Negara Paling Bahagia di Dunia Diserang Covid

sentralberita | Kathmandu ~ Bhutan, negara yang disebut sebagai negara paling bahagia di dunia, sudah begitu ketat menjaga penyebaran virus Corona. Namun apa daya, si virus berhasil masuk dan membawa korban di sana.

Dilansir dari Reuters, Bhutan akhirnya melaporkan kematian pertama karena virus Corona. Bhutan selama ini sudah bisa bertahan selama 10 bulan sejak pandemi COVID-19 menyerang.

Dengan mendeteksi virus lebih awal, Bhutan berharap dapat mengendalikan penyebaran pandemi. Negara paling bahagia di dunia ini bahkan menutup semua akses untuk pariwisata. Padahal Bhutan menggantungkan perekonomiannya dari sana.
Infeksi pertama dideteksi sejak Maret 2020 pada seorang turis Amerika Serikat. Sejak itu penyebaran terus terjadi hingga kini telah mencapai 767 kasus.

Angka ini sebenarnya cukup rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Namun untuk kerajaan kecil Himalaya, angka ini cukup fantastis.

Bhutan sudah melakukan 300.000 tes Corona atau COVID-19. Dengan cepat, negara yang berpenduduk 750.000 jiwa ini berhasil mengkarantina warga yang kembali dari luar negeri.

Setelah dua kali melakukan lockdown, pertahanan Bhutan jebol. Kementerian Kesehatan Bhutan mengatakan bahwa kasus kematian pertama karena Corona datang dari seorang pria berusia 34 tahun. Pria tersebut dinyatakan positif Corona dan meninggal dengan penyakit hati kronis dan gagal ginjal.

Seorang penasihat Kementerian Kesehatan Bhutan menyatakan bahwa pria tersebut sudah diisolasi dan dua kali dinyatakan positif pada minggu ini.

Kini Bhutan melaporkan bahwa rata-rata setiap harinya ada 13 infeksi baru yang terjadi. Angka 56 persen dicapai pada akhir Desember.

“Tidak mudah untuk menjelaskan dan memasukkan ini sebagai kematian COVID-19 Tapi karena dia positif COVID-19, kami memasukkannya dalam daftar kematian COVID-19,” ujar Dr Tshokey.

Corona telah membunuh lebih dari 1,9 juta orang di seluruh dunia dan menginfeksi setidaknya 93 juta. Sudah ratusan negara yang dilaporkan terinfeksi sejak kasus pertama diidentifikasi di China pada Desember 2019. (Dtr/ras)