Penyuluh Agama Kemenag Dairi Tanamkan Moderasi Beragama Sejak Usia Dini
sentralberita | Sidikalang ~ Upaya penguatan nilai toleransi dan persaudaraan lintas iman terus digencarkan Kementerian Agama Kabupaten Dairi. Melalui peran aktif penyuluh agama, moderasi beragama ditanamkan sejak usia dini kepada kelompok binaan anak di Kecamatan Lae Parira, Selasa (28/01/2026).
Penyuluh Agama Kristen Kemenag Dairi, Hitmaringin Manik memberikan bimbingan dan penyuluhan bertema “Moderasi Beragama dalam Persaudaraan” sebagai bentuk pembinaan karakter anak agar tumbuh menjadi generasi yang menjunjung tinggi toleransi, saling menghormati, dan hidup rukun dalam keberagaman.
Dalam penyuluhan tersebut, anak-anak dibekali pemahaman praktis mengenai pentingnya menjadi pribadi yang mampu hidup berdampingan secara damai dengan siapa pun, baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun masyarakat. Nilai-nilai saling menghargai, kepedulian sosial, serta sikap terbuka terhadap perbedaan menjadi fokus utama materi.
“Kita harus berteman dengan semua orang tanpa membeda-bedakan warna kulit, suku, maupun agama, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal,” tegas Hitmaringin di hadapan peserta kegiatan.
Ia menambahkan, moderasi beragama bukan hanya konsep, tetapi sikap hidup yang harus dipraktikkan dalam keseharian. Melalui pembinaan ini, anak-anak diharapkan mampu menjadi teladan di lingkungannya masing-masing.
“Bapak berharap kalian dapat menjadi agen perubahan, membawa sikap damai, dan menjadi contoh dalam menerapkan nilai-nilai moderasi beragama,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui diskusi dan sesi tanya jawab. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan serta aktif menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka tentang praktik toleransi dalam kehidupan sehari-hari.
Program penyuluhan ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian Agama Kabupaten Dairi dalam memperkuat kesadaran moderasi beragama di tengah masyarakat, khususnya melalui pembinaan generasi muda sejak usia dini.
Melalui kegiatan tersebut, anak-anak kelompok binaan Lae Parira semakin memahami bahwa perbedaan bukan penghalang untuk membangun persahabatan dan persaudaraan, melainkan kekuatan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan foto bersama sebagai simbol kebersamaan serta komitmen untuk terus menumbuhkan nilai toleransi di lingkungan desa. (01/red)
