Edi Saputra di SMPN 4 Medan: Derasnya Arus Informasi dan Perkembangan Teknologi Digital Pengaruhi Karakter dan wawasan kebangsaan Generasi Muda

sentralberita|Medan ~ Anggota DPRD Kota Medan, Edi Saputra, ST, melaksanakan kegiatan Wawasan Kebangsaan Tahun Anggaran 2026 kepada pelajar SMP Negeri 4 Medan, Sabtu (8/8/2026), di Jalan Jati III Nomor 118, Kelurahan Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan dengan tema ‘Pelajar Pancasila di Era Digital Dengan Cerdas Menyaring Informasi, Bijak Bermedia Sosial Serta Menjadi Generasi Penjaga NKRI’

Dihadapan ratusan pelajar, para guru, serta orang tua siswa yang berhadir, sosialisasi bertujuan untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai Pancasila, meningkatkan rasa nasionalisme, memelihara toleransi, serta mencegah potensi konflik berbasis suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) di tengah keberagaman masyarakat khususnya Kota Medan.

Dalam sambutannya, Edi Saputra menegaskan bahwa penguatan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan sangat penting, khususnya bagi kalangan pelajar sebagai generasi penerus bangsa yang bertanggung jawab mengisi kemerdekaan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, pembangunan karakter yang beretika, serta menjaga persatuan demi mewujudkan masa depan negara yang maju.

Menurutnya, derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital saat ini menghadirkan berbagai tantangan baru yang dapat memengaruhi karakter dan wawasan kebangsaan generasi muda seperti pudarnya nilai Pancasila, maraknya hoaks dan lunturnya rasa cinta tanah air akibat paparan budaya asing tanpa saringan yang kuat.

“Teknologi membuat anak muda kurang peduli pada sesama, rasa cinta tanah air berkurang karena minimnya pemahaman sejarah. Karena itu, perlunya Penguatan Wawasan Kebangsaan dan Nilai Pancasila harus diterapkan. Peran Keluarga dan Sekolah sebagai tempayt bimbingan moral harus berjalan seimbang di rumah dan tempat belajar,”ujarnya.

“Kita melihat semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap bangsa mulai menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, pemahaman terhadap Pancasila harus terus ditanamkan agar generasi muda memiliki karakter yang kuat, menghargai keberagaman, serta mampu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya melanjutkan.

Anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut menambahkan bahwa Kota Medan sebagai kota multikultural yang dihuni berbagai suku, agama, dan budaya membutuhkan penguatan nilai persatuan dan toleransi secara berkelanjutan. Nilai-nilai kebangsaan harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama bagi pelajar yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa.

“Cinta tanah air, semangat persatuan dan rasa memiliki terhadap bangsa harus terus ditanamkan. Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, kita dapat menjaga persatuan dan keutuhan bangsa di tengah berbagai perbedaan yang ada,” katanya seraya mengingatkan para pelajar agar bijak dalam menggunakan media sosial serta mampu menyaring berbagai informasi yang beredar di dunia digital.

Ia mengungkapkan, generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan bangsa dengan menghindari penyebaran hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, maupun berbagai paham yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Menurut Edi, tantangan kebangsaan saat ini tidak lagi hanya bersifat fisik, tetapi juga hadir melalui ruang digital yang dapat memengaruhi pola pikir dan karakter generasi muda.

“Pancasila mengajarkan kita untuk menghormati perbedaan, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, mengutamakan persatuan, serta membangun demokrasi yang berkeadilan. Nilai-nilai inilah yang harus terus kita hidupkan dalam kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.

Dalam sesi dialog interaktif, Edi Saputra para pelajar untuk memahami pentingnya Wawasan Kebangsaan sebagai landasan dalam membangun karakter generasi muda yang cinta tanah air, toleran, dan bertanggung jawab.

Wasbang

Ia menjelaskan bahwa Wawasan Kebangsaan merupakan cara pandang bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Menurut Edi, terdapat empat pilar utama yang menjadi fondasi Wawasan Kebangsaan, yaitu: 1. Pancasila, sebagai ideologi dan dasar negara yang menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara, 2. Undang-Undang Dasar 1945, sebagai landasan konstitusional yang mengatur hak dan kewajiban warga negara, 3. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sebagai bentuk komitmen menjaga keutuhan wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan 4. Bhinneka Tunggal Ika, sebagai semboyan bangsa yang mengajarkan pentingnya toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman.

