Sri Lanka Hancur-hancuran Akibat Utang US$1,5 M ke China

sentralberita | Jakarta ~ Sri Lanka 
menandatangani kesepakatan dengan China dalam pertukaran mata uang senilai US$1,5 miliar atau setara 10 miliar yuan untuk mengatasi krisis mata uang dan utang Sri Lanka.

“Pertukaran tiga tahun untuk 10 miliar yuan dengan Bank Sentral China (PBoC) bertujuan untuk mempromosikan perdagangan bilateral dan investasi langsung untuk pembangunan ekonomi kedua negara,” tulis Bank Sentral Sri Lanka, seperti dilansir AFP, Rabu (24/3).

Pejabat Bank Sentral Sri Lanka mengatakan pemerintah telah bernegosiasi selama berbulan-bulan untuk mendapatkan kredit dari China usai cadangan devisa mereka tergerus akibat pandemi covid-19.

Februari lalu, cadangan devisa Srilanka turun menjadi $4,5 miliar dari posisi US$8 miliar pada 2020.

Padahal, larangan impor barang mewah telah dikeluarkan, termasuk juga kendaraan serta beberapa komoditas makanan demi mengurangi tekanan neraca perdagangan.

Selain itu, para pejabat Sri Lanka juga menyebut pemerintah tengah mendiskusikan utang US$700 juta lagi dari China Development Bank (CDB).

Seperti diketahui, ekonomi Sri Lanka terguncang usai peristiwa pengeboman Paskah 2019. Tahun lalu, pandemi covid-19 yang mengakibatkan penguncian wilayah (lockdown) kian menekan perekonomian negeri tersebut hingga mengalami kontraksi 3,9 persen.

Sementara itu, China melalui inisiatif Belt and Road telah menggelontorkan berbagai bentuk pinjaman ke Sri Lanka. Sejak2005-2015, di bawah mantan presiden Mahinda Rajapaksa, Sri Lanka juga meminjam miliaran dolar dari China.

Sri Lanka tercatat mengakumulasi utang yang menggunung untuk proyek infrastruktur yang mahal.

Pada 2017, sempat heboh berita ketika Sri Lanka terpaksa menyerahkan pelabuhan Hambantota yang strategis dengan sewa 99 tahun kepada sebuah perusahaan China.

Hal ini terjadi lantaran pemerintah Sri Lanka tidak dapat membayar utang US$1,4 miliar dari Beijing yang digunakan untuk membangunnya.
(01/red)