Investasi Sumut Belum Optimal

Gubsu Edy Rahmayadi, Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat foto bersama perwakilan kabupaten/kota pada acara “Capacity Building North Sumatera Invest 2019” di Kantor BI Jalan Balai Kota Medan Selasa (8/10).

sentralberita|Medan~Investasi di Sumatera Utara belum optimal dan tidak merata terlihat dari hingga triwulan II/2019 realisasi PMA/PMDN baru mencapai sekira sepertiga dari target, bahkan tingkat investasi (ICOR) 5,67 persen cukup tinggi yang artinya masih ada inefisiensi dalam berinvestasi sehingga perlu diperbaiki.

Hal itu dikatakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Utara Wiwiek Sisto Widayat pada acara “Capacity Building North Sumatera Invest 2019” di Kantor BI Jalan Balai Kota Medan Selasa (8/10).

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) bersama Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumut melaksanakan capacity building North Sumatera Invest (NSI) 2019 di Aula Kantor BI Sumut, Jalan Balaikota Medan, Selasa (8/10).

Hadir Gubsu Edy Rahmayadi sebagai keynote speaker. Pembicara lainnya Direktur Departemen Luar Negeri BI Ricky P. Ghozali, Kepala Subdirektorat Kelembagaan Kelembagaan Informasi, Regulasi Direktorat Kerjasama Pemerintah Swasta dan Rancang Bangun Bappenas Reghi Perdana dan Direktur Pengembangan Potensi Daerah Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Iwan Suryana. Acara itu dihadiri perwakilan dari 33 kabupaten/kota di Sumut.

Wiwiek menyebut realisasi Penanaman Modal Asing (PMA)/Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Sumut hingga triwulan II 2019 baru mencapai sepertiga (Rp11,48 triliun) dari target tahun 2019 yakni Rp33,91 triliun. Dari sisi sektoral, investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dengan realisasi tertinggi merupakan jasa mencapai Rp901,76 miliar, disusul listrik, gas dan airways Rp478,91 miliar dan industri makanan Rp367,09 miliar. Paling rendah sektor perdagangan dan reparasi Rp214,86 miliar.

Sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), realisasi tertinggi pada sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi Rp2,653 triliun, disusul perkebunan Rp1,701 triliun, industri makanan Rp1,552 triliun, konstruksi Rp1,366 triliun dan pertambangan Rp350,74 miliar.

“Untuk itu, investasi Sumut perlu digenjot lebih kuat lagi guna mencapai target,” kata Wiwiek.
Oleh karena itu, jelasnya, North Sumatera Invest (NSI) dibentuk berdasarkanberdasarkan surat keputusan Gubsu nomor 188.44/140/KPTS/2018 dengan strukturnya ketua Sekda Provsu dan wakil ketua Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumut dan sekretaris Kabiro Perekonomian Provsu.

Wiwiek menjelaskan NSI ini merupakan sebuah tim kerja lintas instansi di Sumut yang memiliki tujuan meningkatkan investasi Sumut melalui kegiatan promosi investasi dalam rangka peningkatan perekonomian Sumut. Keanggotaan NSI terdiri dari instansi di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

“Capacity building NSI 2019 dilaksanakan agar NSI lebih aktif lagi dalam mendorong peningkatan investasi di Sumut,” jelas Wiwiek.

Menurutnya, investasi mampu menopang pertumbuhan ekonomi. Provinsi dengan komposisi investasi yang lebih besar pada struktur perekonomian mampu mendorong pertumbuhan lebih tinggi. Kenyataannya saat ini, Sumut tumbuh lebih rendah dibandingkan Sumsel, DKI Jakarta dan Riau.

Dari data tahun 2019, pertumbuhan investasi Sumut hanya enam persen, dimana tahun lalu mencapai 11 hingga 12 persen. Artinya, ada sesuatu yang salah. “Saat ini banyak calon investor yang ingin masuk ke Sumut. Mereka menanyakan apa yang bisa ditawarkan Sumut untuk mereka berinvestasi. Namun, kita tidak memiliki data, dalam artian data proyek apa yang sudah siap dibiayai mereka,” katanya.

Dengan adanya NSI, pihaknya bersama para stakeholder lainnya akan mengumpulkan seluruh database terkait proyek-proyek yang ada di Sumut. Sehingga jika ada investor yang datang, sudah ada data yang akurat.
Nantinya akan dibangun tiga feasibility study yakni blue book, green book dan brown book. Setelah acara ini, harapannya kawan-kawan dari kabupaten/kota akan menyerahkan data mengenai proyek-proyek yang ada di masing-masing daerah mereka. Sehingga informasi data tersebut dapat dikumpulkan dan digunakan untuk mempromosikan investasi Sumut dengan data yang sama (akurat) melalui satu pintu.

Kadis Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Provinsi Sumut, Arief S Trinugroho menuturkan, PMA/PMDN Sumut masih terkonsentrasi di Kota Medan dengan realisasi PMA per sektor terbesar di sektor jasa mencapai Rp902 miliar dan PMDN per sektor terbesar di sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi mencapai Rp2,65 triliun.

Ia menambahkan realisasi investasi PMA periode Januari hingga Juni 2019 berdasarkan negara asal di Sumut didominasi Singapura diikuti Korea Selatan, Malaysia, Belanda dan Australia. Sedangkan, proyek yang siap ditawarkan di Sumut diantaranya, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kawasan Industri Kuala Tanjung, Danau Toba, Bendungan Serbaguna Lau Simeme, jalan tol Trans Sumatera dan lainnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kerjasama yang dilakukan dalam NSI yaitu Regional Investment Forum di Tangerang, Banten, Indonesia Investment Day di Singapura dan kunjungan kerjasama Provinsi Sumut dengan Pemerintah Zhejiang.

Acara diakhiri dengan penandatanganan database NSI oleh perwakilan kabupaten/kota. (SB/wie)