Cabdisdik Aceh Timur Copot Kepala SMA Negeri 1 Simpang Ulim Usai Aksi Protes Siswa

sentralBerita | Aceh Timur ~ Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Wilayah Aceh Timur mencopot Laina Fariyani, S.E., M.M., dari jabatannya sebagai Kepala SMA Negeri 1 Simpang Ulim setelah muncul gelombang aksi unjuk rasa dan mogok belajar yang dilakukan ratusan siswa sejak Jumat (23/10/2026).

Untuk memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berjalan, Cabdisdik menunjuk Henny Mahera Siregar, S.Pd., M.Pd., sebagai Pelaksana Harian (Plh.) Kepala SMA Negeri 1 Simpang Ulim, yang mulai bertugas pada Senin (26/10/2026).

Aksi protes bermula setelah para siswa mendapati sejumlah pohon peneduh di lingkungan sekolah ditebang menggunakan alat berat pada Jumat pagi. Sehari sebelumnya, pengurus OSIS menyebutkan bahwa siswa diminta pulang lebih awal karena adanya rencana pengerjaan saluran pembuangan air untuk mengantisipasi banjir di lingkungan sekolah.

Penebangan tersebut memicu kemarahan siswa lantaran pohon-pohon yang ditebang disebut telah tumbuh selama 10 hingga 15 tahun dan selama ini memberikan keteduhan di lingkungan sekolah. Protes kemudian berkembang menjadi aksi demonstrasi dan mogok belajar, yang rekamannya turut beredar di media sosial.

Persoalan itu juga berkaitan dengan keluhan terhadap pola kepemimpinan kepala sekolah. Berdasarkan laporan dan aspirasi yang dihimpun Wakil Ketua Komisi III DPRK Aceh Timur, Abdul Muthalib, terdapat dugaan persoalan komunikasi internal, termasuk intimidasi, ancaman mutasi guru, serta ucapan yang dinilai merendahkan tenaga pendidik di lingkungan sekolah. Keluhan tersebut menjadi bagian dari ketidakpuasan warga sekolah terhadap kepemimpinan Laina.

Sebelum dicopot, Laina Fariyani menjelaskan bahwa penebangan pohon dilakukan dengan pertimbangan keselamatan dan penataan lingkungan sekolah. Ia menyebut akar pohon dikhawatirkan merusak lantai serta fondasi bangunan, sementara dedaunan yang menumpuk dinilai menyumbat saluran air dan berpotensi menyebabkan banjir. Cabang pohon yang mendekati jaringan listrik juga disebut berisiko membahayakan keselamatan.

Laina turut menyampaikan bahwa penataan tersebut mengacu pada arahan Cabdisdik Aceh Timur. Lahan yang telah dibersihkan, menurut rencananya, akan dimanfaatkan untuk lapangan olahraga, termasuk futsal, serta ditanami kembali dengan pohon buah-buahan seperti mangga dan rambutan.

Kepala Cabdisdik Wilayah Aceh Timur, Rahmatsah Putra, membenarkan adanya arahan penataan saluran air. Namun, ia menyayangkan pelaksanaan penebangan yang dinilai tidak disertai komunikasi dan koordinasi yang memadai dengan warga sekolah, terutama karena adanya penolakan terhadap kebijakan tersebut.

Kritik juga disampaikan akademisi Universitas Malikussaleh (Unimal), Teuku Kemal Fasya. Ia menilai penebangan habis pohon-pohon pelindung di lingkungan sekolah berpotensi mengurangi kenyamanan belajar dan tidak sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan di institusi pendidikan.

Pergantian pimpinan sekolah tersebut diharapkan dapat menjaga keberlangsungan pembelajaran sekaligus membuka ruang penyelesaian persoalan internal melalui komunikasi dan musyawarah yang lebih baik. (SB/RA)

-->