Reza Arap, Marathon Live, dan Masyarakat yang Tak Pernah Berhenti Bekerja

Oleh: Nazwa Vaziela Siregar | sentralberita~Ketika Reza Arap melakukan marathon livestream selama berhari-hari dan disaksikan ribuan orang, perhatian publik sebagian besar tertuju pada durasi siaran, jumlah penonton, hingga pendapatan yang dihasilkan.

Fenomena itu dianggap luar biasa, menghibur, bahkan menginspirasi. Namun di balik angka-angka yang mengesankan tersebut, ada sesuatu yang patut direnungkan. Mengapa kemampuan seseorang untuk terus bekerja tanpa henti kini justru menjadi tontonan yang dikagumi? Barangkali persoalannya bukan lagi tentang Reza Arap.

Fenomena itu sesungguhnya mencerminkan zaman yang sedang kita hidupi. Zaman ketika produktivitas dipuja, kesibukan dianggap prestasi, dan istirahat perlahan dipandang sebagai kemunduran. Hari ini, masyarakat hidup dalam tekanan untuk terus bergerak.

Media sosial dipenuhi cerita tentang kesuksesan, pencapaian, dan kerja keras tanpa batas. Setiap hari orang disuguhkan narasi bahwa mereka harus lebih produktif, lebih cepat, dan lebih kompetitif dibanding orang lain. Akibatnya, bekerja tidak lagi sekadar menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bagi banyak orang, bekerja telah berubah menjadi ukuran nilai diri. Mereka yang sibuk dianggap lebih berhasil. Mereka yang terus menghasilkan dianggap lebih berharga. Sementara mereka yang berhenti sejenak sering kali dicap kurang ambisius.

Baca Juga :  Kolaborasi Tanpa Sekat, Upaya Titik Temu Pemerintah dan Masyarakat

Dalam situasi seperti ini, marathon livestream bukan hanya konten hiburan. Ia menjadi simbol dari budaya yang sedang tumbuh di tengah masyarakat digital. Budaya yang mengagungkan kemampuan untuk terus hadir, terus bekerja, dan terus menghasilkan sesuatu tanpa mengenal jeda. Ironisnya, ketika teknologi diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia, banyak orang justru merasa semakin sulit melepaskan diri dari pekerjaan.

Telepon genggam membuat pekerjaan bisa dibawa ke mana saja. Internet membuat seseorang selalu terhubung. Media sosial membuat setiap aktivitas dapat diubah menjadi konten. Batas antara bekerja dan hidup perlahan menghilang. Kita hidup di era ketika seseorang dapat tetap bekerja saat berada di rumah, saat berlibur, bahkan saat seharusnya beristirahat.

Tidak ada jam pulang yang benar-benar pasti. Tidak ada ruang yang sepenuhnya bebas dari tuntutan produktivitas. Fenomena ini tidak hanya dialami para kreator konten. Mahasiswa, pekerja kantoran, freelancer, hingga pelaku usaha kecil merasakan tekanan yang sama.

Baca Juga :  Regulasi Guru Honorer: Fondasi Konstitusional Untuk Mendorong Program Penguatan dan Pengangkatan

Semuanya berlomba untuk tetap relevan dalam sistem yang bergerak semakin cepat. Pertanyaannya, sampai kapan manusia mampu hidup dengan ritme seperti itu? Tidak ada yang salah dengan kerja keras. Tidak ada yang keliru dengan ambisi.

Namun masyarakat juga perlu menyadari bahwa manusia bukan mesin yang dapat beroperasi tanpa batas. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah peradaban tidak hanya ditentukan oleh seberapa produktif manusianya.

Peradaban juga diukur dari kemampuannya menjaga kualitas hidup manusia itu sendiri. Jika suatu hari kita menganggap bekerja tanpa henti sebagai hal yang normal, mungkin saat itulah kita perlu bertanya: apakah teknologi sedang memudahkan hidup manusia, atau justru membuat manusia kehilangan haknya untuk beristirahat?

Nazwa Vaziela Siregar adalah mahasiswi Universitas Medan Area. Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap maupun pandangan resmi institusi tempat penulis menempuh pendidikan.

-->