Inovasi SPUTALERT, Solusi Portabel untuk Mendukung Pengumpulan Sputum dan Pemeriksaan Tuberkulosis

sentralberita|Medan ~ Upaya menghadirkan teknologi kesehatan yang praktis terus dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Salah satunya melalui pengembangan SPUTALERT, perangkat portabel yang dirancang untuk membantu proses pengumpulan dahak sekaligus mendukung pembacaan hasil tes cepat tuberkulosis berbasis teknologi kecerdasan buatan.
SPUTALERT dikembangkan dengan menggabungkan nebulizer piezoelektrik, sistem pengumpulan sputum, kamera, pencahayaan LED, Raspberry Pi, serta teknologi pengolahan citra dan Convolutional Neural Network (CNN). Konsep tersebut memungkinkan berbagai komponen yang sebelumnya bekerja secara terpisah diarahkan untuk menjadi satu sistem yang lebih terintegrasi.
Inovasi ini mengangkat judul “Perangkat Portabel Pengumpul Dahak Berbantu Nebulizer Piezoelektrik Terintegrasi Pembaca Tes Cepat Tuberkulosis Berbasis Convolutional Neural Network.” Pengembangan dilakukan dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026
Tim yang berada di balik pengembangan SPUTALERT terdiri atas Ferdiansyah Putra, Tri Yudha Zapari, Uzdril DiyauI Haq, Raissa Elvina, dan Muhammad Aga, dengan Assoc. Prof. Dr. dr. Humairah Medina Liza Lubis, M.Ked (PA)., Sp.PA. sebagai dosen pendamping.
Salah satu bagian penting dalam perangkat ini adalah nebulizer piezoelektrik. Komponen tersebut dikembangkan untuk menghasilkan aerosol saline yang dapat membantu proses induksi sputum. Kehadiran sistem tersebut diarahkan untuk membantu mengatasi salah satu kendala dalam pemeriksaan TB, yaitu ketika pasien mengalami kesulitan dalam mengeluarkan dahak yang dibutuhkan sebagai spesimen pemeriksaan.
Selain membantu proses pengumpulan sputum, SPUTALERT juga mengembangkan sistem pengambilan dan pengolahan citra. Kamera, LED illumination, Raspberry Pi, serta komponen pendukung telah dirakit sebagai bagian dari sistem elektronik perangkat. Pada sisi perangkat lunak, teknologi AI dikembangkan untuk mendukung interpretasi citra hasil pemeriksaan TB.
Proses pengembangan SPUTALERT dilakukan secara bertahap. Tim memulai dengan studi literatur mengenai tuberkulosis, citra sputum, pengolahan citra, kecerdasan buatan, dan pengembangan sistem. Setelah itu dilakukan perancangan arsitektur perangkat, perakitan komponen, integrasi sistem, serta pengujian dan evaluasi untuk mengetahui kinerja masing-masing modul.
Hingga tahap saat ini, pengembangan SPUTALERT telah mencapai sekitar 95 persen. Capaian tersebut mencakup perkembangan pada bagian nebulizer, sistem elektronik, kamera, dan pemrosesan citra. Sementara itu, beberapa komponen seperti rapid test TB, wadah sputum, casing, integrasi keseluruhan perangkat, dan pengujian menyeluruh masih dalam proses penyelesaian.
Penggunaan Convolutional Neural Network (CNN) menjadi salah satu aspek teknologi yang dikembangkan dalam SPUTALERT. Sistem tersebut diarahkan untuk membantu klasifikasi hasil tes cepat TB berdasarkan citra, sehingga perangkat nantinya dapat memberikan dukungan dalam proses interpretasi hasil pemeriksaan melalui sistem yang terintegrasi.
Melalui inovasi ini, tim berharap SPUTALERT dapat berkembang menjadi perangkat kesehatan yang ringkas, portabel, dan terintegrasi. Tidak hanya membantu proses pengumpulan spesimen, perangkat juga diarahkan untuk mendukung proses pembacaan hasil pemeriksaan dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan.
Tahap pengembangan berikutnya akan difokuskan pada penyelesaian komponen yang masih dalam proses, integrasi seluruh modul, serta pengujian secara menyeluruh. Hasil pengujian nantinya akan menjadi dasar untuk melakukan penyempurnaan perangkat sebelum memasuki tahap dokumentasi, publikasi, dan penyusunan laporan akhir.
