Mengetuk Pintu di Ujung Pengabdian


Oleh Rizal 4G|Sepuluh tahun links hukum mengikat raga,
Di tanah pengabdian, janji setia dijaga.
Kini Agustus telah berlalu, ikatan itu telah usai,
Langkah baru bersiap mengayuh, menjemput mimpi yang mulai melambai.

​Sang Pemimpin Tertinggi di kampus seberang,
Pernah memberi restu dengan senyum benderang.
Surat sakti digenggam, izin daerah pun dikantongi,

Menembus birokrasi provinsi yang sempat berliku tinggi.
​Namun di koridor menara gading yang sunyi,
Langkah kaki ini tiba-tiba terhenti.
Ketika lembar-lembar berkas telah lengkap terpenuhi,
Mengapa kepastian justru kian menjauh dan bersembunyi?

​Pintu-pintu ruang tengah kini mendadak rapat,
Pesan-pesan digital tak lagi mendapat argumen dan debat.
Di satu meja tertahan tela’ah yang tak kunjung terurai,
Di meja lain, keengganan membuat harapan seolah mulai terurai.

Baca Juga :  Katanya Merdeka

​Ada lelah yang menggelayut di pundak sang abdi,
Bukan karena jarak Aceh Timur ke kota tujuan yang hendak ditiup nadi,
Tapi karena buah hati telah bersiap di gerbang sekolah baru,
Menanti kepastian ayah yang sedang bertarung melawan ragu.

​Ollah, jika jalan lurus ini sengaja disendat,
Biarlah doa-doa mengetuk pintu langit yang lebih lekat.
Mencari arah, mengetuk pintu pusat yang lebih tinggi,
Sebab keadilan takkan membiarkan ketulusan mati berdiri.

-->