International Women Day 2026, Ketika Data Menjadi Air Mata

sentraberita|Medan~ Kolaborasi antara Jurnalis Perempuan dan Seniman menghadirkan Teater Kemanusiaan di Medan. Di balik angka statistik dan laporan berita bencana yang perlahan tenggelam dalam arus informasi, masih ada ribuan nyawa yang terus bergelut di tengah puing-puing rumah dan desa yang hancur. Sebuah pesan kemanusiaan yang sering kali terabaikan oleh media arus utama, kini “dihidupkan” kembali melalui panggung teater dalam rangka peringatan International Women Day 2026.
Pada Sabtu (7/3/2026) di Auditorium Bung Karno Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) di Jalan Sunggal, Kota Medan, menjadi saksi bisu sebuah fenomena baru dalam dunia jurnalistik dan seni. Pementasan teater bertajuk “Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan” digelar oleh Forum Jurnalis Perempuan Indonesia sebagai wujud kepedulian terhadap para penyintas bencana di Sumatera. Ini juga sesuai dengan tema International Women Day 2026 dari UN Women, yaitu “Rights. Justice. Action. For All Women and Girls”.
Performance Journalism: Jurnalis Turun ke Panggung
Berbeda dari liputan konvensional yang hanya mengandalkan data dan wawancara, pementasan ini mengusung konsep performance journalism atau jurnalisme pertunjukan. Para jurnalis yang biasanya duduk di balik meja, diajak untuk memainkan seni peran dan mengenali dunia teater untuk menyampaikan pesan tentang tragedi kebencanaan yang terjadi di Sumatera.
“Ini adalah kreativitas baru di dunia jurnalisme, bahwa pesan jurnalistik tidak hanya bisa disampaikan melalui platform yang biasa seperti televisi, radio, koran atau media online, tapi juga bisa melalui pertunjukan seni seperti teater. Ini merupakan strategi baru dunia media dalam menarik perhatian tentang suatu peristiwa,” jelas Ketua Umum Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Khairiah Lubis.
Khairiah mengungkapkan, FJPI berkolaborasi dengan Rumah Literasi Ranggi (RLR), dan komunitas teater Medan Teater Tronic (MTT) untuk mewujudkan pertunjukan jurnalistik ini. Menurutnya, ide ini muncul setelah para jurnalis turun langsung ke lapangan meliput bencana.
“Saat bencana di Sumatera terjadi, kami sebagai jurnalis turun langsung melihat kondisi para korban. Sekarang suara mereka sudah jarang terdengar di televisi, radio, atau media lainnya, padahal dampak bencana itu masih belum selesai,” ujar Khairiah, yang akrab disapa Awi.
Awi menyebutkan data dari Ketua Satgas Penanggulangan Bencana Nasional bahwa hingga awal Ramadan, sekitar 13.000 warga korban bencana Sumatera masih bertahan di tenda-tenda pengungsian. Sebagian hidup di tenda pengungsian, ada juga yang menyewa rumah, dan sebagian lain membuat tenda di atas tapak rumah masing-masing, atau bertahan di rumah rusak.
“Kondisinya belum banyak berubah, apalagi menjelang Lebaran ini, para pengungsi butuh perhatian. Kami berterima kasih sekali kepada pihak-pihak yang dari awal langsung mendukung aksi seni, jurnalistik dan sosial ini, seperti dari sekolah YPSIM Bapak Sofyan Tan, Bapak Mujianto dari Tzu Chi dan DAAI TV, serta Erna Balet yang menghadirkan penari baletnya di teater ini,” katanya.
Fokus pada Ketahanan Perempuan
Judul pementasan, “Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan”, bukan sekadar hiasan. Naskah yang ditulis oleh Ranggini Krisna ini meramu kegelisahan nyata para jurnalis terhadap kondisi para penyintas bencana, dengan fokus khusus pada peran perempuan.
