Alunan Syahdu Guzheng dan Suara Emas Generasi Muda Pukau Pengunjung PRSU

sentralberita|Medan~Cahaya sorot biru dan merah berpendar terang menembus kegelapan malam di arena Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50, Kamis (23/7/2026) malam. Di atas panggung megah berdesain kubus modern yang dilengkapi layar LED raksasa di empat sisinya, suasana magis menyelimuti gelaran Tong Hua Mandarin Night. Panggung terbuka tepat di area depan pintu masuk PRSU itu menjelma menjadi pilar gemerlap yang menyedot perhatian ratusan pasang mata.
Tepat pukul 20.30 WIB, MC kondang Kota Medan, Iman Batak, memandu acara dan memanggil penampilan pembuka. Begitu jemari Jolin Chuawanta mulai memetik senar Guzheng (kecapi tradisional Cina), irama yang tercipta seolah membawa para pengunjung melintasi waktu, menjelajah atmosfer klasik bagai dalam adegan drama-drama kolosal Mandarin.
Banyak pengunjung yang baru melangkahkan kaki memasuki arena PRSU mendadak menghentikan langkah. Terpesona oleh alunan nada yang mendayu-dayu, mereka tak mau melewatkan momen tersebut dan bergegas merogoh telepon genggam untuk mengabadikan penampilan sang pemain kecapi.
Malam itu, Jolin membius penonton lewat tiga lagu pilihan bernuansa klasik nan elegan: Lan Ting Xu, Mei Li De Shen Hua, serta Ye Lai Xiang. Dengan anggun, perempuan mengenakan busana tradisional hanfu bernuansa putih-emas lengkap dengan hiasan rambut khas tersebut duduk tekun memainkan kecapinya.
Saat ditemui usai tampil, dara kelahiran Medan, 8 Oktober 2006 ini menceritakan kisahnya. Mahasiswi jurusan Manajemen di Universitas Pelita Harapan (UPH) ini mengaku sudah 8 tahun menggeluti seni petik kecapi, tepatnya sejak masih duduk di kelas 5 SD.
“Dulu diawali saat diajak Mama, begitu dengar suaranya langsung tertarik. Orang tua mendukung dan langsung memanggil guru privat ke rumah,” kenang guru ekskul kecapi SMP Boddhicitta Medan ini.
Ketekunannya berbuah manis. Jolin tercatat pernah menyabet Juara 2 Festival Seni Budaya Buddhis 2023 dan Juara 3 Buddhis Got Talent. Keterampilannya pun membawanya kerap diundang tampil ke berbagai panggung di luar Kota Medan, hingga ke Siborong-borong.
“Kuncinya cuma satu, konsisten latihan. Kalau rajin latihan pasti bisa,” tutur Jolin tersenyum. Ia pun menyimpan harapan besar agar panggung seni tradisional seperti kecapi semakin sering diberi ruang di Medan melalui lomba dan kegiatan budaya untuk memantik minat generasi muda.
Bintang Cilik dan Penyanyi Senior Lengkapi Kemeriahan
Kekaguman pengunjung tak berhenti sampai di situ. Giliran talenta cilik, Earleane Citroen, naik ke atas panggung dengan gaun biru cerah bertabur ornamen layaknya gaun putri dongeng. Siswi kelas 4 SD ini tampil percaya diri membawakan lagu-lagu Mandarin populer seperti Yi Nian dan Jiu Gan Tang Mai Wu.
Seusai membawakan tiga lagu dengan vokal emasnya, MC mendaulat kedua orang tua Earlene untuk naik ke panggung. Sang ibu menceritakan bahwa bakat bernyanyi anaknya telah menembus panggung internasional. Tak hanya kerap menjuarai lomba di Medan, Earlene juga sudah menyabet berbagai penghargaan bernyanyi hingga ke Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Taiwan.
“Bahkan pada 8–10 September mendatang, Earlene dipercaya ikut pertukaran budaya ke luar negeri dan akan membawakan lagu daerah Batak, Sing Sing So,” ungkap sang ibu bangga diiringi tepuk tangan penonton.
Kemeriahan panggung Tong Hua Mandarin Night di PRSU ke-50 malam itu ditutup manis oleh penampilan penyanyi senior Mandarin Kota Medan, Ko Alim, yang membawakan deretan lagu hits Mandarin legendaris dan sukses mengajak seluruh pengunjung bernyanyi bersama di bawah gemerlap cahaya panggung.
