PMPHI: Isu Agama Tingkatkan Jumlah Pemilih , Namun Bagi Pambuat Isu Justru akan Dirugikan


sentralberita|Medan~Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI) memprediksi, isu agama yang diangkat pihak tertentu dalam pemilihan pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Medan, akan meningkatkan partisipasi jumlah pemilih pada setiap tempat pemungutan suara (TPS) di Medan.

Koordinator PMPHI Gandi Parapat mengatakan, peningkatan jumlah pemilih dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Medan, menjadi simbol kebangkitan masyarakat yang menginginkan dan mempertahankan kerukunan antar umat beragama. Pilkada Medan bakal membawa sejarah baru.

“Berdasarkan hasil penelitian kita di 21 kecamatan, isu agama yang dimunculkan pihak tertentu menjelang pilkada Medan, justru merugikan pihak yang menciptakan isu tersebut. Masyarakat tidak mau terpecah karena isu tersebut,” ujar Gandi Parapat di Medan, Selasa (8/12) malam.

Dijelaskan Gandi, berdasarkan hasil survei PMPHI, partisipasi jumlah pemilih bakal meningkat di atas 70 persen. Angka tersebut meningkat drastis dari jumlah pemilih saat Pilkada Medan 2015 yang hanya 25 persen dari total 1,8 juta pemilih.

Gandi menyampaikan, penelitian menjelang pilkada oleh PMPHI guna memastikan partisipasi pemilih dilakukan selama 2 hari, sejak Minggu (6/12/2020) hingga Senin (7/12/2020).

Metode survei dilakukan dengan mewawancarai sebanyak 50 – 100 orang masyarakat sebagai pemilih. Selai itu, PMPHI juga mengangkat isu tentang pandemi Covid-19 dan masalah agama menjelang pilkada.

“Secara umum, masyarakat yang kita temui menyampaikan, tidak menginginkan adanya perpecahan karena masalah agama. Masyarakat menginginkan kerukunan antarumat ini terus dipertahankan. Sehingga, mereka yang sebelumnya masih ragu menggunakan hak suaranya, menjadi antusias untuk memilih,” ungkapnya.

Menurutnya, ada sekitar 30 persen dari jumlah masyarakat diwawancarai, yang sebelumnya masih bimbang untuk menggunakan hak suaranya di TPS, justru berubah pikiran. Mereka memastikan akan menggunakan hak suara untuk memilih pasangan yang dinilai nasionalis dan Pancasilais.

“Berbeda dengan jumlah 30 persen yang sebelumnya memiliki keraguan, sebanyak 50 persen lainnya sudah memastikan hak pilihnya untuk mendatangi TPS. Mereka tetap berpartisipasi menggunakan hak suaranya meski pilkada dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Disebutkan, jumlah penduduk di Medan ini sekitar 2.279.894 jiwa. Masyarakat yang ada di ibukota Sumut ini sangat heterogen, karena terdiri dari suku Batak Toba, Melayu, Mandailing, Karo, Jawa, Tionghoa, Minang, Aceh, Tamil dan lainnya. 

“Berdasarkan jumlah penduduk tersebut, sebanyak 64,53 persen beragama Islam, Kristen Protestan 20,99 persen, Katolik 5,11 persen, Budha 8,28 persen, Hindu 1,04 persen dan Konghucu 0,06 persen. Meski umat Islam mendominasi di Medan, secara umum masyarakat menginginkan kerukunan antarumat beragama,” jelasnya.

Diketahui jumlah DPT di Pilkada Medan 2020 ini sebanyak 1.601.001. Jumlah tersebut menurun dari Pileg/Pilpres 2018 lalu karena ada warga yang sudah berpindah domisili dan ada juga yang meninggal dunia. Sementara itu, jumlah TPS ada sebanyak 4.303 di 21 kecamatan se-Kota Medan. (SB/01 )