Lebih lanjut, Edi menjelaskan bahwa Wawasan Kebangsaan tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa bentuk penerapannya antara lain menjaga kerukunan antarumat beragama, menghormati perbedaan suku dan budaya, mengedepankan semangat gotong royong, mematuhi aturan yang berlaku, serta berperan aktif dalam membangun lingkungan yang lebih baik.

Menurutnya, sekolah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada peserta didik melalui pendidikan karakter, kedisiplinan, toleransi, serta penghormatan terhadap keberagaman yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia.

Melalui kegiatan Penyebarluasan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan ini, Edi Saputra berharap para pelajar semakin memahami jati diri bangsa Indonesia, memiliki rasa cinta tanah air yang kuat, serta mampu menjadi generasi penerus yang menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di masa depan.

“Untuk itu mohon kepada anak-anakku sekalian, agar dengarkan, amalkan dengan sebaik-baiknya yang disampaikan oleh bapak anggOta dewan kita, pak Edi Saputra,”pintanya.

Pelajar Pancasila

Dalam pemaparannya, politisi PAN itu menekankan tiga kriteria Pelajar Pancasila di era digital.

“Ada 3 hal kriteria Pelajar Pancasila, pertama, tetap berakhlak saat berselancar, menghormati perbedaan sesama saat berselancar dan stop cyber bullying serta bangun silaturahim,” kata Edi.

Edi juga mengingatkan pentingnya literasi informasi sebelum membagikan konten. “Ada tiga hal yang harus dipahami ketika membaca dan menerima informasi yakni periksa sumber beritanya, baca sampai tuntas informasinya dan pikirkan sebelum dibagi. Tiga tahapan itulah yang dilakukan sebelum membagikan sebuah informasi,” jelasnya.

Menurut Edi, Pelajar Pancasila adalah pelajar yang berakhlak dan bermoral serta bijak bermedia sosial agar tidak terjerat UU ITE.

“Jaga jempol dan lisan saat berkomentar, batasi scrolling yang berlebihan, utamakan tugas sekolah dan istirahat. Kalau mau buat konten, buatlah yang kreatif dan bermanfaat. Seperti konten hafalan Pancasila, Proklamasi dan Pembukaan UUD 1945. Ini pasti viral, karena belum dibuat orang,” ujarnya.

“Hati-hati dalam bermedia sosial. Bila melanggar UU ITE bisa dipenjara,” tambahnya.

Dalam kegiatan itu, Edi juga menguji sejumlah siswa untuk hafal Pancasila, Proklamasi dan Pembukaan UUD 1945.

Sementara itu narasumber Arifani, S.H., M.H mengatakan, keberagaman di Indonesia harus dijaga seperti keberagaman di sekolah.

“Indonesia itu seperti di sekolah kita yang memiliki beraneka ragam suku dan agama. Peradaban Indonesia itu jadi satu kesatuan, itulah Indonesia,” paparnya.

Ia mencontohkan pengamalan Pancasila sila pertama dengan beribadah dan tidak mengganggu orang lain beribadah, serta sila kedua dengan tidak melakukan bullying.

“Intinya adalah bijak-bijaklah menggunakan media sosial. Karena berpotensi melanggar Undang-undang ITE,” jelasnya.

Kepala SMPN 4 Medan, Sarifah Hanum Sipahutar, M.Pd menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menyebut SMPN 4 Medan memiliki 1.038 siswa kelas 7, 8 dan 9.

“Anak-anakku, kalian adalah generasi emas. Kalian harus memiliki karakter yang kuat, mental yang kokoh dan rasa cinta yang mendalam terhadap tanah air. Kegiatan ini bukan rutinitas biasa tapi wadah untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila,” katanya seraya menegaskan, di era digital, tantangan generasi muda semakin berat.

“Banyak tradisi yang tidak sesuai tradisi bangsa masuk lewat gawai kalian. Ini harus diantisipasi dengan meningkatkan rasa nasionalisme dan meningkatkan toleransi dan hindari bullying,” pungkasnya.

Turut hadir Wakasek Sarana dan Prasarana SMPN 4 Medan, Wakasek Kurikulum Analis Saragih, Wakasek Kesiswaan H. Nazir Hidayat dan Wahyu Tanoto yang membacakan doa di acara tersebut (Husni Lubis)

 

-->