Hall Disdik Sumut di PRSU Bikin Anak Sekolah Naik Kelas Jadi Kreator

sentralberita|Medan~Kalau biasanya ke PRSU orang sibuk cari kuliner, naik wahana, atau berburu diskon, ternyata ada satu tempat yang diam-diam sedang “mengganggu” kebiasaan anak muda yang doyan rebahan. Namanya Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara.

Di bawah koordinasi Kabid SMK Dinas Pendidikan Sumut sekaligus Koordinator Hall Disdik di PRSU Jalan Gatot Subroto Medan, Dr. M. Basir S. Hasibuan, M.Pd, hall ini seolah mengirim pesan sederhana: daripada jempol terus latihan scrolling, kenapa tidak tangan yang latihan berkarya?

Di dalam Hall Disdik di bawah kendali Kepala Dinas Pendidikan Provsu, Alexander Sinulingga, S.STP., M.Si, kreativitas tidak dipajang di etalase, tetapi dipraktikkan langsung. Di hall itu terdapat tujuh (7) untuk SMK, empat (4) untuk SMA, serta partisipasi sekolah-sekolah luar biasa (SLB) yang ikut menunjukkan kreativitas memang tidak mengenal batas.

Setiap hari panggung kreasi hidup. Ada melukis, menggambar pola, menenun, hingga memamerkan proses pembuatan batik tulis dan kain tenun. Mesin tenun milik SMK Berastagi sengaja ditempatkan tepat di tengah hall. Bukan sekadar pajangan, melainkan “mesin waktu” yang mengingatkan bahwa budaya akan tetap bertahan kalau ada generasi muda yang mau belajar menggerakkan benangnya.

Yang menarik, pengunjung tidak hanya melihat hasil jadi. Mereka bisa menyaksikan bagaimana selembar benang berubah menjadi kain, bagaimana ide berubah menjadi karya, dan bagaimana pelajar berubah menjadi kreator.

Kalau selama ini ada anggapan anak sekolah hanya sibuk mengejar nilai, panggung hiburan di Hall Disdik justru memberi panggung untuk mengejar mimpi. Setiap Senin hingga Kamis, rata-rata sekitar 150 pelajar dari berbagai SMA, SMK, dan SLB bergantian tampil. Ada band, penyanyi solo, tari, hingga berbagai pertunjukan seni yang membuat hall terasa lebih hidup dibanding sekadar ruang pamer.

Di saat sebagian orang sibuk mencari panggung untuk viral, anak-anak SMA, SMK, dan SLB di sini justru sibuk mencari panggung untuk berkarya. Yang satu mengejar jumlah penonton, yang satu lagi mengejar kualitas kemampuan. Untungnya, di Hall Disdik, tepuk tangan tetap lebih berharga daripada sekadar jumlah likes.

Bukan hanya seni yang diasah. Berbagai kompetensi vokasi juga diperkenalkan kepada masyarakat, mulai dari keterampilan terapi, ilmu pijat, hasil penelitian sederhana, hingga aneka produk handicraft. Bahkan kebutuhan sehari-hari seperti sabun, sampo, pakaian, hingga aksesori merupakan hasil kreativitas para pelajar. Bukti bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga tempat melahirkan solusi dan calon wirausahawan.

Menurut Dr. M. Basir S. Hasibuan, Kamis 16 Juli 2026 malam, kehadiran Hall Disdik bukan sekadar untuk memamerkan hasil karya siswa, melainkan memberikan ruang agar mereka berani menunjukkan kemampuan, mengasah keterampilan, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Baginya, ketika karya anak-anak mendapat apresiasi dari pengunjung, rasa percaya diri mereka ikut tumbuh dan semangat untuk terus berinovasi semakin kuat.

Basir juga berharap masyarakat tidak hanya datang melihat-lihat, tetapi turut memberikan dukungan dengan mengapresiasi setiap karya yang ditampilkan. Sebab, setiap lukisan, setiap helai kain tenun, setiap lagu yang dibawakan di atas panggung, hingga setiap produk yang dipamerkan adalah hasil proses belajar yang panjang. Dukungan sederhana dari pengunjung bisa menjadi motivasi besar bagi lahirnya generasi kreatif Sumatera Utara.

Hall Disdik Sumut akhirnya menjadi pengingat bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari ruang kelas yang sunyi. Kadang ia tumbuh di tengah keramaian PRSU, di antara suara musik, denting alat tenun, aroma kuliner karya siswa SMK, dan tepuk tangan pengunjung yang menyaksikan anak-anak sekolah menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Kalau kreativitas anak muda terus diberi ruang seperti ini, mungkin beberapa tahun lagi yang dipamerkan bukan hanya hasil karya mereka, tetapi juga lahirnya wirausahawan, seniman, peneliti, desainer, hingga inovator baru dari Sumatera Utara.

Seperti pesan Basir, pendidikan yang baik tidak berhenti pada nilai rapor, tetapi harus mampu melahirkan karakter, keterampilan, dan keberanian untuk berkarya. Karena pada akhirnya, sekolah terbaik bukan yang hanya menghasilkan ijazah, melainkan yang mampu melahirkan generasi yang siap menciptakan lapangan kerja, melestarikan budaya, dan membawa nama Sumatera Utara melalui kreativitasnya.

-->