Dialog Interaktif IMM FIKTI UMSU, Legislator PAN Edi Saputra : Mahasiswa Garda Terdepan Mengawal Gerakan Masyarakat

sentralberita|Medan ~ Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (FIKTI) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menggelar Dialog Interaktif “Gerakan Mahasiswa di Tengah Represi : dari Reaksi ke Rekonstruksi Demokrasi”.di Aula FKIP UMSU Jalan Muktar Basri Medan, Sabtu (1/11/2025) sore.

Dialog menghadirkan dua pembicara yakni Anggota DPRD Kota Medan, Edi Saputra,ST dan Akademisi UMSU Shohibul Anshor Siregar, MSi.

Turut hadir dan memberikan sambutan Ketua PK IMM FIKTI UMSU, Rais Muzakkir Daulay dan Wakil Dekan III FIKTI UMSU , Faisal Basyid. Dialog interaktif juga diikuti oleh puluhan anggota dan mahasiswa FIKTI UMSU.

Dalam paparannya, Edi Saputra yang juga mantan Ketua Umum IMM PC IMM Kota Medan menyampaikan mahasiswa harus memahami petan dan kapasitasnya sebagai garda terdepan dalam mengawasi dan menyikapi segala gerakan dan perkembangan bangsa khususnya daerah. Namun dia mengingatkan sebagai mahasiswa juga harus mengisi dirinya dengan keilmuan yang baik dan cerdas di berbagai bidang khususnya ilmu yang telah dijalaninya di kampus.

Edi Saputra yang juga politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Medan ini juga minta mahasiswa agar mempersiapkan diri menuju masa depan, dengan bekal keilmuan dan pengalaman aktivis dalam melakukan gerakan yang pernah dilakukan. Ini penting agar mahasiswa sudah sejak awal mempersiapkan langkah dan cita-cita yang ingin diraihnya, mulai dari akademisi, legislatif hingga kepala daerah.

Lebih lanjut Edi Saputra menyoroti rendahnya tingkat literasi politik bangsa menjadi hambatan serius bagi lahirnya partisipasi politik yang kritis dan efektif dalam mengawal perjalanan Indonesia. Menurutnya, tanpa kesadaran politik yang matang, demokrasi akan terus terjebak dalam siklus populisme dan politik transaksional.

“Literasi politik bangsa kita belum berada pada level yang memungkinkan masyarakat berperan aktif secara kritis dalam menentukan arah kebijakan negara,” ujar Edi Saputra yang juga wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) Medan IV meliputi Kecamatan Medan Denai, Area, Kota dan Amplas ini.

Ia menjelaskan, sebagian besar masyarakat masih memaknai politik sebatas urusan pemilu, bukan sebagai sistem nilai dan proses panjang yang menentukan kualitas kehidupan berbangsa. “Kita sering merasa telah menunaikan kewajiban sebagai warga negara hanya dengan mencoblos di hari pemilihan. Padahal, politik adalah tanggung jawab kolektif yang berjalan setiap hari, dalam setiap keputusan publik yang diambil pemerintah,” tegasnya.

Baca Juga :  Maraknya Rokok Ilegal di Sumut, KAMMI dan IMM Demo Desak Evaluasi Kinerja Kakanwil Bea Cukai

Edi menilai, lemahnya literasi politik ini disebabkan oleh tiga hal utama: minimnya pendidikan politik di tingkat akar rumput, dominasi wacana politik hiburan di media, dan melemahnya fungsi institusi pendidikan dalam menanamkan kesadaran kewargaan. “Saat ini, politik lebih banyak tampil sebagai tontonan ketimbang ruang refleksi. Masyarakat disuguhi drama elite dan konflik personal, bukan pendidikan publik tentang kebijakan. Akibatnya, publik kehilangan kemampuan untuk menilai kinerja kekuasaan secara rasional,” katanya.

Selanjutnya ia mengingatkan bahwa dalam demokrasi yang sehat, kekuasaan hanya bisa dikontrol oleh warga yang melek politik, yang memahami struktur, logika, dan implikasi dari setiap keputusan pemerintah. Ia juga menyoroti tanggung jawab kampus dalam memperkuat basis literasi politik mahasiswa.

“Kampus harus menjadi pusat pembelajaran demokrasi yang hidup. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori politik, tetapi harus mampu mempraktikkan nilai-nilai etika publik, keberanian moral, dan analisis kritis terhadap kebijakan,” tutur Edi.

Ia menekankan perlunya kolaborasi antara akademisi, lembaga masyarakat sipil, dan pemerintah daerah untuk membangun budaya politik baru yang rasional, beretika, dan partisipatif. “Kalau kita ingin demokrasi Indonesia benar-benar bermartabat, maka kita harus memulainya dari literasi — dari kemampuan berpikir jernih dan menimbang kebenaran di tengah banjir opini,” ujarnya menutup pandangan dengan nada reflektif.

