa Denai Kuala, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Nelayan Mandiri dengan difasilitasi melalui Program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR). Adapun kegiatannya diisi dengan talkshow, sharing session dan penanaman mangrove bersama media.
Dihadiri Kepala Desa Sei Sei Tun, Darninggolan Marbun, Ketua KTH Nelayan Mandiri, Sukamto dan lainnya, Aisiten Komunikasi Strategi M4CR PPIU Sumatrera Utara, Reza Levi Nasution mengungkapkan , bahwa M4CR bukanlah program yang baru berjalan.
Menurut Reza, program tersebut sebelumnya berada dalam ekosistem kerja Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Dalam masa transisi setelah BRGM berakhir, program M4CR kemudian dilanjutkan melalui Kementerian Kehutanan dan ditempatkan di bawah Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH).
Reza mengatakan, M4CR memiliki tiga fokus utama. Pertama, merehabilitasi ekosistem mangrove. Kedua, meningkatkan potensi ekonomi masyarakat pesisir. Ketiga, membangun keberlanjutan agar masyarakat memiliki kepedulian dan rasa memiliki terhadap kawasan mangrove setelah program berakhir.
“Kita terus mendorong rehabilitasi ekosistem mangrove, sekaligus memperkuat untuk perekonomian masyarakat pesisir di Sumatera Utara,”ujarnya.
Menurut Reza, Keterlibatan KTH dalam pengelolaan kawasan hutan lindung dilakukan melalui mekanisme dan aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Dalam kegiatan penanaman yang didukung program M4CR, masyarakat yang terlibat dalam pekerjaan lapangan mendapatkan pembayaran berdasarkan hari orang kerja (HOK).
Sambil menyebut tujuan utama program ini untuk memulihkan kawasan mangrove yang terdegradasi demi memperkuat ketahanan wilayah pesisir, juga untuk meembuka sumber penghidupan baru dan meningkatkan kesejahteraan warga pesisir melalui pendekatan berbasis komunitas.
“Ketika berkegiatan, Pokmas melakukan penanaman bibit mangrove dan ada upah hariannya untuk pekerja di lapangan,” jelas Reza seraya mengatakan, M4CR hadir untuk melindungi ekosistem pesisir melalui rehabilitasi mangrove di berbagai provinsi di Indonesia. Namun manfaatnya tidak berhenti di situ. juga membawa dampak ekonomi dan sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Bagi KTH Nelayan Mandiri, rehabilitasi mangrove bukan sekadar memulihkan kawasan pesisir, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat melalui pembibitan, penanaman, penyulaman dan pemeliharaan. Keterlibatan perempuan dan generasi muda juga menjadi bagian dari aktivitas pemulihan ekosistem tersebut.
Sementara itu, Ketua KTH Nelayan Mandiri, Sukamto, mengatakan kawasan yang mereka kelola sebelumnya mengalami kondisi yang memprihatinkan. Bahkan, menurutnya, saat kelompok mulai melakukan kegiatan rehabilitasi, kawasan tersebut masih didominasi tanaman sawit dan sebagian kondisi hutannya gundul.
Upaya rehabilitasi ekosistem mangrove terus dilakukan Kelompok Tani Nelayan Mandiri (KTH) di Pantai Sei Tuan Indah, Desa Sei Tuan, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang.
Sejak berdiri pada 2017, kelompok yang beranggotakan 29 orang tersebut mengaku konsisten melakukan pemulihan kawasan pesisir melalui pembibitan, penanaman, penyulaman hingga pemeliharaan mangrove.
“Kalau persentasenya, kami sudah mencapai sekitar 80 persen merehabilitasi hutan ini. Kami tidak berhenti melakukan kegiatan sampai hari ini,” ujar Sukamto
Menurut Sukamto, selama proses rehabilitasi, KTH Nelayan Mandiri telah menanam hampir setengah juta bibit mangrove secara bertahap. Kegiatan tersebut dilakukan dengan melibatkan sejumlah lembaga dan organisasi pendamping.
Salah satu capaian terbesar tercatat pada 2024 melalui program rehabilitasi seluas 28 hektare. Sebanyak 101.640 bibit mangrove ditanam dengan pola tanam intensif 3.300 bibit per hektare.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 92.400 bibit merupakan penanaman utama, sedangkan 9.240 bibit lainnya merupakan penyulaman sebesar 10 persen. Jenis mangrove yang ditanam adalah Rhizophora sp dengan skema swakelola tipe IV.
Program kemudian dilanjutkan pada 2025 melalui tahap pemeliharaan (P1). Kegiatan tersebut mencakup penyulaman sekitar 20 persen dari jumlah bibit kegiatan penanaman awal atau sebanyak 18.480 bibit.
Sukamto menyebut rehabilitasi tersebut tidak hanya berdampak terhadap pemulihan vegetasi mangrove, tetapi juga mulai membentuk kawasan daratan baru di sekitar pesisir. Ia memperkirakan terdapat puluhan hektare tanah timbul yang terbentuk di ujung kawasan setelah proses rehabilitasi berlangsung.
Di sisi lain, Sukamto mengungkapkan anggota KTH selama ini tidak menerima gaji tetap dari pemerintah untuk mengelola kawasan tersebut. Masyarakat tetap menjalankan aktivitas pemulihan mangrove sekaligus memanfaatkan sumber daya pesisir seperti mencari kepiting sebagai bagian dari penghidupan mereka. (Husni Lubis)
