Sejarah Islam dan Adat Budaya Angkola di Tapanuli Selatan

Oleh : DR. Suheri Harahap, M. Si

sentralberita | Medan ~ Tentang Islam masuk ke Tapsel perlu terus dikaji secara ilmiah, bukti artefak, arkeologi, sejarah manusia secara antropologi, adanya bagas godang, makam dll bukti adanya unsur-unsur kebudayaan. Adanya mesjid di sekitar Bagas Godang seperti di Bagas Godang Marancar adanya gereja disekitar Bagas Godang Hutaimbaru adalah simbol persatuan dan kedekatan agama diistilahkan dengan ‘hombar do adat dohot agama’, istilah hombar (dekat), tak bisa disatukan dan tak bisa dipisahkan, inilah nilai/norma/ideologi/prinsip kearifan lokal (local wisfom), seia sekata (sahata saoloan) dalam menjaga agama dan budaya. Lalu bagaimana sejarah Kerajaan dan sejarah masuknya Islam di Tapanuli Selatan?

Apa terjadi dalam sejarah, mari kita lihat sepintas (butuh penelitian mendalam). Islam masuk lewat Perang Padri (Sumarera Barat/Minang Kabau). Tuangkan Rao, dan banyak melibatkan Raja-Raja yang masuk Islam, Raja-Raja ikut Belanda (sekitar tahun 1903-1938, dan Tuanku Tambusai, Tuanko Rao saat Perang Padri, masuk ke Tapanuli Selatan). Mari kita lihat beberapa korelasi hubungan Kerajaan Pagaruyung di Sumateta Barat dengan Kerajaan Mandailing dan Angkola.

Begitu juga perjumpaan Islam dan Kristen di Tapanuli Selatan, sejarah ditulis untuk mengingatkan kita pada persoalan Perang Padri sebagai dasar dianggap masa kelam bagi hubungan Islam dan Batak. Beberapa riset akar konflik di Indonesia adalah faktor kesejarahan seperti konflik suku dan agama, tapi sangat berbeda dengan Islam di Tapsel dan Mandailing. Menurut Pulungan dalam risetnya Mandailing daerah kuat Islam dan Tapanuli Selatan kuat adat. Memori masa lalu, faktor kesejarahan (memori kolektif) Angkola harus digali tapi perlu re-interpretasi baru sesuai zaman. Persoalan akar konflik kedepan akan dipicu bukan faktor agama dan etnis tapi faktor ekonomi, politik. Sudah mulai terlihat tanah/lahan akan menjadi masalah baru bagi masa depan, karena itu perlu tata kelola dan pengakuan negara pada eksistensi masyarakatnya.

Beberapa diskusi juga menyebut sebelum perang padri sudah ada Islam di Mandailing yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok ekspedisi ke Nusantara mengambil kayu-kayu jati sekitar tahun (1403-1430) ke Indonesia bisa sekitar 1700-1800 an) dan nama Singkuang erat dengan nama China, Singkuang masuk Kerajaan Marga Daulay. Butuh riset mungkin sejarah Islam di Mandailing inilah yang banyak mempengaruhi Islam di Angkola, Raja-Raja Nasution, lubis, Daulay yang lebih dulu masuk Islam menyebarkan Islam ke Raja-Raja Harahap, Siregar dan Dalihan Na Tolu. Penyebaran Islam lewat Perang Padri banyak memakai panglima Perang Raja-Raja Angkola seperti Jatengger Siregar di Sipirok, Raja Gorga Harahap di Hutaimbaru- Angkola dalam menyebarkan Islam. Penyebaran agama lewat perkawinan dan kerjasama perdagangan.

Baca Juga :  Pentingnya Menerapkan Komunikasi Efektif di Era Digital

Beberapa tulisan sejarah pengislamam tanah Batak dan misionaris Kristen dengan penjajah dijadikan beban sejarah, mestinya ditulis peristiwa agar tidak terulang lagi dan fakta yang ada untuk pelajaran berdamai dengan masa lalu. Masuknya Islam ke Tapanuli Selatan, Islam masuk lewat jalur Perang Padri dan Kristen masuk lewat jalur penjajah dan budaya, ini butuh bukti-bukti sejarah yang harus terus dikaji. (Hutaimbaru dekat Bagas Godang ada Gereja GKPA/Gereja Angkola dan daerah Luat lain seperti Sipirok). beberapa daerah juga masuk lewat jalur budaya, Gereja Simalungun, Batak Toba, Nias dll). Perlawanan ke penjajah Belanda (Islam) dan yang berkawan dengan Belanda (Raja) termasuk sejarah Kekuriaan/pemerintahan zaman sebelum kemerdekaan.

