“Kami Masih Bersihin Rumah & Menunggu Bantuan”

sentralberita|Medan~ Suasana kota Aceh Tamiang, Kuala Simpang — sekitar 100 km dari Kota Medan — sudah sebulan lebih, masih terlihat porak poranda. Jalanan masih berlumpur dan berdebu.

Beberapa waktu lalu, www.sentralberita.com mendapat kesempatan mengunjungi Kuala Simpang, Aceh Tamian,beberapa waktu lalu. Banyak orang memakai masker dijalanan. Air bersih pun masih susah di diperoleh. Warung-warung nasi belum sepenuhnya buka.

Masih banyak para korban banjir dengan sabar memohon bantuan pada pengguna jalan yang berlalu lalang. Ada yang membawa baskom dan bekas kotak mie instan

Suasana yang paling menyedihkan di jalanan kota Kuala Simpang tepatnya di Desa Lintang Lorong 1 – 4. Di desa itulah yang banyak terlihat kayu-kayu gelondongan berserakan. Mobil-mobil jungkir balik dan barang berserakan.

” Kami tak tahu kayu-kayu itu dari mana. Banjir terjadi Rabu, 26 November tahun lalu. Dan hujan terus turun tiada henti-hentinya. Lampu padam sehingga keadaan gelap gulita. Banyak terdengar rengekan anak-anak menangis disana-sini
membuat suasana pada saat itu sangat mencekam dan tidak karu karuan. Ada yang menjerit tapi tiba-tiba suara jeritan itu hilang sayup-sayup,” ujar Penti, salah seorang warga di Desa Lintang bawah Lorong 1,yang ditemui www.sentralberita.com, sehari sebelum Tahun Baru Masehi, 2026.

Barulah keesokan harinya setelah hujan reda, begitu terkejutnya warga disitu banyak berserakan kayu-kayu gelondongan di desa Lintang bawah lorong 1 sampai Lorong 4.

” Saya sangat kaget dengan adanya kayu-kayu yang berserakan ini. Mungkin kayu-kayu ini berasal dari gunung.Terjatuh kebawah dan berserakan.Tidak menimbulkan keriuhan karena hujan turun dengan derasnya,” tambah Penti lagi.

Sudah terhitung hampir sebulan lebih pasca banjir. Kayu kayu ini tetap berserakan dibiarkan begitu saja. ” Tidak ada yg memedulikannya. Kami disini jadi terkendala untuk beraktifitas sehari-hari,” tutup Penti.

Baca Juga :  Upaya Pemerintah Sejahterakan Guru Honorer: Fondasi Pendidikan Bermutu Untuk Semua

Selain Penti, ada lagi pengalaman korban terdampak banjir yang ditemui www.sentralberita.com, Syahrul.

” Saat kejadian terjadi hujan turun begitu derasnya. Saat itu saya lagi belanja dapur dan beli genset. Setelah sore hari datang pengungsi 3 keluarga. Padahal saat itu lampu padam,” ujar Sharul memulai pembicaraan diselah-selah melayani para pengungsi.

Esok harinya, makin banyak pengungsi dan seterusnya makin bertambah, ada yang dirumah dan ada juga yang di pekarangan rumah.

Lalu, masih ada juga di 3 pintu ruko Syahrul. Sementara,” selain warga, ada juga mobil numpang parkir dihalaman sebanyak 35 unit.” Jelas Syahrul terharu.

Sementara itu,” para relawan yang akan menjeput warga yang mengungsi di rumah saya, terjebak banjir dilantai 2 rumah,” imbuh Syahrul sedih.

Sehingga semakin banyaklah orang yang mengungsi di rumah Sahrul. Karena,” banyaknya warga mengungsi di rumah saya
Sehingga genset rumah saya rusak lagi mungkin karena terus menerus digunakan untuk menyediakan air bor untuk warga,” ujar pria ini sedih.

Untuk makan warga sehari-hari,” kami sediakan apa adanya. Maklumlah, karena persediaan semakin hari semakin menipis. Sedangkan warga yang mengungsi mencapai 300 orang beserta bayi.”

Namun, ” akhirnya beberapa hari kemudian. datanglah bantuan sembako ke rumah Sharul, barulah kami semua merasa lega,” ujar Pengusaha Sanggar Seni khusus menjual material bangunan ini di Jl Rantau , Kampung Benua Raja Kec Rantau, Aceh Tamiang.

Menurut Sahrul,beliau dan semua warga Aceh sekarang sama-sama berharap agar Aceh Tamiang cepat pulih kembali. Seperti,” perhatian pemerintah tentang rumah hanyut agar segera di bangunkan rumah tetap,” harap Sharul.

Baca Juga :  Rico Waas Ingatkan Dinas PKPCKTR Medan Soal Perencanaan dan Perawatan Aset

Selain Penti dan Sharul, ada lagi Agus yang ditemui www.sentralberita.com.
” Sebagai ASN,
saya berharap sekali kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah setempat yang paling utama khususnya daerah Aceh Tamiang. Kurangilah penebangan pohon di hulu dan jangan menanam hak tersendiri karena kami yang dibawah ini yang terkenah dampak yang begitu hebat,” ujar pria ini ngilu.

” Sebagai ASN, kami juga turut membersihkan sekolah-sekolah pasca banjir lumpur. Kami juga memasukan alat mesin air agar kami bisa membersihkan sisa-sisa lumpur,” jelas Agus yang tidak merinci beliau ASN apa.

Saat banjir itu Agus dan keluarganya mengungsi di rumah tetangga. ” Kebetulan rumah tetangga kami itu ber tingkat. Namun, pada saat kejadian, air naik begitu cepatnya pada 26 dan 27 November lalu.”

Di area aspal depan rumah Agus terpaksa mengungsi karena air naik mencapai setinggi 3 meter. Dan, ” kami sekeluarga dan beberapa warga terjebak selama 5 hari. Selama 5 hari tersebut kami yang mengungsi 30 orang di bawah loteng. 2 hari kami tidak makan dan tidak minum yang mana lagi ada yang sakit dan anak-anak kecil kehausan sambil terus menangis. Kami merasa sedih, kacau dan pilu dalam keadaan banjir tersebut,” jelas Agus bersyukur keluarganya berjumlah 9 orang selamat dari korban banjir.

” Sekarang kami sudah memulai aktifitas bekerja seperti biasa. Tapi, masih terus bersih-bersih rumah,” jelasnya.

Perlahan lahan, ” memperbaiki rumah yang rusak sambil menunggu dan mengambil bantuan,” ujar Agus pelan.( Debbi )

-->