Era AI Sedang Menantang, Jangan Lupa Karena Masih Asik Bernostalgia

sentralberita|Medan ~Tehnologi bergerak sangat cepat, meskipun kita juga tetap harus mengenang bagaimana semuanya bermula.
Mungkin itu pula yang menjadi salah satu alasan, Stan Dinas Kominfo Sumatera Utara pada perhelatan di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026 ini menampilkan sejumlah koleksi perangkat tehnologi kuno (jadul), seperti radio dan telepon yang diakui memang menarik secara sejarah.
Atas dasar itu juga awalnya saya tertarik mengunjungi paviliun Diskominfo Sumut yang terjajar di antara sejumlah stan lainnya di lingkungan Pemprov Sumut.
Sesekali, mengamati radio yang katanya merupakan buatan Jerman yang kala itu mungkin dianggap sebagai barang mewah.
Namun sebagai jurnalis, sejumlah pertanyaan langsung merangsang pikiran saya, apa makna perangkat – perangkat jadul itu diperhelatan even bertema “Harmoni Emas” yang seharusnya mampu memberikan edukasi ke masyarakat, apalagi di  tengah derasnya arus transformasi digital hingga ledakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) saat ini.
Saya berdiri beberapa saat, hanya perangkat jadul yang ada disitu di tambah sebuah sofa , meja tamu, dan nakas mungil bergaya retro.
Tehnologi perbandingannya sama sekali tidak telihat.
Benda-benda yang menjadi andalan Diskominfo Sumut ini  memang menyimpan nilai sejarah yan mengingatkan kita pada perjalanan panjang komunikasi manusia, dari gelombang radio hingga sambungan telepon kabel.
Tapi apakah itu sudah cukup mewakili wajah Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut di tahun 2026?
Pertanyaan ini tentu bukan ditujukan untuk meremehkan nilai sejarah. Sebaliknya, sejarah komunikasi justru harus dikenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami betapa panjang perjalanan teknologi yang kini dinikmati.
Radio tabung, telepon putar, mesin tik, hingga faksimile adalah bagian penting dari evolusi komunikasi.
Tetapi sejarah, betapapun pentingnya, tidak boleh menjadi titik akhir sebuah pameran.
Apalagi ketika penyelenggaranya adalah Dinas Komunikasi dan Informatika, institusi pemerintah yang berada di garis depan transformasi digital.
Di era ketika anak-anak sekolah mulai mengenal kecerdasan buatan, guru memanfaatkan platform pembelajaran digital, pemerintah mengembangkan layanan elektronik, masyarakat bertransaksi secara nontunai, dan ancaman kejahatan siber semakin kompleks, publik tentu berharap lebih dari sekadar melihat benda-benda komunikasi masa lampau.
Sama sekali tak ada “jembatan” yang bisa menghubungkan tehnologi masa lalu tersebut dengan kemajuan pesat era digital saat ini, termasuk kecerdasan buatan AI yang kini merubah segalanya. Tentu sangat menarik jika disajikan melalui layar.
Tiga Dimensi Waktu
Stan Kominfo semestinya menjadi ruang yang menghubungkan tiga dimensi waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Masa lalu tetap harus hadir sebagai fondasi sejarah. Radio antik, telepon klasik, atau perangkat komunikasi generasi awal tetap memiliki tempatnya. Namun kehadiran benda-benda tersebut seharusnya menjadi pintu masuk untuk menjelaskan bagaimana teknologi komunikasi terus berkembang hingga hari ini.
Setelah pengunjung memahami perjalanan sejarah itu, mereka seharusnya diajak memasuki realitas masa kini.
Di sinilah Kominfo memiliki ruang yang sangat luas untuk menunjukkan perannya kepada masyarakat. Bagaimana digitalisasi pelayanan publik dilakukan. Bagaimana keterbukaan informasi dijalankan. Bagaimana keamanan data pribadi menjadi perhatian. Bagaimana masyarakat dapat mengenali hoaks, penipuan digital, dan ancaman kejahatan siber yang semakin canggih.
Sayangnya, bila ruang edukasi itu tidak dihadirkan secara memadai, stan hanya akan menjadi etalase benda-benda lama yang menarik dipotret, tetapi kurang memberi nilai tambah pengetahuan.
Padahal fungsi pameran pemerintah bukan sekadar menghibur. Fungsi utamanya adalah mendidik.
Hari ini, dunia sedang berbicara tentang Artificial Intelligence, Big Data, Internet of Things, komputasi awan, keamanan siber, hingga kota cerdas (smart city). Semua itu bukan lagi sekadar istilah akademik. Teknologi tersebut perlahan mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan.
Bukankah inilah momentum terbaik bagi Kominfo untuk memperkenalkan perubahan itu kepada masyarakat?
