Milad IMM ke-62: Menguatkan Energi Gerakan Perempuan dan Kesadaran Ecofeminisme

Oleh: Tamara Rizki S.H.,M.Kn|sentralberita~Momentum Milad ke-62 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tidak semestinya berhenti pada perayaan usia organisasi. Ia harus menjadi ruang refleksi bagi perjalanan panjang gerakan kader yang selama ini menyalakan tradisi intelektual, spiritualitas dan keberpihakan sosial.

Dalam perjalanan tersebut, IMM telah melahirkan banyak kader yang berperan di berbagai bidang kehidupan bangsa. Namun di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, pertanyaan penting perlu diajukan yaitu sejauh mana gerakan IMM telah memberi ruang yang cukup bagi perempuan untuk memimpin dan menggerakkan perubahan sosial?

Tema “Bergerak dan Berdampak untuk Indonesia” yang diangkat dalam Milad tahun ini membuka ruang refleksi yang lebih luas. Bergerak tidak hanya berarti aktif dalam kegiatan organisasi, sementara berdampak tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan. Gerakan yang berdampak adalah gerakan yang mampu membaca persoalan zaman, berpihak pada kelompok rentan serta menghadirkan solusi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Dalam konteks ini, kehadiran perempuan dalam gerakan mahasiswa menjadi sangat penting. Sejarah menunjukkan bahwa perempuan sering kali hadir dalam berbagai aktivitas gerakan tetapi tidak selalu mendapatkan ruang kepemimpinan yang setara.

Dalam banyak organisasi mahasiswa, perempuan masih kerap diposisikan sebagai pelengkap dinamika organisasi bukan sebagai aktor utama yang menentukan arah gerakan. Padahal, pengalaman sosial perempuan justru menghadirkan perspektif yang sangat penting dalam membaca realitas ketidakadilan.

Hari ini, tantangan yang dihadapi perempuan tidak hanya berkaitan dengan persoalan kesetaraan dalam ruang publik tetapi juga berkaitan dengan krisis sosial dan ekologis yang semakin nyata. Kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, serta ketimpangan sosial sering kali berdampak lebih besar bagi kelompok rentan termasuk perempuan. Dalam banyak komunitas, perempuan justru menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari rusaknya lingkungan mulai dari krisis air bersih hingga hilangnya sumber penghidupan keluarga.

Di sinilah perspektif ecofeminisme menjadi relevan dalam membaca peran perempuan dalam gerakan sosial. Dalam kajian Ecofeminisme, kerusakan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari sistem sosial yang menempatkan alam dan perempuan sebagai objek eksploitasi. Ecofeminisme memandang bahwa penindasan terhadap perempuan dan eksploitasi terhadap alam memiliki akar yang sama yaitu sebuah cara pandang yang melihat keduanya sebagai sumber daya yang dapat dikendalikan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan dan keadilan.

Baca Juga :  Sofyan Tan : Budaya Harus Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Bagi gerakan mahasiswa, perspektif ini menawarkan cara pandang baru dalam memahami perjuangan sosial. Perjuangan perempuan tidak hanya berkaitan dengan ruang kepemimpinan atau representasi dalam organisasi, tetapi juga berkaitan dengan upaya membangun relasi yang lebih adil antara manusia, masyarakat, dan alam. Dengan kata lain perjuangan perempuan tidak hanya bersifat sosial tetapi juga ekologis.

Sebagai organisasi kader, IMM memiliki potensi besar untuk melahirkan perempuan-perempuan intelektual yang mampu mengembangkan perspektif tersebut dalam gerakan sosial. Proses kaderisasi yang menekankan pada tradisi berpikir kritis dan kesadaran sosial seharusnya mampu melahirkan kader perempuan yang tidak hanya peka terhadap isu kesetaraan gender, tetapi juga terhadap persoalan lingkungan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai inisiatif yang digerakkan oleh IMMawati mulai menunjukkan arah tersebut. Di berbagai kampus, para IMMawati aktif menginisiasi diskusi tentang kesetaraan gender, pendidikan kritis serta advokasi terhadap isu kekerasan berbasis gender.

Di beberapa daerah, gerakan IMMawati juga mulai bersentuhan dengan isu lingkungan, seperti kampanye kesadaran ekologis, gerakan literasi lingkungan, hingga penguatan ekonomi komunitas berbasis keberlanjutan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa IMMawati memiliki potensi besar untuk menghadirkan gerakan sosial yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Perspektif ecofeminisme dapat memperkaya arah gerakan tersebut dengan menempatkan perempuan bukan hanya sebagai subjek perjuangan kesetaraan tetapi juga sebagai penggerak kesadaran ekologis dalam masyarakat.

Namun demikian, tantangan yang dihadapi tetap tidak mudah. Kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Ketimpangan akses ekonomi juga masih membatasi ruang gerak perempuan dalam kehidupan sosial.

Di sisi lain, krisis lingkungan yang semakin nyata menambah kompleksitas persoalan yang dihadapi masyarakat. Dalam situasi seperti ini, gerakan perempuan membutuhkan keberanian intelektual dan komitmen sosial yang kuat.

Baca Juga :  Perempuan Berkemajuan di Tanah Para Pekerja

Bergerak bagi seorang IMMawati tidak cukup dimaknai sebagai keaktifan dalam kegiatan organisasi. Bergerak berarti memproduksi gagasan, menulis, melakukan advokasi, serta hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan pendampingan. Gerakan perempuan harus mampu menjembatani dunia intelektual kampus dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat.

Lebih dari itu, gerakan tersebut harus mampu menghadirkan dampak nyata. Perempuan kader IMM dapat memainkan peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya keadilan sosial dan ekologis. Gerakan literasi perempuan, pendampingan korban kekerasan, penguatan ekonomi komunitas, hingga edukasi lingkungan dapat menjadi bagian dari kontribusi nyata perempuan dalam gerakan sosial.

Milad ke-62 IMM seharusnya menjadi momentum penting untuk memperkuat kepemimpinan perempuan dalam tubuh organisasi. Penguatan tersebut tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah keterlibatan perempuan dalam struktur organisasi, tetapi juga harus diikuti dengan keberanian membuka ruang kepemimpinan yang lebih luas bagi perempuan untuk memimpin dan menentukan arah gerakan.

Gerakan mahasiswa yang kuat adalah gerakan yang mampu membaca perubahan zaman dan menghadirkan perspektif baru dalam perjuangan sosial. Dalam konteks IMM, IMMawati merupakan energi besar yang dapat memperkaya arah gerakan dengan perspektif keadilan sosial dan ekologis.

Pada akhirnya, tema “Bergerak dan Berdampak untuk Indonesia” tidak boleh berhenti sebagai slogan perayaan Milad semata. Ia harus menjadi komitmen bersama seluruh kader IMM untuk memastikan bahwa gerakan mahasiswa benar-benar memberi kontribusi nyata bagi bangsa.

Dalam ikhtiar tersebut, IMMawati memiliki peran strategis sebagai penggerak intelektual, sosial, dan ekologis yang mampu menghadirkan perubahan yang lebih adil dan berkelanjutan. Karena ketika perempuan bergerak, bukan hanya masyarakat yang berubah tetapi cara kita memandang relasi antara manusia, keadilan, dan alam pun ikut berubah. (sekertaris Divisi Eksternal Korps IMMawati DPP IMM)

-->