Gemetar di Ambang Pintu, Karya: Rizal 4G

​Di rambut yang memutih, terselip sisa debu dunia,
Aku telah hafal jalan setapak, namun buta arah pulang.
Lidahku fasih mengeja angka dan nama-nama fana,
Namun kelu saat menyebut Hakikat yang paling tenang.

​Alangkah malunya menjadi tua tanpa rahasia,
Memiliki raga namun tak mengenal siapa penghuninya.
Pernah kukira hikmah ada pada tumpukan buku,
Ternyata aku hanya mengumpulkan bayangan, bukan cahaya-Mu.

​Kulitku mengerut, tanda waktu tak lagi panjang,
Tapi batin ini masih bayi, gagap dalam memandang.
Malu aku menghadap, dengan tangan penuh hampa,
Sia-sia umur ini jika hanya singgah di kulit luar saja.

​Namun, di tengah rasa malu yang menghujam dada,
Kudengar bisikan lembut di balik sunyinya jiwa:
“Hanya mereka yang mengaku bodoh, akan Aku ajarkan,
Hanya mereka yang merasa kosong, akan Aku penuhi dengan kehadiran.”

Maka biarlah rasa malu ini menjadi air wudu,
Membasuh sisa-sisa kesombongan yang membatu.
Sebab lebih baik tersungkur malu di pintu-Mu sekarang,
Daripada merasa pintar, namun selamanya dalam kegelapan yang terang.
الحمد لله

Baca Juga :  Dari Layar Lebar ke Gerakan Nyata: Nobar Film The Sun Gazer Dirangkai Sarasehan Koperasi se-Kota Medan
-->