Saat Cahaya Mulai Menyentuh Hati

Karya: Rizal 4G|sentralberita~Di kedalaman dada yang sunyi dan pasrah,
Ada tanda-tanda halus saat cahaya Allah mulai merekah.
Bagai embun pagi yang menyapu gelisah,
Mengubah sekeping hati menjadi jernih dan indah.

​Kini, lidah dan hati begitu mudah mengingat-Nya
Tanpa perlu dipaksa, nama-Nya mengalir dalam dada.
Dalam duduk, berdiri, terbaring, atau melangkah di dunia,
Zikir menjadi napas, penenang jiwa yang dahaga.

​Kesendirian tak lagi melahirkan rasa sepi
Justru dalam sunyi, riuh dunia berhasil ditepi.
Ada kenyamanan yang utuh saat bersujud memberi bakti,
Sebab di setiap hembusan napas, kehadiran-Nya terasa sangat dekat di hati.

​Maksiat kini menjelma menjadi beban yang berat
Dosa sekecil apa pun mendatangkan sesal yang mengikat.
Hati menjadi peka, gelisah jika melangkah salah arah,
Sebab takut kehilangan rida dari Pemilik Semesta.

Baca Juga :  Kahiyang Ayu Dukung SFB 2025 sebagai Panggung Talenta Kreatif Sumut

​Langkah kaki kian condong pada kebaikan yang tulus
Sajadah, sedekah, dan lembaran Al-Qur’an menjadi pengutus.
Hari-hari dirajut agar membawa manfaat yang lurus,
Bagi diri sendiri dan sesama, sebelum waktu tergerus.

​Dunia tetap dijalani, namun tak lagi menggenggam hati
Ia hanya jembatan, perantara menuju keabadian yang pasti.
Kehilangan harta tak lagi membuat jiwa mati,
Sebab tahu, semua titipan akan kembali ke haribaan Ilahi.

​Jiwa tumbuh menjadi lembut, penuh kasih dan rahmat
Tak ada lagi tempat bagi dendam, iri, atau dengki yang pekat.
Mudah memaafkan, membalas keburukan dengan khidmat,
Sebab di dalam dada hanya ada cinta yang selamat.

​Takdir diterima dengan kelapangan yang utuh
Saat badai ujian datang, lisan tak lagi mengeluh.
Ada rida yang kokoh, percaya bahwa ketentuan-Nya tak pernah runtuh,
Sebab setiap peristiwa adalah pelajaran bagi hamba yang bersimpuh.

Baca Juga :  Dari Layar Lebar ke Gerakan Nyata: Nobar Film The Sun Gazer Dirangkai Sarasehan Koperasi se-Kota Medan

​Mata lebih sibuk menatap ke dalam diri sendiri
Bermuhasabah, menghitung aib yang belum terbenahi.
Tak ada lagi waktu untuk menghakimi dosa kanan dan kiri,
Sebab menyadari, diri sendiri masih butuh banyak diampuni.

​Hati kian rindu pada perjumpaan yang hakiki
Kehidupan akhirat terasa nyata, melampaui dunia yang fana ini.
Kerinduan kepada Allah menjadi puncak dari segala mimpi,
Menanti saat pulang dengan jiwa yang tenang dan suci.

​Ketenangan hakiki tak pernah lahir dari gemerlapnya dunia,
Melainkan dari hati yang mulai disapa oleh cahaya-Nya.
Saat ego meluntur dan berserah menjadi jalan utama,
Di sanalah engkau menemukan surga sebelum surga yang sebenarnya.

-->