BRT Mebidang, Ambisi Transportasi Modern Medan

sentralberita|Medan~Kehadiran Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang (Medan, Binjai, Deli Serdang) menjadi salah satu langkah besar menuju wajah baru transportasi perkotaan di Sumatera Utara. Proyek strategis nasional senilai Rp1,9 triliun ini diharapkan mampu menghadirkan transportasi massal yang lebih modern, mengurangi kemacetan, serta memberikan pilihan mobilitas yang lebih nyaman bagi masyarakat.
Namun, di balik ambisi menghadirkan sistem transportasi modern tersebut, kesiapan Kota Medan menjadi tantangan besar yang harus dijawab. Mulai dari kondisi ruas jalan, tata kelola lalu lintas, dampak lingkungan, hingga kesiapan anggaran pendukung daerah.
Anggota DPRD Kota Medan, Ahmad Afandi Harahap, menilai kehadiran BRT Mebidang harus benar-benar dipersiapkan secara matang agar tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat.
Menurutnya, transportasi modern memang menjadi kebutuhan Kota Medan sebagai kota besar dengan aktivitas ekonomi yang terus berkembang. Namun, pembangunan tersebut harus sejalan dengan kemampuan kota dalam menyesuaikan infrastruktur yang ada.
“BRT Mebidang ini merupakan program besar dan tentu kita dukung karena tujuannya untuk memperbaiki sistem transportasi. Tetapi yang harus dipastikan adalah bagaimana kesiapan Kota Medan menerima sistem baru ini,” ujar Ahmad Afandi.
Ia mengingatkan, pengoperasian BRT nantinya akan berdampak terhadap pola lalu lintas di sejumlah ruas jalan. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan kajian matang agar keberadaan jalur BRT tidak justru memunculkan kemacetan baru akibat keterbatasan ruang jalan.
“Jangan sampai niat kita menghadirkan solusi transportasi, tetapi di lapangan muncul persoalan baru. Rekayasa lalu lintas dan kesiapan infrastruktur harus menjadi perhatian utama,” katanya.
Selain persoalan lalu lintas, Ahmad Afandi juga menyoroti kebutuhan pendukung lainnya, termasuk penyesuaian fasilitas jalan dan beban anggaran daerah.
Menurutnya, Pemerintah Kota Medan perlu menjelaskan secara transparan terkait kebutuhan anggaran pendamping, termasuk biaya operasional maupun fasilitas penunjang setelah BRT mulai berjalan.
“Kita harus melihat secara menyeluruh. Jangan hanya berbicara pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana keberlanjutan operasionalnya ke depan,” jelasnya.
Ahmad Afandi juga mengingatkan agar pembangunan BRT tetap memperhatikan aspek lingkungan. Penataan jalur transportasi tidak boleh mengabaikan keberadaan ruang hijau dan kenyamanan masyarakat.
Ia menilai, konsep kota modern bukan hanya dilihat dari hadirnya teknologi transportasi, tetapi juga bagaimana pembangunan tersebut mampu menjawab kebutuhan warga secara menyeluruh.
“Transportasi modern harus memberikan manfaat nyata. Jangan sampai kita memiliki fasilitas baru, tetapi persoalan dasar seperti banjir, kemacetan, dan pelayanan publik masih belum tertangani dengan baik,” tegas politisi muda dari Partai Demokrat Medan ini.
Menurut Ahmad Afandi, BRT Mebidang bisa menjadi momentum perubahan besar bagi Kota Medan apabila direncanakan dan dijalankan dengan konsep yang tepat.
“Medan memang membutuhkan lompatan menuju kota modern, tetapi lompatan itu harus dibarengi kesiapan. Karena pembangunan bukan hanya soal menghadirkan sesuatu yang baru, tetapi memastikan masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya,” pungkasnya.