“Kita tahu naskah hanya rangkaian kata yang tidak punya nyawa. Tapi ketika dimainkan oleh para aktor, kata-kata itu bisa hidup dan menyampaikan pesan,” kata Ranggini, pendiri Rumah Literasi Ranggi.
Ia menjelaskan bahwa cerita ini diangkat dari kisah nyata, terutama perempuan yang harus tetap kuat di tengah situasi sulit. Salah satu adegan yang paling menyentuh diperankan oleh Emma Matondang, yang memerankan sosok ibu kehilangan hampir segalanya akibat banjir namun tetap berusaha menjadi kuat demi anak-anaknya.
“Dalam cerita ini, seorang ibu mencoba tetap tegar, menenangkan anak-anaknya meski dirinya sendiri sedang berduka,” kata Emma.
Bukan Sekadar Mengharukan, Tapi Menyadarkan
Sutradara teater, Hafiz Taadi, menilai kolaborasi antara jurnalis dan seniman ini menghadirkan medium baru dalam menyampaikan pesan sosial. Ia menekankan bahwa tujuan pementasan ini bukan untuk menguras air mata penonton, melainkan untuk membangkitkan kesadaran.
“Pagelaran ini bukan untuk membuat orang menangis, tetapi untuk mengingatkan bahwa ada manusia di balik peristiwa bencana itu. Ketika berita sudah senyap, mereka masih ada dan masih berjuang,” tegas Hafiz.
Pementasan ini melibatkan sekitar 20 pemain, termasuk lima jurnalis perempuan, tiga seniman teater dari Medan Teater Tronic dan Teater Dermaga serta delapan siswa Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) yang telah berlatih intensif selama dua bulan. Hafiz juga mengapresiasi keberagaman generasi yang terlibat, mulai dari anak-anak hingga orang tua, menciptakan dinamika lintas generasi yang menarik.
Realitas di Balik Pameran Foto
Sebagai pelengkap teater, kegiatan ini juga menghadirkan Pameran Foto Bencana. Anggota FJPI Sumut yang merupakan fotografer freelance Mafa Yuli, memamerkan potret kondisi terkini para penyintas yang diambil langsung di lokasi bencana tiga minggu lalu.
“Pemulihan di sana belum banyak terjadi. Anak-anak penyintas bahkan banyak yang masih belum kembali bersekolah,” kata Mafa. Foto-foto yang menjadi bukti visual realitas krisis kemanusiaan di lokasi bencana ini dipamerkan dalam rangka mengumpulkan donasi untuk disumbangkan ke daerah bencana Sumatera.
Seruan Menjaga Alam dan Donasi
Dalam sambutannya, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dan Pendiri YPSIM, dr. Sofyan Tan, menekankan bahwa bencana alam bukan sekadar takdir, melainkan juga konsekuensi dari perilaku manusia.
“Bencana alam yang terjadi di Sumatera Utara, Padang dan yang lainnya bukan karena kutukan Tuhan tapi karena perbuatan manusia, manusialah yang mencederai. Kegiatan ini bukan hanya mengumpulkan donasi tetapi merupakan penyadaran tentang pentingnya menjaga alam,” pungkasnya.
Melalui pementasan teater dan pameran foto bencana ini, panitia berharap masyarakat tidak melupakan para korban bencana yang hingga kini masih berjuang untuk bangkit. Selain sebagai media edukasi, kegiatan ini juga membuka pintu penggalangan donasi untuk korban bencana di Sumatera.
Bahkan,sampai sekarang juga masih banyak ibu ibu Pengajian Kota Medan, Komunitas yang ada di Medan dan lain lain ‘terjun’ langsung mendonasikan untuk kebutuhan Lebaran yang sebentar lagi akan kita hadapi. Seperti paket kue Lebaran, syrop dan baju Koko, gamis dan baju Lebaran terutama untuk anak-anak.( Debbi )
