Dugaan Pencemaran Sungai Bahilang, Ketua Komisi IV DPRD Sergai: Segera Lakukan Monitoring

sentralberita | Serdang Bedagai – Dugaan pencemaran aliran Sungai Bahilang di Dusun I, Desa Dolok Merawan, Kecamatan Dolok Merawan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, mendapat perhatian serius dari Komisi IV DPRD Sergai.

Pencemaran tersebut diduga berkaitan dengan limbah yang berasal dari aktivitas pabrik pengolahan karet (crumb rubber) milik PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Kebun Gunung Para.

Ketua Komisi IV DPRD Sergai, Syamsudin, menegaskan pihaknya akan segera turun langsung ke lapangan guna menindaklanjuti laporan masyarakat terkait kondisi sungai yang diduga tercemar tersebut.

“Kami sudah menerima laporan dari warga dan akan segera melakukan monitoring ke lokasi untuk memastikan kondisi sebenarnya. Saat ini kami belum bisa menyimpulkan, namun peninjauan akan segera dijadwalkan,” ujar Syamsudin, Sabtu (25/4/2026).

Syamsudin menjelaskan, Komisi IV DPRD Sergai memiliki fungsi pengawasan serta menindaklanjuti aspirasi masyarakat, khususnya di bidang kesejahteraan rakyat, termasuk kesehatan dan lingkungan hidup.

Baca Juga :  Kapolres Sergai Cek Langsung Kesiapan Layanan Publik, Tekankan Peningkatan Fasilitas dan Disiplin Personel

Sebelumnya, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman serta Lingkungan Hidup (Perkim LH) Sergai telah lebih dahulu melakukan peninjauan ke lokasi pada Jumat (24/4/2026).

Peninjauan tersebut dilakukan sebagai respons cepat atas keluhan warga yang semakin meluas.

Dalam kegiatan itu, tim melakukan pengecekan langsung di beberapa titik aliran Sungai Bahilang sekaligus mengambil sampel air untuk diuji di laboratorium.

Pengambilan sampel dilakukan guna memastikan ada atau tidaknya kandungan limbah berbahaya di dalam air sungai.
Keluhan masyarakat mencuat setelah terjadi perubahan kondisi air sungai, yang diduga tercemar limbah.

Warga juga mengaku mengalami dampak kesehatan berupa gatal-gatal pada kulit setelah menggunakan air sungai tersebut. Kondisi ini disebut telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Baca Juga :  Jurnalis FC Juara Dambaan Tour Fourfeo U40 Usai Tumbangkan Old Crack Lewat Drama Adu Penalti

Sungai Bahilang sendiri selama ini menjadi sumber utama kehidupan warga setempat. Selain digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sungai tersebut juga dimanfaatkan sebagai sumber mata pencaharian, seperti aktivitas pencarian pasir.

Dugaan pencemaran ini pun menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, mengingat ketergantungan warga terhadap keberadaan sungai tersebut sangat tinggi.

Pihak Dinas Lingkungan Hidup menyatakan bahwa hasil uji laboratorium terhadap sampel air yang telah diambil akan menjadi dasar utama dalam menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan adanya pelanggaran terhadap aturan lingkungan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Kebun Gunung Para belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pencemaran tersebut. (SB/ARD)

-->