Jeritan Petani Siapa Peduli Harga Gabah Anjlok Lagi

ladang-sawahSentral Berita | Medan ~ Harga gabah petani yang belakangan terus anjlok di saat panen raya sekarang, mestinya bikin waswas. Apal­agi, Badan Urusan Logistik (Bulog) ogah membeli gabah para petani lantaran saat ini gudangnya penuh.

Hal ini diungkap Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Thohir. “Kalau serapan oleh Bulog anjlok dan terus berlanjut, tentu ini akan mengecewakan petani,” katanya di Jakarta, kemarin.

Menurut Winarno, beberapa gudang Bulog di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat penuh. Namun dengan kondisi tersebut, lanjut dia, bukan men­jadi alasan bagi Bulog berhenti melakukan pembelian gabah para petani.

Karena target serapan gabah pada ketiga provinsi tersebut belum terpenuhi. Dia pun khawatir kondisi tersebut akan menyebabkan harga gabah petani anjlok padahal saat ini banyak petani di Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah sedang melakukan panen raya.

“Jika yang terjadi sekarang serapan gabah oleh Bulog anjlok dan tidak mampu diangkat kem­bali, dikawatirkan harga pemblian gabah di tingkat petani oleh pihak lain selain Bulog merosot tajam,” katanya.

Penuhnya gudang Bulog di tiga propinsi tersebut menyebab­kan penurunan tajam pada sera­pan Bulog pada Juli-Agustus dan September. Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Pertanian hingga 5 September 2016, serapan beras di propinsi Jabar mencapai 438.724 ton dari target 650.000 ton, Jateng sebesar 451.922 ton dari target 615.000 ton dan Jatim 581.011 ton dari target 1.050.000 ton sampai dengan akhir tahun.

Pada 2016 ini, serapan tertinggi rata-rata dicapai pada bulan Mei 101.471 ton untuk Jabar, 100.558 ton untuk Jateng, dan 133.275 ton untuk Jatim. Anjloknya serapan tersebut mulai terlihat terlihat pada Juli dan Agustus, dimana angka serapan berada pada kisaran 40 persen disbanding serapan pada April-Mei.

Menurut Winarno, anjloknya serapan gabah ini tidak sejalan dengan potensi panen pada bulan-bulan ke depan. Kontras dengan kondisi saat ini, dimana produksi melimpah tetapi serapan anjlok. Kondisi ini, menurutnya, sudah pasti akan mempengaruhi harga gabah di tingkat petani.

Pemerintah sendiri jauh-jauh hari telah mencanangkan Serap Gabah Petani (Sergap) yàng merupakan kegiatan strategis yang didengungkan oleh Kementerian Pertanian bersama Bulog. Progràm tersebut merupakan bagian dari pengendalian harga gabah di tingkat petani dan beras di tingkat konsumen.

Ketika harga gabah di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP), Bulog diwajibkan me­nyerap dengan harga HPP. “Jika ini berlanjut tentu akhirnya akan mempengaruhi target stok Bulog 3,9 juta ton pada tahun 2016, dan menurunnya kesejahteraan petani,” sambung dia.

Lebih lanjut, Winarno menuturkan, presiden telah mengeluarkan Keppres yang mewajibkan Bulog membeli langsung gabah petani. Anggarannya pun sangat besar agar bisa bersaing dengan para tengkulak.

“Kalau tidak segera, harga gabah anjlok dan petani tidak bersemangat lagi,” katanya.

Winarno pun mengapresiasi upaya Kementerian Pertanian (Kementan) memenuhi produksi dengan memaksimalkan penyerapan dan pengendalian harga di tingkat petani.

“Jika gudang Bulog penuh, maka dari provinsi-propinsi yang surplus, yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulsel, produksi berasnya harus di-move out (dipindahkan) ke propinsi provinsi yang masih minus,” ingatnya.

Sebelumnya, Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu menolak penyerapan yang di­lakukan pihaknya tidak optimal. Menurutnya, setiap hari Bulog menyerap hampir 15.500 ton beras. Dia juga memastikan berupaya menjaga harga pembe­lian beras di petani. “Berapapun harga yang diminta petani asal tidak keluar dari HPP Bulog pasti beli,” kata Wahyu. [hta/rmol]

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.