Pertama di Dunia, Teknologi Plasmacluster Mengurangi Virus Corona

sentralberita|Jakarta~ Pertama kalinya di dunia, Sharp Corporation telah menunjukkan bahwa titer infeksi Virus Corona baru (SARS-CoV-2) termasuk strain varian yang terkandung dalam air liur manusia dapat dikurangi lebih dari 99,4 persen.

Senior PR & Brand Communication Manager PT Sharp Electronics Indonesia Pandu Setio dalam siaran persnya diterima Kamis (22/7/2021) mengatakan dengan cara memaparkan / menyemburkan Ion Plasmacluster selama dua jam pada tingkat kelembaban di kisaran 60 persen (Relative Humidity)*4, dimana angka ini merupakan kondisi yang direkomendasikan untuk melawan infeksi virus.

Penelitian ini berhasil dilakukan di bawah pengawasan Profesor Hironori Yoshiyama dari Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Shimane (anggota Dewan Masyarakat Virologi Jepang), Profesor Shigeru Watanabe, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Meikai, dan Profesor Masashi Yamakawa, Departemen Teknik Mesin dan Sistem, Institut Teknologi Kyoto.

Secara umum, cara penularan virus corona baru dibagi menjadi dua, yaitu penularan melalui droplet yang kemudian menyebarkan virus di udara dan penularan kontak secara langsung oleh virus yang melekat pada permukaan sebuah benda.

Berdasarkan hal tersebut pada September 2020 lalu, Sharp melakukan penelitian untuk menguji keefektifan teknologi Plasmacluster dalam mengurangi SARS-CoV-2 di udara, dan kali ini, Sharp baru saja berhasil membuktikan keefektifan Ion Plasmacluster dalam mengurangi SARS-CoV-2 yang menempel pada permukaan benda.

Pertama, Sharp melakukan beberapa riset terhadap partikel droplet dengan tingkat kelembaban yang berbeda yang di simulasikan ke dalam area kehidupan sehari-hari (Verifikasi Awal [1] dapat dilihat di bawah).

Hasil simulasi kasus menunjukkan dimana ketika seseorang batuk di area ruangan dengan tingkat kelembaban berbeda, yaitu 30 persen dan 60 persen memperlihatkan bahwa jumlah partikel droplet yang tersuspensi di udara di sekitar orang dengan tingkat kelembaban ruangan 60 persen jauh lebih sedikit dan droplet akan langsung jatuh dan menempel pada permukaan meja. Berbanding dengan seseorang yang berada dalam area ruangan dengan tingkat kelembaban 30 persen droplet akan tetap melayang dan tersuspensi di udara.

“Berdasarkan hasil ini, Sharp menganggap penting untuk memverifikasi jika tingkat kelembaban 60% memiliki efek terhadap pengurangan jumlah SARS-CoV-2 yang jatuh dan menempel pada permukaan hingga mampu mengurangi risiko penularan virus di udara melalui tetesan droplet,” ungkapnya.

Selanjutnya, karena sebagian besar droplet penyebab infeksi penularan virus berasal dari air liur, Sharp mengukur dan membandingkan titer infeksi di area dengan tingkatan kelembaban 60% antara SARS-CoV-2 yang dicampur dengan media cair yang biasa digunakan untuk pengujian virus dan SARS-CoV-2bercampur air liur (Verifikasi Awal [2]).

Hasil penelitian menunjukkan titer virus menular pada media cair tersisa kurang dari 1 persen setelah 2 jam, sedangkan pada media air liur, sekitar 56 persen tetap utuh. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terbukti jika efektifitas teknologi Plasmacluster diverifikasi dapat mengurangi titer infeksi penularan termasuk varian baru lebih dari 99,4 umm Ke depannya Sharp akan terus berkontribusi kepada masyarakat dengan melakukan berbagai penelitian lanjutan yang mengenai efektivitas teknologi Plasmacluster. (SB/01/wie)