Harga Bawang Merah Melonjak, KPPU Sidak Pasar di Medan

sentralberita | Medan ~ Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) wilayah I melaksanakan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke sejumlah pasar di Medan untuk mencari tahu penyebab harga beberapa komoditi yang mengalami kenaikan sebelum lebaran seperti harga bawang merah meroket.

Kepala Kanwil I KPPU Ridho Pamungkas sidak ke Pasar Petisah Medan pukul 08.00 WIB bersama tim Satgas Pangan lainnya antara lain Manajer Operasional Perum Bulog Sumut Erlinawita Rambe dan juga pengamat ekonomi Gunawan Benjamin.

Di sana Ridho dan Tim Satgas Pangan lainnya berdialog dengan pedagang beras, gula pasir dan kinyak goreng, pedagang sayur (bawang merah, cabai merah, bawang putih dan tomat). Kemudian lanjut ke pedagang ayam dan daging sapi.

Ahua Lim, salah seorang pedagang beras, minyak goreng dan gula pasir kepada Ridho menuturkan harga beras rata+rata turun Rp500 per kg. Harga minyak goreng pun biasa saja, minyak curah dibandrol Rp16.000 per kg. Harga gula pasir Rp17.000 per kg, masih di bawah harga eceran tertinggi (HET).

Menurut Ahua, permintaan gula pasir jelang Ramadhan kemarin justru kurang, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. “Yang banyak permintaan jelang Ramadhan kemarin justru beras dan minyak goreng,” katanya.

Ahua menambahkan sejak Covid-19 sampai sekarang penjualan sepi. “Lima tahun lalu sebelum Covid, kami bisa buka sampai 24 jam. Sekarang jam 2 siang aja sudah sepi pembeli,” ungkap Ahua.

Pedagang sayur mayur, ibu Mia kepada Ridho mengatakan harga cabai merah sudah mulai turun jadi Rp52.000 per kg, sebelumnya Rp40.000 per kg. Begitu pula harga bawang merah jadi Rp50.000-Rp52.000 per kg, sebelumnya pernah mencapai Rp60.000 per kg. Harga bawang putih Rp38.000 per kg dan tomat Rp14.000 per kg.

“Harga bawang merah udah mulai turun,” katanya.

Sedangkan harga telur ayam Eropa Rp1.700-Rp2.000 per butir namun telur yang pakai cap Omega 3 Rp3.000 per butir. Harga telur bebek Rp2.5000 per butir. Kalau satu papan (30 butir), harganya Rp55.000 dan harga telur bebek Rp75.000 per satu papan.

Bayu, pedagang daging menyebut harganya Rp130.000 per kg, jelang lebaran kemarin Rp150.000 per kg. “Tapi penjualan kurang, pembeli sepi sejak tiga bulan terakhir,” katanya.

Sementara itu, harga ayam potong Rp39.000 per kg. Supri, pedagang ayam itu menyebut harga ayam mahal sejak jelang lebaran karena pasokan yang menipis.

Usai berdialog dengan pedagang, Kepala Kanwil I KPPU Ridho Pamungkas kepada wartawan mengatakan fluktuatif harga pangan ini memang fenomena nasional.

Untuk bawang putih, katanya, dalam beberapa hari terakhir stabil di Rp38.000-Rp40.000 per kg. “Nanti kita cek lagi ke gudang, apakah susah mendapatkan barang atau memang ada penahanan pasokan di sana,” katanya.

Sedangkan harga bawang merah di Rp50.000-Rp52.000 per kg, mulai menurun meski tergolong mahal dibanding sebelumnya.
“Kata pedagang, bawang merah diperoleh dari Jawa. Memang udah lama fenomena ini. Apakah ada kaitan dengan banjir di Brebes. Ini terus kita kaji,” kata Ridho

Untuk gula pasir harganya Rp17.000 per kg, di bawah prediksi. “Salah satu penahan harga karena daya beli masyarakat. Dari sisi inflasi masih tertahan,” jelas Ridho.

Untuk beras memang ada relaksasi pembelian beras. Meskipun semalam panen raya, tapi harga tetap naik di kilang. Dari sisi pertanian, mendorong produktivitas
petani memilih untuk menjual dan menanam komoditi lain. “Jadi panen raya tak membuat signifikan penurunan harga beras,” ungkapnya.

Dari sisi pertanian, mendorong produktivitas
petani memilih untuk menjual dan menanam komoditi lain.

Harga ayam bertahan di angka Rp39.00 sejak jelang lebaran. Pedagang bilang karena kekurangan suplai. Kalau minta 100 misalnya terpenuhi separuhnya.

Manajer Operasional Perum Bulog Sumut Erlinawita Rambe menambahkan kalau stok pangan yang dikuasai Bulog aman dan cukup
“Kemarin memang ada kenaikan harga beras tapi sekarang sudah stabil,” katanya.

Wita, panggilan akrabnya mengatakan harga pembelian pemerintah (HPP) sekarang Rp11.300 per kg, sebelumya Rp10.500 per kg.
Harapannya HPP balik lagi bisa turun sehingga masyarakat bisa bergairah untuk belanja bantuan tahap kedua. (wie)