IMM Dorong Pemprov dan DPRD Sumut Segera Selaraskan Perpres 111/2025 ke Regulasi Daerah

sentralberita|Medan~Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Sumatera Utara meminta Pemerintah Provinsi dan DPRD Sumatera Utara untuk segera merumuskan kebijakan lokal pasca-terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029.

Dalam regulasi strategis nasional yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto tersebut, negara secara resmi mengategorikan gerakan penyebaran budaya LGBTQ sebagai salah satu bentuk ancaman nonmiliter (nirmiliter) terhadap aspek sosial-budaya dan kepribadian bangsa.

Ketua Umum DPD IMM Sumatera Utara, Rahmat Taufiq Pardede, menegaskan bahwa lahirnya Perpres 111/2025 merupakan instruksi konstitusional yang harus segera diterjemahkan oleh pemerintah daerah ke dalam produk hukum lokal, seperti Peraturan Daerah (Perda).

Menurutnya, isu ini tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai perdebatan moralitas biasa di ruang privat, melainkan sudah menyangkut agenda strategis ketahanan nasional.

“Ketika dokumen doktrin pertahanan negara lima tahun ke depan menempatkan penyebaran budaya tersebut sebagai ancaman nirmiliter, artinya ini menyangkut proteksi kedaulatan sosial dan masa depan generasi. Sumatera Utara wajib berdiri di lini depan untuk menyelaraskan aturan ini guna membentengi daerah,” ujar Rahmat dalam keterangan tertulisnya di Medan, Senin (6/7).

Rahmat memaparkan, urgensi pembentukan regulasi di tingkat daerah sudah berada di titik krusial jika berkaca pada dinamika sosiologis di Sumatera Utara saat ini. Penetrasi digital yang masif tanpa adanya filter hukum lokal dinilai telah menyuburkan komunitas-komunitas daring berbasis orientasi seksual menyimpang di media sosial, yang kini memiliki ribuan pengikut di wilayah Medan dan sekitarnya.

“Sumut ini adalah pintu gerbang utama Indonesia bagian barat yang kaya akan nilai adat, religiositas, dan kearifan lokal. Jika ada kekosongan hukum di tingkat daerah dalam membentengi derasnya arus disrupsi budaya global ini, kita khawatir benturan sosial di akar rumput tinggal menunggu waktu,” lanjutnya.

-->