GMKI UMA Menilik Demokrasi Sebagai Refleksi Sumpah Pemuda

sentralberita|Medan ~ Membicarakan peranan anak muda di Indonesia dalam menyatakan pendapat saat ini memang tidak bisa terlepas dari pembahasan proses perjalanan sosio-hisotrisnya.

Pasalnya, golongan milenial merupakan golongan yang terbentuk di era demokrasi sehingga tidak bisa disalahkan bahwa generasi sekarang sangat leluasa untuk menyatakan pendapatnya.

Hal tersebut menjadi perhatian GMKI Medan Komisariat Universitas Medan Area (UMA) mengingat sebentar lagi adalah 92 tahun Sumpah Pemuda, oleh sebab itu diselenggarakanlah Diskusi Virtual yang bertemakan “Anak Muda Berdemokrasi” pada hari MInggu, 25 Oktober 2020 pukul 15.00 WIB melalui platform Google Meet.

Dalam perdiskusiaan ini, Fransiscus Bonahara Damanik selaku Ketua GMKI UMA dalam kata sambutannya menyatakan, dimasa kolonial pemuda dari berbagai daerah memberanikan diri untuk menyatakan pendapat, maka keluarlah tiga poin penting dalam isi sumpah pemuda.

Nah, bagaimana dengan kita-kita? Fransiscus Bonahara Damanik juga menyampaikan dalam akhir kata sambutannya ia mengutip, pernyataan dari Oprah Winfrey, “Melakukan apa yang anda sukai adalah kebebasan.

Menyukai apa yang anda adalah kebahagiaan sehingga bisa kita simpulkan kebebasan adalah perkakas untuk mencapai kebahagiaan, sedangkan demokrasi adalah media yang dijamin negara” tambahnya.

Diskusi Virtual yang diadakan oleh GMKI Komisariat UMA kali ini, menghadirkan pembicara antara lain:

Ikhsan Yosarie, Peneliti HAM & Sektor Keamanan SETARA Institute dan Dhyta Caturani, Aktivis & Founder PurpleCode Collective yang sekaligus di moderatori oleh Miko Hutapea, Wakil Sekretaris Aksi & Pelayanan GMKI Komisariat UMA.

Dalam perdiskusiaan yang berlangsung sore hari itu, Ikhsan Yosarie menyampaikan dalam harapan bahwa pemuda dalam iklim politik saat ini, seyogyanya harus mewarnai bukan diwarnai, jangan jadi tameng kekuasaan.

Sedangkan Dhyta Caturani menngatakan, anak muda saat ini memiliki peranan penting ditengah situasi saat ini, anak muda harus bergerak dan bangun dari tidurnya.

Dhyta juga menambahkan pemuda harus menunjukan fungsi sebagaii agent of change di tengah-tengah ketidakadilan, karna itu diatur dalam konstitusi.

Pada perdiskusiaan yang berlangsung lebih dua jam itu, beberapa pendapat serta pertanyaan terus berkembang hingga di akhir perdiskusiaan.(SB/01)