Aktivis IMM Sumut Ajak IMMAWATI Kuatkan Perjuangan Menuju Muktamar IMM XXI

sentralberita| Menjelang pelaksanaan Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) XXI yang dijadwalkan berlangsung pada 21–23 Januari 2027 di Kalimantan Selatan, perhatian terhadap keterwakilan perempuan dalam kepemimpinan IMM kembali menjadi sorotan. Dari 52 calon formatur tetap yang dihasilkan melalui Tanwir XXXIV di Tangerang, Banten, hanya enam IMMawati yang berhasil masuk dalam daftar tersebut.
Keenam IMMawati itu adalah Nia Nur Pratiwi (DPD IMM Jawa Tengah), Wilda Kumala Sari (DPP IMM), Devi Annisa (DPD IMM Sulawesi Selatan), Iefone Shiflana Habiba (DPD IMM Daerah Istimewa Yogyakarta), Fitri Hanum Salsabiella (DPD IMM Banten), dan Khosiyatika (DPD IMM Jawa Tengah).
Menanggapi kondisi tersebut, Tamara Rizki Wakil bendahara DPD IMM Sumatera Utara, menyampaikan harapannya agar Muktamar XXI menjadi momentum untuk memperkuat kepemimpinan perempuan sekaligus memastikan bahwa IMMawati memperoleh ruang yang adil dalam menentukan arah gerakan dan kepemimpinan organisasi.
“Enam IMMawati dari 52 calon formatur bukan sekadar persoalan angka. Ini harus menjadi bahan refleksi bersama tentang sejauh mana organisasi memberikan ruang bagi kader perempuannya untuk memimpin. IMMawati bukan pelengkap dalam struktur organisasi, melainkan bagian utuh dari kekuatan intelektual dan perjuangan IMM,” tegas Tamara.
Ia juga mengingatkan agar pengalaman pahit dalam dinamika Muktamar XX IMM di Palembang tidak kembali terulang. Menurutnya, muktamar seharusnya menjadi ruang bermusyawarah, merawat persaudaraan dan melahirkan kepemimpinan yang bermartabat bukan ruang yang justru melemahkan perjuangan kader perempuan.
“Jangan sampai luka yang pernah terjadi di Muktamar XX IMM di Palembang kembali menjadi sejarah yang harus kita tangisi. Kita tidak boleh membiarkan perjuangan IMMawati berjalan sendiri-sendiri. Sudah saatnya kita mengusahakan ini bersama, saling menguatkan dan menyatukan langkah. Kita boleh berbeda wilayah, pengalaman dan pilihan, tetapi kita harus tetap satu napas perjuangan untuk memastikan IMMawati memiliki tempat yang layak di DPP IMM,” ujarnya.
Tamara menegaskan bahwa solidaritas IMMawati tidak boleh berhenti pada dukungan simbolis. Solidaritas harus diwujudkan melalui komunikasi lintas wilayah, konsolidasi yang sehat, serta komitmen bersama untuk memperjuangkan kepemimpinan perempuan yang berintegritas dan berperspektif kesetaraan.
“Muktamar bukan hanya tentang siapa yang terpilih, tetapi juga tentang nilai apa yang kita perjuangkan. Mari pastikan Muktamar XXI menjadi ruang pembuktian bahwa IMM sungguh-sungguh berpihak pada kaderisasi, keadilan dan kesetaraan. Perjuangan ini bukan milik satu orang atau satu daerah melainkan tanggung jawab kita bersama,” tutup Tamara. (Tamara)