Dalam forum yang sama, Shohibul Anshor Siregar, Dosen FISIP UMSU, menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak hanya warisan sejarah, melainkan instrumen moral dan intelektual yang menentukan arah bangsa. Ia menilai, banyak gerakan mahasiswa hari ini kehilangan kedalaman refleksi karena terjebak pada simbolisme digital dan kehilangan kemampuan membaca struktur kekuasaan secara kritis.

Siregar menolak pandangan yang mereduksi gerakan sosial sebagai ledakan spontan akibat ketidakpuasan. Menurutnya, setiap gerakan yang bertahan dan berpengaruh lahir dari interaksi kompleks antara peluang politik, kemampuan organisasi, sumber daya moral, serta kekuatan narasi yang mampu menembus kesadaran publik. Ia menekankan bahwa teori klasik dari Charles Tilly, Sidney Tarrow, dan Doug McAdam masih menjadi fondasi analisis, tetapi hanya relevan jika diadaptasi pada konteks sosial politik Indonesia yang sarat patronase dan kooptasi kekuasaan.

“Gerakan sosial tanpa strategi adalah agitasi tanpa arah. Gerakan mahasiswa tanpa kesadaran struktural hanyalah gema moral tanpa daya dorong perubahan,” ujar Siregar tegas.

Dalam pandangan Siregar, lima elemen gerakan sosial—struktur peluang, mobilisasi, sumber daya, narasi, dan ekologi media—tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan membentuk logika aksi kolektif. Ia menilai, media sosial memang memperluas ruang ekspresi, tetapi juga menciptakan jebakan baru berupa distorsi wacana dan banalitas moral. “Teknologi bisa memobilisasi massa dalam hitungan jam, tapi ia juga dapat membunuh refleksi dan mengganti idealisme dengan keinginan viralitas,” katanya. Menurutnya, generasi mahasiswa saat ini perlu menguasai teknologi bukan sebagai alat demonstrasi semata, melainkan sebagai arena pertarungan makna dan produksi wacana.

Baca Juga :  DPD IMM Sumut Minta Pemerintah dan Aparat Penegak Hukum Serius Tuntaskan Persoalan Pendidikan, Mafia BBM, dan Narkoba di Belawan

Siregar kemudian menegaskan bahwa keberhasilan gerakan mahasiswa bukan diukur dari kerumunan di jalan, melainkan dari kemampuan membentuk kesadaran publik yang rasional dan etis. Ia mengingatkan bahwa Reformasi 1998 harus dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar kebanggaan. Krisis ekonomi dan keruntuhan legitimasi rezim kala itu membuka peluang politik, tetapi kegagalan konsolidasi nilai setelahnya menunjukkan lemahnya organisasi moral dan intelektual gerakan. “Kemenangan yang tidak diikuti oleh pembentukan nilai baru hanya akan melahirkan penguasa baru dengan mental lama,” tandasnya.

Dalam konteks era digital, Siregar menyoroti bahaya gerakan instan yang kehilangan basis ideologis. Ia mengajak mahasiswa untuk menumbuhkan tradisi riset, membaca teori sosial, dan membangun jaringan ideologis lintas kampus agar gerakan tidak mudah dimanipulasi oleh kepentingan pragmatis. Menurutnya, tugas mahasiswa bukan sekadar menggulingkan rezim, tetapi menegakkan akal sehat publik di tengah kebisingan politik. “Gerakan sosial sejati adalah ekspresi dari kesadaran yang terdidik. Ia tidak hidup dari kemarahan, melainkan dari komitmen moral yang berakar pada pengetahuan,” pungkasnya.

Apresiasi Kegiatan
Sebelumnya, Ketua PK IMM FIKTI UMSU, Rais Muzakkir Daulay dalam sambutannya bersyukur kegiatan dialog bisa dilaksanakan, meskipun menghadapi beberapa persoalan dan kendala. ” Bahkan ada upaya menghalang-halangi kegiatan ini bisa dilaksanakan, namun kita tetap tegas untuk melaksanakan kegiatan ini,”.katanya.

Sedangkan Wakil Dekan III FIKTI UMSU , Faisal Basyid dalam sambutannya mengakui dialog tersebut sangat luar biasa dan baru kali pertama dilaksanakan mengambil tema gerakan.. Dia mengakui dialog mengambil tema gerakan sepintas menakutkan. Namun sesungguhnya gerakan mahasiswa tidak perlu ditakutkan, karena diyakini bertujuan masukan dan kebaikan .

Makanya dia berharap mahasiswa senantiasa kritis dalam menyikapi perkembangan di tanah air. Makanya dia mengapresiasi dua pembicara sangat kapabel dan berpengalaman di bidangnya serta merupakan tokoh gerakan. (SB/01 )

-->