DPK Perbankan Sumut Capai Rp 232,2 T

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat (tengah) didampingi Deputi Direktur Pengembangan Ekonomi dan UMKM BI Sumut Demina Sitepu (kiri) dan Asisten Direktur Sistem Pembayaran BI Sumut Ahmad Darimi (kanan) berbicara kepada wartawan di Taman Simalem Resort, Merek, Tanah Karo Kamis (26/9).
sentralberita|Karo~Meski kondisi ekonomi global masih bergejolak dan cenderung terkoreksi melambat, namun stabilitas sistem keuangan Sumatera Utara khususnya perbankan mengalami pertumbuhan.
Indikasi itu terlihat dana pihak ketiga (DPK) posisi Agustus 2019 mencapai Rp232,250 triliun, tumbuh 2,9 persen dari Agustus 2018. Dibanding kuartal 1/2019 sebesar Rp226,3 triliun tumbuh 2,26 persen dan kuartal 2/2019 sebesar Rp230,9 triliun yang tumbuh 2,12 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat mengatakan hal itu kepada wartawan pada pembukaan pelatihan dan gathering wartawan Kota Medan tahun 2019 di Taman Simalem Resort, Merek, Tanah Karo Kamis (26/9).
Hadir di sana Deputi Direktur Pengembangan Ekonomi dan UMKM BI Sumut Demina Sitepu dan Asisten Direktur Sistem Pembayaran BI Sumut Ahmad Darimi. Manajer KPw BI Sumut Fransiska Oktaviani Sihaloho Pesertanya wartawan yang tergabung dalam wartawan ekonomi dan bisnis (WEB) Kota Medan.
DPK sebesar Rp232,250 triliun terdiri dari giro Rp33,503 triliun (tumbuh 9,9 persen), tabungan Rp93,271 triliun (4,9 persen) dan deposito Rp105,476 triliun (6,1 persen).
Menurut Wiwiek, pertumbuhan DPK itu didorong oleh pertumbuhan tabungan dan deposito di tengah menurunnya pertumbuhan giro. Dengan perkembangan tersebut maka intermediasi perbankan pada periode laporan tercatat sedikit lebih baik yaitu dengan rasio persentase kredit yang disalurkan (LDR) 94,68 persen atau lebih tinggi dibandingkan dengan rasio LDR pada triwulan II 2019 yang tercatat sebesar 94,47 persen.
Ia menyebut DPK dibanding triwulan II 2019 memang sedikit meningkat namun lebih rendah dibanding rerata pertumbuhan DPK priode yang sama 3 tahun terakhir sebesar 6,6 persen (yoy). “Terbatasnya pertumbuhan DPK dipengaruhi oleh kontraksi giro yang semakin dalam,” ungkapnya.
Dilihat dari golongan nasabah, pertumbuhan DPK swasta masih terlihat terkontraksi namun tidak sedalam periode sebelumnya. Sementara pertumbuhan DPK perseorangan menunjukkan perbaikan, tumbuh 6,8 persen (yoy) dari sebelumnya 6,5 persen (yoy).
Wiwiek menjelaskan untuk penyaluran kredit perbankan pada triwulan III (data Agustus 2019) tumbuh meningkat 3,5 persen (yoy) lebih tinggi dibanding dengan periode sebelumnya Agustus 2018 sebesar 2,8 persen yoy.
“Perbaikan tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan penyaluran kredit jenis investasi dan secara sektoral terjadi pada sektor industri pengolahan,” kata Wiwiek.
Ia menambahkan kualitas kredit secara umum masih dalam kondisi baik yaitu NPL gross 3,5 persen, namun terdapat tren kualitas kredit yang memburuk pada beberapa sektor utama seperti Industri Pengolahan, PBE dan konstruksi. Sementara kualitas kredit Rumah Tangga (RT) terpantau menunjukkan sedikit peningkatan menjadi 2,2 persen.
Di sisi lain, rasio loan at Risk (LaR) perbankan di Sumatera Utara pada Agustus 2019 menunjukkan kecenderungan meningkat dibandingkan triwulan II 2019 disebabkan peningkatan rasio LaR pada seluruh jenis kredit modal kerja.
“Probabality of Default berdasarkan sektor ekonomi terpantau meningkat pada sektor industri pengolahan, sementara sektor lain cenderung menurun,” ungkap Wiwiek. (SB/Wie)

Pingback: Discover More
Pingback: helpful site
Pingback: รีวิว LSM99