Shalat Idul Adha di Masjid Agung, Ibadah Haji Menjadikan Umat Islam Toleran, Egaliter & Demokratis

Shalat Idul Adha di Masjid Agung Medan dengan prokes cukup ketat namun tetap khusyuk.

Shalat Idul Adha di Masjid Agung Medan dengan Prokes Cukup Ketat

Medan,
Nilai-nilai yang dikandung ibadah Haji cukup banyak antara lain bertujuan untuk menjadikan umat Islam menjadi umat yang toleran, egaliter dan demokratis.

Hal itu dikemukakan Prof Dr H Muzakkir MA saat Khatib Shalat Idul Adha 1441 H di Masjid Agung Jalan P Diponegoro Medan, Jumat (31/7) dengan Imam Al Hafiz Irham Taufik SPdi MSi.

Tampak Shalat antara lain Ketua Umum Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Agung Medan Dr H Impun Siregar MA, Ketua Bidang Kemakmuran H Yuslin Siregar, Sekretaris Drs H Hendra DS dan fungsionaris lainnya antara lain H Abdullah Matondang, Dhany dan Rizal Nasution.

Pelaksanaan Shalaf yang menerapkan protokol kesehatan (prokes) cukup ketat antara lain jamaah harus memakai masker dan membawa sajadah masing-masing ini, berlangsung khusyuk.

Lebih lanjut Prof Muzakkir mengemukakan Hari Raya Idul Adha sejatinya harus dijadikan momentum untuk merenungkan kembali makna kehidupan keberagamaan kita sebagai umat manusia sejagat.

“Melalui peristiwa haji dan Qurban walaupun secara eksotrik keagamaan menjadi ibadah khas ummat Islam, tetapi esensinya menyentuh aspek kemanusiaan universal,” ujar Guru Besar Ilmu Tasawuf pada Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam Univervitas Islam Negeri (UIN) Sumut ini.

Sedangkan peristiwa Qurban, lanjutnya, esensinya adalah simbolisasi penghargaan yang tinggi kepada nilai-nilai kemanusiaan sehingga manusia itu tidak layak untuk dikorbankan atas alasan apapun. Yang mesti dilakukan adalah bagaimana manusia seluruhnya bisa membunuh sifat-sifat kebinatangan dalam dirinya.

“Pesan universal yang dapat dipetik bersama adalah melalui Haji dan Qurban seluruh manusia kembali diingatkan kepada nenek moyangnya Ibrahim AS yang mengajarkan sikap tulus murni dalam mencari kebenaran dengan penuh kelapangan, merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya,” tuturnya.

“Implikasi keberagamaan yang seperti ini adalah penghargaan nilai-nilai rasa kemanusiaan yang berujung pada rasa persaudaraan yang tulus,” ujar alumni S1 dan S2 IAIN Sumut serta S3 Universiti Malaya Kualalumpur Malaysia ini.

Dengan penghayatan rasa kebertuhanan dan rasa kemanusiaan yang sejati ini lanjutnya manusia akan dapat menemukan kembali kedamaian dan kebahagiaan di dunia dalam menemukan kebenaran yang hakiki.(SB/01)