Kelangkaan Bio Solar Ancam Produktivitas Pertanian di Sergai, Petani Khawatir Gagal Panen

sentralberita | Serdang Bedagai ~Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Bio Solar yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir mulai berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.
Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu proses pengairan lahan persawahan dan berpotensi menurunkan hasil panen pada musim tanam yang sedang berlangsung.
Sejumlah petani di berbagai wilayah sentra pertanian mengaku mengalami kesulitan memperoleh Bio Solar yang selama ini digunakan untuk mengoperasikan mesin pompa air.
Akibat keterbatasan pasokan BBM tersebut, sebagian lahan sawah dilaporkan mengalami kendala pengairan karena pompa tidak dapat beroperasi secara maksimal.
Para petani menilai kondisi ini menjadi masalah serius, terutama di tengah kebutuhan air yang tinggi untuk mendukung pertumbuhan tanaman padi.
Jika persoalan tersebut tidak segera teratasi, mereka khawatir produktivitas pertanian akan menurun dan berisiko memicu gagal panen di sejumlah kawasan.
Selain berdampak pada pengairan, kelangkaan Bio Solar juga dinilai meningkatkan beban biaya produksi. Penggunaan BBM non-subsidi sebagai alternatif dianggap kurang efektif karena harganya lebih tinggi, sehingga dapat mengurangi keuntungan petani saat musim panen tiba.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Bidang Buruh, Tani, dan Nelayan Pemuda Muhammadiyah Sumatera Utara, Iqbal Alkindi, meminta pemerintah pusat maupun daerah segera mengambil langkah konkret untuk memastikan ketersediaan Bio Solar bagi sektor pertanian.
Menurut Iqbal, BBM subsidi memiliki peran strategis dalam mendukung produktivitas pertanian dan keberhasilan program ketahanan pangan nasional.
Ia menilai kebutuhan petani harus menjadi perhatian serius, terutama saat pemerintah tengah mendorong peningkatan produksi pangan.
“Petani saat ini membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah. Jangan sampai kesulitan mendapatkan Bio Solar menghambat operasional pompa air dan menyebabkan lahan pertanian mengalami kekeringan.
Jika kondisi ini berlanjut, potensi penurunan hasil panen bahkan gagal panen dapat terjadi di sejumlah wilayah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ketersediaan air merupakan faktor penting dalam budidaya padi. Ketika pasokan bahan bakar untuk pompa air terganggu, maka risiko kekeringan lahan akan meningkat dan berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian.
Selain itu, Iqbal juga meminta aparat penegak hukum memperketat pengawasan terhadap distribusi BBM subsidi agar penyalurannya tepat sasaran dan dapat dimanfaatkan oleh kelompok yang berhak, termasuk petani.
“Kami berharap pengawasan distribusi solar subsidi diperkuat sehingga benar-benar dapat dinikmati masyarakat yang membutuhkan. Jangan sampai terjadi penyimpangan yang merugikan petani dan menghambat upaya menjaga ketahanan pangan,” katanya.
Lebih lanjut, ia mendorong pemerintah melakukan evaluasi terhadap sistem distribusi Bio Solar, khususnya di daerah sentra pertanian yang sangat bergantung pada penggunaan pompa air untuk pengairan sawah.
Menurutnya, keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh kerja keras petani, tetapi juga oleh dukungan pemerintah dalam menjamin ketersediaan sarana produksi yang dibutuhkan, termasuk pasokan BBM subsidi.
Para petani berharap solusi segera dihadirkan agar aktivitas pengairan lahan dapat kembali berjalan normal. Mereka menilai penanganan cepat diperlukan untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap produksi pangan daerah.
Sebagai salah satu daerah penyangga produksi beras di Sumatera Utara, Serdang Bedagai dinilai membutuhkan perhatian serius agar persoalan kelangkaan Bio Solar tidak berkembang menjadi masalah yang dapat mengganggu produktivitas pertanian dan ketahanan pangan masyarakat.
Dengan sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan seluruh pemangku kepentingan, kebutuhan petani diharapkan dapat terpenuhi sehingga keberlanjutan sektor pertanian tetap terjaga. (SB/ARD)
