BI Perkirakan Ekonomi Sumut Triwulan III Membaik

Kepala Kantor Perwakilan BI Wilayah Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat berbicara kepada wartawan melalui Zoom Selasa (11/8/2020).

sentralberita|Medan~Ekonomi Sumut diperkirakan mulai membaik pada triwulan III karena aktivitas bisnis meningkat di era new normal terkonfirmasi oleh perkiraan kegiatan usaha ke depan yang naik.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat menegaskan hal itu kepada wartawan dalam Webinar Bincang Bareng Media (BBM) yang digelar BI Selasa (11/8/2020).

Wiwiek memperkirakan pada triwulan III daya beli masyarakat diprediksi mulai meningkat seiring dengan kembali beroperasinya sektor – sektor terdampak serta gencarnya bantuan sosial dari Pemerintah. Permintaan

eksternal untuk komoditas – komoditas unggulan diperkirakan kembali menggeliat didorong oleh perbaikan ekonomi dunia tercermin dari kenaikan harga di pasar internasional.

“Kendati demikian perbaikan tersebut diperkirakan masih belum optimal, terlihat dari beberapa pergerakan indikator yang belum pulih dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” kata Wiwiek.

Selain itu sebagian tenaga kerja (TK) juga telah kembali bekerja seiring dengan
pelonggaran pembatasan sosial. Pencairan gaji ke-13 di bulan Agustus 2020.Realisasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dan Dana
Desa yang masih on track.

Rencana realisasi dana penanganan bencana COVID-19 untuk kesehatan, jaring pengaman sosial dan pemulihan ekonomi. Realisasi investasi untuk maintenance rutin dan replanting masih berjalan on track.

‘Berlanjutnya pembangunan infrastruktur strategis pemerintah dan proyek kelistrikan multiyears.Peningkatan permintaan eksternal pasca penundaan akibat lockdown di beberapa negara mitra dagang.

Pasokan bahan baku komoditas ekstraktif yang melimpah turut mendukung perbaikan kinerja ekspor.

Peningkatan impor barang baku dan barang modal seiring dengan perbaikan permintaan ekspor dan domestik,” ungkap Wiwiek. “Permintaan domestik dan eksternal diperkirakan mulai picking up dan membaik,” katanya.

Perkiraan lainnya, pasokan perkebunan melimpahkarena cuaca yang mendukung.Peningkatan aktivitas produksi peternakan dan perikanan sejalan dengan permintaan yang mulai naik. Kinerja industri karet, sawit, dan kopi meningkat sejalan dengan
perbaikan permintaan eksternal.

“Membaiknya daya beli masyarakatseiring dengan sebagian TK yang telah kembali bekerja, program JPS yang masih berjalan
dan pencairan gaji-13 ASN di bulan Agustus,” kata Wiwiek.

Menurutnya, pembukaan kembali pusat – pusat perbelanjaan meski belum optimal juga akan mendukung tumbuhnya perekonomian secara positip. Berlanjutnya pembangunan infrastruktur strategis pemerintah dan proyek kelistrikan multiyears.

Percepatan realisasi Program Padat Karya Tunai dari Kemenhub, Kemen PUPR, dan Kementan Kinerja industri logam dasar meningkat didorong oleh
penyerapan domestik.

“Perbaikan diperkirakan terjadi pada seluruh lapangan usaha utama,” jelasnya.

Ia menambahkan sesuai dengan perkembangan terkini, dampak COVID-19 terdalam dirasakan pada triwulan II 2020 dan akan meningkat pada triwulan berikutnya seiring dengan fase pemulihan ekonomi. Pada kasus COVID-19 perlambatan dirasakan di sektor eksternal maupun domestik.

“Untuk itu dibutuhkan upaya keras untuk menahan penurunan daya beli masyarakat melalui program jaring pengaman sosial melalui anggaran pemerintah,” tegas Wiwiek.

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada triwulan II 2020 tercatat -2,37 persen (yoy), terkontraksi untuk pertama kalinya sejak krisis 1998. Realisasi ini menurun dari triwulan I 2020 yang masih tumbuh 4,65 persen (yoy), meskipun masih lebih baik dibandingkan nasional (-5,32 persen; yoy) dan

Sumatera (-3,01 persen; yoy). Dibandingkan dengan daerah lain di Sumatera, pertumbuhan Sumatera Utara masih lebih baik dari beberapa daerah lain seperti Riau, Kepulauan
Riau, Bangka Belitung, Sumatera Barat, dan Lampung.

“Perekonomian Sumut masih tumbuh cukup kuat dibandingkan nasional dan Sumatera,” katanya.

Menurut Wiwiek, jika pada triwulan III perekonomian Sumut juga mengalami kontraksi atau tumbuh negatip maka akan terjadi resesi di Sumut.

Dikatakan resesi jika di suatu daerah atau negara yang pertumbuhan ekonominya negatip dalam dua periode berturut-turut. “Jadi kalau negatip lagi pada triwulan berikutnya maka Sumut masuk ke dalam resesi,” ungkap Wiwiek yang berharap kondisi itu tidak akan terjadi. (SB/Wie)