Kasus Legislator PDIP Labusel Cabut Kuku Dituding Bermuatan Politis

sentralberita | Labuhanbatu Selatan ~ Sidang lanjutan perkara penganiayaan
 yang melibatkan anggota DPRD Labuhanbatu Selatan (Labusel), Imam Firmadi, kembali digelar di PN Rantauprapat cabang Kotapinang. Sidang beragenda pembacaan eksepsi oleh penasihat hukum terdakwa.

“Pada prinsipnya, eksepsi kami fokus menyoroti surat dakwaan Jaksa yang disusun secara tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap,” kata penasihat hukum Imam Firmadi, Pris Madani, usai sidang ditutup Majelis Hakim PN Rantauprapat, Senin (22/2/2021).

Dia menilai surat dakwaan jaksa sumir. Dia mengklaim kliennya tidak mencabut kuku warga.

“Contohnya seperti pencabutan kuku yang disebutkan dalam dakwaan, namun hasil visum et repertum, itu tidak ada,” sebut dia.

Kemudian dia juga menyorototi tidak disebutkannya peran Joko Susilo alias Joko Lembu dalam surat dakwaan. Menurutnya dalam BAP nama Joko Susilo disebut 48 kali.

“Menurut saksi-saksi, Joko Susilo ini adalah orang pertama yang melakukan penganiayaan,” ungkap dia.

Dia menyebut kasus yang menjerat kliennya punya muatan politis. Dia menyebut korban M Jefri Yono menyampaikan kebohongan.

“Ada kepentingan politik yang didukung dengan ‘framing’ dalam kasus Imam Firmadi ini. Siapa otaknya tidak perlu saya sebutkan, nanti juga ketahuan pada waktunya,” kata dia.

Di sisi lain, JPU dari Kejari Labuhanbatu Selatan, Symon Morris, mengatakan bahwa eksepsi terdakwa seharusnya ditolak Majelis Hakim karena isinya merupakan materi perkara.

“Yang mereka sebutkan itu sudah masuk ranah pembuktian,” kata Symon.

Dikatakan Symon, eksepsi dari penasehat hukum Imam Firmadi tersebut bahkan sama sekali tidak menyentuh isi dakwaan. “Secara resminya, akan kami bacakan di sidang berikutnya,” kata dia.

Sebelumnya, Anggota DPRD Labusel F-PDIP, Imam Firmadi, didakwa melakukan kekerasan terhadap seorang warga. Jaksa menjelaskan Imam bersama 3 rekannya, yakni Eko Prasetio, Muhammad Safie, dan Edi Syahputra, melakukan kekerasan secara bersama-sama terhadap korban bernama Muhammad Jefri Yono, pada 28 Juni 2020 malam sampai 29 Juni 2020 dini hari.

“Didakwa melanggar Pasal 170 (2) juncto Pasal 64 (1) subsider Pasal 353 (2) juncto Pasal 55 (1) atau Pasal 333 (1) juncto Pasal 55 (1) KUHPidana, dengan ancaman maksimal 9 tahun penjara,” kata jaksa penuntut umum (JPU) Symon Morris Sihombing saat membacakan dakwaan, Senin (8/2).

“Kepala dipukul 3 kali pakai gancu sampai bocor mengucurkan darah, wajahnya dipukul dan disikut, ditendang, ditelanjangi, telinganya dijepit pakai tang, hingga akhirnya kuku kakinya dicabut pakai tang,” ungkap jaksa.

Selain itu, Imam Firmadi juga mengumbar kata berbau ancaman kepada Jefri. Setelah beberapa saat dianiaya, akhirnya Jefri tak sadarkan diri dan ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan sekitar pukul 02.00 WIB. Sekitar pukul 04.00 WIB, korban dilarikan ke Puskesmas Cikampak. (dtc/red)