Indeks Kualitas Siaran Infotainmen TV Masih Rendah

Acara Diseminasi Hasil Riset Indeks Kualitas Siaran TV “Infotainmen Budaya Selebriti dan Ranah Jurnalistik” yang digelar di aula Serbaguna lantai II FISIP USU Medan. Kamis (14/7/2022).(f-ist)

sentralberita | Medan ~ Hasil riset Indeks Kualitas Siaran Infotainmen TV di Indonesia masih tergolong rendah berada di bawah 2,8, tak pernah dapat indeks 3.

“Yang baik indeksnya 3, paling baik 4,” kata Yuliandre Darwis, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Kamis (14/7/2022).

Dia berbicara selaku keynote speakers pada Diseminasi Hasil Riset Indeks Kualitas Siaran TV “Infotainmen Budaya Selebriti dan Ranah Jurnalistik” yang digelar di aula Serbaguna lantai II FISIP USU Medan.

Hadir di sana Plt Dekan FISIP USU Hatta Ridho dan narasumber dosen FISIP USU Iskandar Zulkarnain dan Farida Hanim yang juga selaku Pengendali Lapangan Riset Indeks Kualitas Siaran Televisi).

Yuliandre mengatakan dari tahun ke tahun Indeks Kualitas Infotainmen TV tak pernah di atas angka 3, makanya sering infotainmen menghadapi beberapa masalah. “KPI tidak  mentolerir siaran yang mengupas pribadi orang seperti kekayaan seseorang maupun ungkapan barang-barang orang, tas dengan harga fenomenal diungkap di TV.

“Ini bisa membuat orang konsumtif. Saat ini juga banyak jurnalis dadakan yg disuruh kantornya untuk liputan infotainmen,” tuturnya.

Hasil riset infotainmen di TV, kata Yuliandre, ada tiga yakni 1. Kebermanfaat (kepentingan publik), 2. Privacy dan 3. Infotainmen yang sering menyiarkan masalah anak (perkembangan psikologis anak).

Di Korea Selatan, privacy tidak terlalu diungkap secara vulgar dan Komisi Penyiaran Korea Selatan juga tidak mentolerir pengungkapan pribadi. “Kalaupun ada, tapi dibungkus secara halus dan punya etika,” ungkapnya.

Bahkan di Korea Selatan, BTS dapat mewakili negaranya karena popularitas band tersebut yang mampu menghasilkan devisa hingga Rp76 triliun.

Menurutnya, kini ada hasil riset tentang kualitas siaran infotainmen kerjasama dengan 12 perguruan tinggi di Indonesia, termasuk dengan USU. Datanya disalurkan ke industri penyiaran dan Kota Medan merupakan salah kota diseminasi hasil riset tersebut.

“Mudah-mudahan dengan data ini masyarakat bisa memberikan kontribusi aktif. 

Apa yang harus diperbaiki dalam siaran televisi. Kini tak zamannya lagi saling menyalahkan,” tegasnya.

Tahun depan akan digelar Konvensi Penyiaran untuk  semua genre, bukan hanya TV tapi juga production house (PH) yang akan menghasilkan Roadmap Penyiaran TV. Tak ada lagi sinetron panjang kalau laris terus menerus seperti Tukang Bubur Naik Haji sampai 2.184 episode yang ditonton selama 8 tahun. Juga seperti sinetron Ikatan Cinta yang episodenya panjang.

“Di Korea Selatan, kalau sinetronnya bagus cukup sampai 16 episode saja, tak mau diperpanjang ceritanya,” ungkapnya.

Dosen FISIP USU Iskandar Zulkarnain menyebut siaran infotainmen bisa dikatakan produk jurnalistik kalau didalamnya ada memuat beberapa poin jurnalistik seperti  kontrol sosial.

“Infotainmen itu bisa jadi produk jurnalistik kalau pemberitaannya memenuhi kriteria jurnalistik. Kita masih budaya melihat/menonton belum membaca,” kata Iskandar.

Oleh karena itu, dia menggambarkan siaran TV Bill Cosby di Amerika yang mengungkap sebuah keluarga dengan ayah yang baik. Bahkan figur Cosby sempat menjadi ikon di Amerika sebagai ayah ideal, termasuk jadi panutan moral bagi banyak orang di dunia. Dari siaran Cosby itu, penonton jadi bisa terinspirasi jadi ayah yang baik juga buat keluarganya. 

Sebelumnya, Plt Dekan Fisip USU Hatta Ridho mengatakan FISIP USU yang ditunjuk sebagai tuan rumah diharapkan memiliki peran yang bisa dibagi dalam Universitas dan KPI. 

“Sebab penyiaran merupakan badan dari informasi secara global dan dari kegiatan ini diharapkan perilaku masyarakat bisa berubah,” sebut Hatta. (wie)