Prof KH Nasaruddin Umar: Imam Masjid Berperan Penting Terciptanya Harmonisasi Di Tengah Umat

sentralberita|Medan~ Pelantikan dan pengukuhan Pimpinan Wilayah Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Sumatera Utara, digelar pada Sabtu, (19/9/2026) bertempat di Ballroom Hotel Madani Medan secara langsung lewat zoom oleh Menteri Agama RI sekaligus Ketua Umum Pimpinan Pusat Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA.
Menteri Agama RI Prof Dr KH Nasaruddin Umar dalam pesannya yang disampaikan secara daring mengingatkan agar imam masjid nantinya memberikan gagasan besar bagi umat dan peradaban, sekaligus perekat hubungan sosial ditengah masyarakat.
“Imam Masjid memiliki peran penting bagi terciptanya hubungan sosial yang harmonis di tengah masyarakat, karena itu kita berharap IPIM Sumatera Utara teruslah bangun kebersamaan dengan seluruh stakeholder yang ada di Sumatera Utara, sehingga tercipta kondisi sosial yang kian kondusif,” pesan Menteri Agama.
Sementara itu Prof Dr H Nispul Khoiri, M.Ag dalam sambutannya menyampaikan bahwa imam Masjid dipahami sangat sederhana di tengah masyarakat, yakni sebatas sebagai imam, dipandang tidak strategis, karena posisi imam Masjid dijadikan sebagai pengabdian penuh kepada masyarakat.
“Eksistensi Imam Mesjid sebagian pemahaman diartikan sesederhana sekali yakni orang yang memimpin sholat berjemaah serta membimbing kegiatan keagamaan dan moral di lingkungan mesjid,”ujar Prof Nispul.
Lebih jauh disampaikan Guru Besar UIN SU ini, bahwa pemahaman ini membuat kedudukan Imam Mesjid juga mendapatkan pemahaman sederhana. Imam Mesjid dipandang tidak strategis, sebatas tuntutan nilai agama tidak mendapatkan ekspektasi sosial dan kondisi kesejahteraan riil dari masyarakat.
“Posisi Imam Mesjid dianggap posisi tidak mapan, bukan sebuah profesi berprospek karena mengandalkan dana sukarela masyarakat dan dianggap sebagai bentuk pengabdian penuh (khidmah) kepada masyarakat,”terangnya.
Meski stigma ini cukup kuat di masyarakat, namun mulai terjadi pergeseran padangan di beberapa tempat untuk meletakkan substansi Imam Mesjid sebenarnya atas pemenuhan kebutuhan seluruh dimensi kehidupan manusia.
“Respon terhadap Imam Mesjid tidak lagi sesederhana itu, karena Imam Mesjid berinterdependensi kepada seluruh dimensi kehidupan manusia. Kehadiran Imam Mesjid berelasi kuat dengan aspek agama, sosial, politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan lainnya. Imam Mesjid dapat menciptakan ikatan fungsional dan spiritual dalam ragam aspek kehidupan manusia dimaksud,”tegas tokoh Melayu ini.
Agen Transformasi Masyarakat, lanjutnya,
menyadari besarnya fungsi Imam Mesjid dalam aspek kehidupan manusia, menempatkan posisi strategis yakni sebagai agen transformasi masyarakat/agen perubahan (agen of change) memiliki kekuatan besar, tidak hanya sebatas otoritas keagamaan dalam hal pemimpin shalat. Tetapi juga pemimpin umat dan pembina keagamaan memiliki peran luas dalam kehidupan sosial dalam hal menjaga bangsa berkeadaban.
“Aspek politik misalnya, ruang Imam Mesjid dapat menjadi diplomasi politik. Imam Mesjid melalui media mesjid mampu membangun proses interaksi komunikasi politik dengan jemaah. Imam Mesjid bisa melakukan pendidikan politik sehat kepada jemaah. Seperti memberikan ajakan hak pilih yang tepat, meredam konflik politik dan membangun politik harmonis tanpa kekerasan guna mencapai tujuan politik nasional,”ucap Prof Nispul.
Karakter seorang Imam adalah tampilan orang baik bagi warga sekitarnya dan figur panutan. Modal sosial dimiliki Imam Mesjid berpotensi besar membangun solidaritas, kepercayaan dan kerjasama antar warga. Imam Mesjid dapat menciptakan hubungan emosional erat dengan warga serta tokoh masyarakat seperti kepala desa dan lainnya.
“Disini Imam Mesjid mampu menjadi perekat sosial menjaga keharmonisan jemaah dan merawat persatuan di tengah masyarakat. Tidak kalah pentingnya relasi aspek ekonomi. Imam Mesjid sebagai pemimpin komunitas mampu berkonstribusi terhadap kesejahteraan sosial ekonomi,”tambahnya.
Otoritas moral dimiliki Imam dan kedekatan emosional dengan jemaah dapat mendorong terciptanya ekosistem ekonomi Islam. Melalui khutbah, kultum, kajian Imam dapat mengedukasi jemaah tentang pentingnya mencari rezeki halal, optimalisasi dana zakat, infak, sedekah dan lainnya. Sejarah juga telah menunjukkan Rasulullah dan sahabat menjadikan Mesjid pusat ekonomi (Baitul Mal) dan pengaturan strategi ekonomi.
“Imam Mesjid dapat memfungsikan dirinya sebagai penggerak ekonomi termasuk status ekonomi Imam itu sendiri. Terjadinya pergeseran pandangan bahwa eksistensi imam Masjid di posisikan sebagai strategis, sebab dia memiliki peran penting ditengah masyarakat, yakni agen of change,”katanya.
Dalam aspek politik, lanjutnya, imam Masjid memiliki peran sebagai diplomasi politik dengan membangun etika politik yang baik.
Dalam aspek sosial, kehadiran imam masjid dapat menempatkan posisinya sebagai perekat di tengah masyarakat, dengan mengedepankan karekteristik yang baik,
Lebih jauh disampaikan Guru Besar UIN SU ini, bahwa realisasi antara imam Masjid dan IPIM sebagai katalisator percepatan bagi pergerakan sosial jemaah dan masjid memiliki peran penting bagi tumbuh berkembangnya kehidupan sosial, ekonomi umat menjadi lebih baik.
“Karena itu IPIM berkolaborasi dengan para imam Masjid, guna mewujudkan tujuan yang menjadi dasar kekuatan bagi hadirnya kemaslahatan bagi umat dan masyarakat,” terang tokoh Melayu ini.
Menteri Agama RI Prof Dr KH Nasaruddin Umar berpesan secara daring mengingatkan agar imam masjid nantinya memberikan gagasan besar bagi umat dan peradaban, sekaligus perekat hubungan sosial ditengah masyarakat.
Pelantikan dan pengukuhan PW IPIM Sumatera Utara didahului dengan seminar internasional menghadirkan Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat IPIM Dr KH Moch. Taufiqurrahman, SQ, MA para pakar lintas negara. Hadir dalam pelantikan dan pengukuhan IPIM Sumatera Utara Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Sumatera Utara H. Ahmad Qosbi, S.Ag, MM dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara.
