Mulai Naik Sepeda Hingga Motor Berjualan Rujak Puluhan Tahun, Akhirnya Jadi Tamu Allah ke Tanah Suci

sentralberita|Medan ~  Abdul Rasyid (76), tamu Allah asal Kabupaten Serdang Bedagai yang tergabung dalam Kelompok 16 Embarkasi Medan punya kisah inspiratif.
Sebagai penjual rujak di sekitaran Sei Rampah sejak tahun 1976, ia menjalani hidup yang penuh dinamika hingga akhirnya bisa berangkat menunaikan ibadah haji di tanah suci.

“Saya mulai berjualan di hari Senin bulan Mei tahun 1976. Mulai dari sepeda selama 32 tahun dan akhirnya bisa membeli sepeda motor,” ungkapnya setelah selesai melaksanakan Pelayanan Satu Atap di Asrama Haji Medan, Rabu (29/5/2026).

Rasyid memberangkatkan istrinya terlebih dahulu berangkat haji tahun 2007. Ia tunda keberangkatan untuknya sendiri karena hasil berjualan rujak hanya cukup untuk biaya istrinya. Sepulang istrinya, dengan komitmen dan upaya maksimal, ia kumpulkan lagi dana untuk berangkat haji.

“Alhamdulillah tahun 2012 saya mendaftar haji melalui dana talangan. Dari situ, saya lebih giat lagi untuk berjualan rujak keliling-keliling Sei Rampah, biasa saya berjualan di Puskesmas tanjung Beringin mulai jam 10 pagi. Setelah itu baru berkeliling,” ucapnya.

Akhirnya namanya muncul untuk keberangkatan tahun 2021. Sedih baginya karena tidak bisa berangkat karena Covid-19. Saat itu, aturan umur menghalanginya untuk berangkat. Padahal, uang untuk ongkos naik haji saat itu terpenuhi dari rezeki berjualan rujak.

“Ya tidak jadi berangkat karena pandemi Covid. Ada aturan lansia di atas 70 tahun tidak boleh berangkat karena alasan keselamatan kesehatan,” kata Ayah 7 anak tersebut.

Lalu namanya muncul untuk keberangkatan tahun 2024. Dengan penuh rasa syukur, ia berdoa semoga bisa berangkat pergi haji dengan kemampuan yang ia miliki saat itu terutama kemampuan ibadah, kesehatan, dan finansial.

“Saya ikut manasik beberapa kali. Lalu saya tanya kepada teman tentang biaya haji di tahun 2024. Saat itu presiden belum mengumumkan. Makanya, saya semangat ikut manasik rutin,” tambahnya.

Biaya ongkos haji lalu diumumkan. Rasyid terkejut karena tidak seperti diharapkannya. Uangnya tidak cukup. Karena ongkos yang seyogyanya dipersiapkan berangkat 2021 yang lalu, karena kondisi dan kebutuhan hidup keluarga, sedikit demi sedikit tabungan itu berkurang.

“Saat itu, saya bingung. Kemana harus mencari uang tambahan untuk pelunasan. Jualan rujak di tahun-tahun ini sangat sulit. Keluarga juga tidak ada. Akhirnya saya putuskan untuk menarik uang haji dan memilih umrah saja. Namun, alasan itu ditentang Ketua Manasik Sei Rampah saat itu. Ia memberi opsi apakah terus mencari rezeki, atau ditunda saja dulu tahun berikutnya dengan harapan semoga rezeki saya bertambah dan bisa melunasi ongkos haji,” ujar Rasyid.

Jalan buntu menghalau keinginan, Rosyidpun pasrah. Ia tidak lagi ikut manasik haji. Setelah 3 pertemuan berlalu, teman sesama manasiknya mencari keberadaannya.

“Kawan-kawan pada bertanya kenapa saya tidak ikut manasik lagi. Padahal setiap hari masih berjualan. Saya cerita dengan teman saya itu bahwa saya tidak mampu melunasi. Saya sudah berdiskusi dengan keluarga agar menunda keberangkatan di tahun depan saja,” ungkapnya.

Tak disangka, jalan suci Rosyid untuk menunaikan haji terwujud. Ia berhasil melunasi ongkos haji berkat bantuan rekan sesama manasik yang berangkat tahun ini. Banyak bantuan yang didapat Rasyid padahal Rosyid tidak pernah meminta bantuan tersebut.

“Saya dipanggil teman saat berjualan di depan rukonya. Ia memberikan sejumlah uang untuk menambah biaya haji saya. Ia juga mengatakan besok akan ada yang memberi lagi. Ada yang memberi 11 juta, ada 5 juta, dan ada lagi sehingga terkumpul dan segera saya berangkat untuk melunasinya,” haru Rasyid menceritakan ini sembari mengeluarkan air mata.

Setelah itu ia kembali lagi ikut manasik dan akhirnya bisa sampai Asrama Haji Medan untuk segera menatap indahnya Masjidil Haram.

“Ini kehendak Allah. Selalu dalam doa saya bersyukur atas kesempatan ini. Saya juga berterima kasih kepada dermawan yang mau membantu. Bahkan ada orang yang tidak mau disebutkan namanya dan saya tidak kenal dengannya mau membantu. Saya sangat berterima kasih. Insya Allah sampai di Masjidil Haram, saya berdoa untuk kesehatan kita semua dan rezeki kita terus mengalir seperti air Zamzam yang tidak pernah habis,” ucap Rasyid.(SB/01/Hums).