Bayangkan apabila di dalam stan tersedia simulasi sederhana penggunaan AI untuk pendidikan, pelayanan publik, atau usaha mikro. Pengunjung dapat mencoba secara langsung bagaimana teknologi membantu menyusun dokumen, menerjemahkan bahasa, mencari informasi, atau mendukung kreativitas. Anak-anak sekolah tidak sekadar melihat masa lalu komunikasi, tetapi juga merasakan masa depan yang sedang datang.
Lebih jauh lagi, stan dapat menghadirkan edukasi mengenai etika penggunaan AI, perlindungan data pribadi, literasi digital, serta cara mengenali informasi palsu. Di tengah banjir informasi saat ini, kemampuan memilah fakta sama pentingnya dengan kemampuan mengakses teknologi.
Namun ada satu hal yang menurut saya jauh lebih penting daripada seluruh perangkat digital tersebut, yaitu manusianya.
Teknologi secanggih apa pun akan kehilangan makna apabila hanya menjadi pajangan tanpa ada orang yang mampu menjelaskannya.
Karena itu, stan Kominfo idealnya tidak hanya dipenuhi layar digital atau perangkat teknologi. Ia juga harus diisi oleh sumber daya manusia yang kompeten, komunikatif, dan mampu berdialog dengan masyarakat.
Pengunjung seharusnya dapat bertanya secara langsung.
Apa manfaat AI?
Apa dampaknya terhadap dunia kerja?
Bagaimana melindungi akun media sosial dari peretasan?
Bagaimana mengenali hoaks?
Bagaimana pemerintah menjaga keamanan data masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak cukup dijawab melalui spanduk atau layar presentasi. Ia memerlukan manusia yang mampu menjelaskan dengan bahasa yang sederhana.
Di sinilah saya melihat bahwa komunikasi bukan hanya soal teknologi. Komunikasi adalah interaksi antarmanusia.
Saya membayangkan stan Kominfo tidak sekadar menjadi ruang pamer, tetapi berubah menjadi ruang belajar. Setiap hari ada diskusi singkat, demonstrasi teknologi, pelatihan literasi digital, simulasi penggunaan AI, edukasi keamanan siber, hingga konsultasi digital bagi pelajar, guru, pelaku UMKM, maupun masyarakat umum.
Dengan konsep seperti itu, stan Kominfo akan menjadi salah satu ruang yang paling hidup di PRSU.
Pengunjung datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi pulang membawa pengetahuan baru.
Lebih jauh lagi, konsep seperti ini juga akan memperlihatkan bahwa transformasi digital bukan semata-mata urusan perangkat lunak dan jaringan internet. Transformasi digital adalah transformasi cara berpikir.
Kominfo sesungguhnya memegang peran strategis dalam membangun budaya digital masyarakat. Karena itu, kehadirannya dalam sebuah pameran publik seharusnya mampu membangkitkan rasa ingin tahu, menumbuhkan literasi, sekaligus memberi optimisme bahwa masyarakat Sumatera Utara siap menghadapi masa depan.
Saya percaya, kritik seperti ini bukanlah bentuk penolakan terhadap sejarah.
Sebaliknya, sejarah tetap penting. Radio dan telepon antik layak dipamerkan sebagai penanda perjalanan komunikasi. Generasi muda perlu mengetahui bahwa teknologi yang mereka gunakan hari ini lahir melalui proses panjang.
Namun sejarah akan lebih bermakna apabila mampu menjelaskan arah masa depan.
Itulah sebabnya saya berharap konsep stan Kominfo pada penyelenggaraan PRSU mendatang dapat dikembangkan menjadi sebuah narasi yang utuh: dari masa lalu menuju masa kini, lalu melangkah ke masa depan.
Sebab komunikasi tidak pernah berhenti pada benda-benda yang pernah digunakan manusia. Komunikasi selalu bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Di era kecerdasan buatan, ukuran keberhasilan sebuah stan bukan lagi ditentukan oleh banyaknya koleksi yang dipamerkan. Ukurannya adalah seberapa banyak wawasan baru yang dibawa pulang oleh setiap pengunjung.
Pada akhirnya, stan Kominfo tidak cukup hanya menjadi museum barang antik komunikasi. Ia semestinya menjadi jendela yang memperlihatkan perjalanan komunikasi manusia, menjelaskan tantangan zaman digital, dan menuntun masyarakat memasuki masa depan dengan pengetahuan, kecakapan, serta optimisme.
Karena tugas Dinas Komunikasi dan Informatika bukan sekadar merawat kenangan tentang bagaimana manusia pernah berkomunikasi. Tugas yang jauh lebih besar adalah mempersiapkan masyarakat agar mampu berkomunikasi, beradaptasi, dan bertahan di dunia digital yang terus berubah dengan sangat cepat.
Dan itulah pameran yang sesungguhnya layak dihadirkan pada sebuah pesta rakyat sebesar Pekan Raya Sumatera Utara.(Penulis adalah Redaktur Pelaksana Media Online LintasMedan.Com) 
-->