Ternyata Meluapnya Sungai Bahilang dan Sungai Padang di Tebing Tinggi Setiap Tahun, Namun Ini yang Terbesar

sentralberita|Medan~Banjir yang diakibatkan meluapnya Sungai Bahilang dan Sungai Padang di Kota Tebing Tinggi bukan yang pertama kalinya. Setiap tahun terjadi, namun kali ini yang terbesar sejak 2001. Pada saat itu, banjir menggenangi hingga setinggi dada orang dewasa.

Nanang (59) adalah saksi mata banjir yang terjadi 18 tahun itu. Saat itu banjir terjadi pada malam hari. Saat itu, hujan deras terjadi sejak dua hari berturut-turut. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh masyarakat kecuali barharap-harap cemas agar tidak terjadi banjir.

“Soalnya wakti itu, banyak rumah-rumah yang didirikan di bantaran sungai ini,” katanya saat diwawancarai di depan Pasar Kain di Jalan Jend. MT Haryono, di Kelurahan Pasar Gambir, Kecamatan Tebing Tinggi KOta, Tebing Tinggi.

Keseharian Nanang di kawasan itu membuka usaha servis jam tangan dan batu akik. Sudah puluhan tahun dia dia menjalaninya. Banjir di tahun 2001 itu lah yang menurutnya paling besar. Akibat banjir saat itu, perekonomian terganggu. Banyak toko yang tutup lantaran barang-barang juga terrendam air.

Baca Juga :  Pelepasan Puluhan Jamaah Haji BANK Sumut Binjai Berjalan Sukses, Doakan Keselamatan Pemberangkatan dan Kembali dari Tanah Suci

“Coba bayangkan, kalau banjir itu setinggi dada. Toko itu, setengah pintunya terrendam. Barang-barang di toko orang itu juga banyak yang terrendam. Begitu juga jalan besar ini, susah dilalui,” katanya.

Dampak banjir itu terrasa selama satu minggu. Pasalnya, banyak sampah dan lumpur yang masuk ke dalam rumah maupun toko. Begitu juga di jalan-jalan raya juga banyak sampah yang tersangkut. “Hanya sebagian saja toko yang sudah buka. Soalnya mereka harus memperbaiki yang rusak, beres-beres,” katanya.

Hal serupa diungkapkan Hermawan (38). Pemilik toko kelontong tersebut mengatakan, banjir menjadi momok tersendiri bagi orang yang membuka usaha di sekitar Sungai Bahilang. Sungai itu hanya berjarak sekitar 30 meter saja dari tokonya. “Apalagi kalau di Siantar juga hujan deras, pasti di sini limpahannya,” katanya.

Menurutnya, yang menjadi persoalan tidak hanya barang-barang menjadi basah. Banyak aktifitas ekonomi yang terganggu akibat banjir. “Ya lihat sendiri lah. Kalau banjir, orang lewat di depan toko ini harus melintasi8 banjir. Mendingan lah kalau hanya sebetis, dulu itu tingginya hampir setengan badan orang dewasa,” katanya.

Baca Juga :  Komitmen Jaga NKRI, Pemuda Pancasila Sumut Peringati Maulid Nabi,

Diberitakan sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tebing Tinggi mencatat hingga pukul 14.00 wib, Senin (16/12/2019) banjir akibat meluapnya Sungai Bahilang dan Sungai Padang mengakibatkan 2.350 kepala keluarga terdampak.

Banjir akibat luapan ke dua sungai itu terjadi sejak Senin dini hari, sekitar pukul 02.00 wib di kecamatan Tebing Tinggi Kota, Padang Hulu, Bajenis, Rambutan. “Jumlah korban yang terdampak banjir 2.350 kepala keluarga atau 11.361 jiwa,” katanya.

Angka tersebut merupakan laporan dari kelurahan yang terdampak banjir sampai pukul 14.00 wib dan masih bersifat sementara. “Seperti dari Padang Hilir, baru-baru ini juga terdampak. Banjir juga sebanyak 2 kelurahan. Anggota kita masih mendata dan di lapangan masih mendistribusikan logistik makanan siap saji,” katanya.(SB/01).

-->