Sejarah mesjid pertama di Tapsel baik di Padangsidimpuan Mesjid syekh Maulana Islam dan Sipirok berbeda sejarahnya dengan peristiwa masa tahun penjajahan, Mesjid Raya Sri Alam Dunia Sipirok, oleh Syekh Abdul Manan Siregar, (1833-1909), era Eks. Kekuriaan Bagas Godang Sipirok, Mesjid Syekh Zainal Abidin Harahap berdiri tahun 1880. (Ayahnya Sutan Maujalo II di Pudun Padang Sidempuan, saat itu (Baginda Mauludin menjadi Raja di Pudun, silsilah ini bisa dilihat darimana asal Raja ini, tentu kembali ke sejarah Luat di Kota Padangsidimpuan dulu yaitu berasal dari eks. Kekuriaan Harahap Ompu Toga Langit Losung Batu. Sejarah Mesjid erat dengan marga. Para tokoh-tokoh mengajarkan Islam lewat paham thareqat/tasawuf Naqsabandiyah). Mesjid di Tapsel sebagai pusat perlawanan Kristenisasi melawan Belanda tapi tidak sampai mengangkat senjata. Meski mayoritas muslim kaum minoritas tetap terlindungi.

Pembaharuan di dunia Islam seperti lahirnya tokoh-tokoh seperti Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal dll tahun 1871 dalam pemikirannya mempengaruhi dunia Islam. (untuk Indonesia pengaruh Muhammadiyah yang dibawa Ahmad Dahlan untuk pemurnian Islam di Jawa, untuk Minang Kabau dibawa Haji Miskin dkk sekembali dari tanah suci sebagaimana paham Wahabi di Arab pulang ingin memperbaiki praktek Islam yang bertentangan dengan ajaran Islam tahun 1803 dan Haji Abdul Karim Amrullah tahun 1925. Awal mula Perang Padri terjadi antara masyarakat adat Pagaruyung dengan tokoh Islam dan akhirnya menjadi Perang melawan Belanda. Pertentangan adat dan Islam? Saat ini kita butuh kajian antara Kerajaan Pagaruyung dengan Kerajaan Mandailing, Angkola?

Baca Juga :  Emak-Emak Jualan Ganja Ditangkap Polisi

Generasi Muda Memperkuat Adat dan Islam

Apa yang menjadi catatan adat dan budaya Angkola masih belum selesai karena sejarah Raja (adat) dengan Islam (tokoh Islam/ulama) apalagi kaum modernis Muhammadiyah yang masih menilai adat budaya, praktek adat bertentangan dengan agama. Ini perlu dikaji peristiwa budaya (Kerajaan) sebagai pelaku sejarah dan praktek budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam, jika ini terus dipersoalkan oleh generasi baru yang tak paham sejarah, akan terus dibuat masa kelam adat budaya Angkola sebagai ancaman bagi generasi muda bukan solusi untuk kemajuan.

Saya melihat perlu berdamai dengan masa lalu, bukan pertentangan aqidah (teologis/tauhid) yang terus-menerus dibawa ke anak cucu kita, tapi didepan ada masalah pembangunan yang secara berkelanjutan baik masyarakat, tanah, pekerjaan, hutan, tanah ulayat/milik kerajaan dll mengancam generasi kita. Butuh ikhtiar (istilah Islam Transitif, Islam Ke-Indonesiaan, Islam Nusantara yang melekat pada konteks sosial-budaya-sosial ekonomi, dan sosial-politik sesuai dengan konteks historisTapsel.

Apa yang menjadi problem agama dalam konteks saat ini adalah kehidupan yang harmonis tanpa diskriminasi budaya, agama, ras, isu-isu kesetaraan, hidup bersama tanpa kekerasan, perlindungan dan pengakuan pada kehidupan masyarakat yang sejak dulu ada, mari kita pikirkan langkah ekonomi, budaya di bumi dalihan na tolu agar tak tertinggal dan tergilas.

Program masyarakat Islam Tapsel menguatkan umat, ada program Baznas, Dewan Mesjid Indonesia. IZI (Iniasiatif Zakat), Ulil Albab, Baitul Makmur, AMCF, BMMSU, Rumah Zakat, Dewan Dakwah Islamiyah, PLN, PELINDO, BUMN, ada pendanaan untuk da’i dll. Apa program MUI, pesantren, Ormas Islam untuk kemajuan. Butuh strategi Islam di Tapsel menguatkan kehidupan masyarakat lingkar tambang, lingkar perusahaan sawit dll.

Untuk strategi budaya untuk kesejahteraan masih perlu dikaji. Islam dan Adat Budaya Angkola solusi bukan ancaman pembangunan. Hilangkan isu Kistenisasi dan Islamisasi masa lalu. Hidup damai antar etnis/suku (Angkola, Batak/Nias dan agama (Islam dan Kristen). Inilah budaya Dalihan Na Tolu sebagai lem perekat persatuan. Tugas pemerintah merawat kemajemukan, memberi rasa aman, damai, sejahtera, pendidikan, pembangunan berbasis HAM dll sesuai tujuan negara Pancasila. Wassalam. Implementasi ide dan program pembangunan berkelanjutan dan dialog G-20 atau R-20, merawat keberagaman Indonesia dan Tapanuli Selatan sebagai barometer. Horas. (Penulis adalah dosen UINSU)