45 Hari Pemukiman Warga di Medan Maimun Terendam Banjir

sentralberita | Medan ~ Masyarakat korban banjir di Gang Subur Lama, Jalan Brigjen Katamso Medan, Kecamatan Medan Maimun mengharapkan, pemerintah dapat menyelesaikan banjir yang sudah berlangsung selama 45 hari.

“Dari sejak bulan Desember 2020 kemarin hingga saat ini, pemukiman warga di Gang Subur ini masih terendam air dengan kedalaman 30 – 40 sentimeter,” ujar seorang warga Gang Subur Lama, Sanusi (45), Selasa (19/1/2021).

Sanusi mengatakan, kondisi rendaman air di tengah pemukiman warga yang meliputi 70 kepala keluarga (KK) belum pernah menyurut. Bahkan, ketinggian air semakin meningkat setiap hujan deras turun di kampung itu.

“Banyak warga di sini yang mulai terserang penyakit kulit seperti gatal-gatal, flu hingga terkena demam berdarah dengue (DBD). Ada warga yang terpaksa pindah rumah gara-gara banjir yang sudah lama terjadi,” katanya.

Warga lainnya, Ridwan (38) menyampaikan, pemerintah sudah menurunkan kendaraan khusus untuk menyedot rendaman air di tengah pemukiman tersebut. Namun, pemukiman warga masih terus terendam.

“Kami mengharapkan pemerintah untuk segera memperbaiki drainase di kawasan pemukiman masyarakat di sini. Kemungkinan terjadi penyumbatan atau rusaknya drainase sebagai penyebab banjir,” sebutnya.

Permukiman warga di kawasan Medan Maimun, Medan, terendam banjir lebih dari sebulan. Pemko Medan diminta mencari solusi jangka panjang penanganan banjir, salah satunya dengan menyulap daerah aliran sungai (DAS) menjadi jalur hijau.
Ide tersebut disampaikan Anggota DPRD Medan dari Fraksi NasDem, Habiburrahman Sinuraya. Dia awalnya bicara soal Pemko Medan harus segera memperbaiki drainase yang rusak di kawasan itu agar banjir surut.

“Saya akan coba hari ini hubungi kelurahan setempat, supaya segera difotokan agar bisa kita tindaklanjuti kepada kepala UPT-UPT untuk segera mengecek drainase mana emang yang rusak. Kalau memang itu menjadi salah satu alasan banjir,” kata Habiburrahman.

Dia mengatakan banjir bukan merupakan kehendak manusia. Dia juga menilai banjir di lokasi tersebut bukan sepenuhnya salah Pemko Medan.

“Saya tidak mau menyalahi pihak mana pun. Tapi mungkin ada beberapa pihak yang saya rasa terlalu lepas tangan, tidak terlalu mengontrol dan tidak terlalu mengontrol bawahannya. Maka dari itu saya minta tolong pada Pemko Medan untuk hari ini, ke depannya dinas terkait cobalah ditinjau,” ujarnya.

Dia kemudian menyampaikan harapannya ke Pemko Medan, terutama setelah dipimpin Bobby Nasution, di periode mendatang. Salah satu yang harus dilakukan Pemko Medan, katanya, adalah menyulap daerah aliran sungai di Medan menjadi jalur hijau.

“Yang pertama harapan kita, saya sangat berharap besar Bang Bobby Nasution-Aulia Rachman bisa berkolaborasi antara dinas Pemko Medan dengan pihak BWS (Balai Wilayah Sungai) di tingkat provinsi, agar bantaran sungai ini segera direvitalisasi. Karena kita nggak bisa, Kota Medan tidak bisa melakukan pembesaran sungai atau pembuatan pinggiran sungai yang memakan anggaran cukup besar karena itu bukan wewenang kita, itu wewenang dari BWS dan Pemprov Sumut,” ucapnya.

“Ke depannya kalau bisa, ini pasti bakal terjadi pro dan kontra, bantaran sungai itu kalau bisa kita memang buat jalur hijau. Saran saya ke Bang Bobby-Aulia,” sambungnya.

Namun dia meminta Pemko Medan dan pihak terkait mencari solusi agar warga di pinggiran sungai tetap mendapat tempat tinggal yang layak. Menurutnya, pemerintah harus menyediakan tempat tinggal warga yang bakal terkena dampak penggusuran lebih dulu.

“Tapi tentunya harus ditempatkan dulu ini, mana nih yang terkena dampak bakal penggusuran. Nah ini harus ditentukan dulu di mana tempatnya, jangan langsung digusur, mereka tidak tahu diletakkan di mana,” sebut Habiburrahman.

abib menyebut, jika bantaran sungai terawat, Medan bisa lebih nyaman. Meski menyarankan kawasan DAS menjadi jalur hijau, Habiburrahman tetap meminta Pemko Medan membuat kajian lebih lanjut soal revitalisasi sungai dan DAS.

“Bantaran sungai itu harusnya kita rawat jadikan taman, jadi kan enak kalau kita ke sungai, kita lihat. Tapi ini perlu kajian yang mendalam dan perlu mengkaji apa yang menjadi dampak pro dan kontra terhadap masyarakat Kota Medan ini. Ini harus dikumpulkan beberapa elemen masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat, untuk memecahkan solusi,” sebut Habib.

Sebelumnya, sejumlah rumah warga di Gang Subur Lama, Jalan Brigjen Katamso, Medan Maimun, terendam banjir. Air menggenangi jalan dan masuk ke beberapa rumah. Warga menyebut banjir telah terjadi sejak sebulan yang lalu.

“Sejak tanggal 4 Desember 2020,” kata salah satu warga, Yakub.
Dia menjelaskan, kawasan tersebut awalnya ikut terdampak banjir besar Medan. Sekitar 2 hari kemudian, air yang merendam kawasan itu sempat surut. Namun banjir kembali terjadi dan tak surut-surut karena ada drainase yang rusak.

“Pertama kan banjir besar, sekitar dua hari turun airnya. Drainasenya ambruk dan kemudian hujan lebat. Setelah itu airnya nggak turun-turun,” ujar Yakub.

Pemko Medan juga telah menjelaskan pemicu banjir tersebut. Pemko Medan mengatakan perbaikan drainase yang rusak terkendala masalah lahan. Pemko berjanji segera mencari solusi jangka panjang untuk menuntaskan banjir di wilayah tersebut.

“Agar kita bisa memperbaiki saluran drainase itu secara permanen. Namun untuk jangka pendek ini kita tetap berupaya untuk memperbaiki gorong-gorong yang sudah lama itu, dan berupaya agar air bisa dialirkan ke Sungai Deli. saat ini sedang terus kita upayakan,” ujar Kadis PU Medan, Zulfansyah. (bs/ras)