Tidak Ada Perkawinan dengan Gajah Lain, PD Pembangunan Akan ‘Minta’ Sepasang Gajah ke BBKSDA Sumut

sentralberita|Medan~Dengan matinya gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis) bernama Neneng (55), saat ini hanya tinggal satu koleksi gajah betina di Kebun Binatang Medan, bernama Siti (51). Kedua gajah tersebut sejak dulu tidak pernah ada perkawinan dengan gajah lain sehingga tidak ada perkembangbiakan.

Direktur Perusahaan Daerah (PD) Pembanguan Putrama Al Khairy mengatakannya kepada wartawan di sela-sela proses nekropsi atau bedah bangkai gajah Neneng di sebuah lembah di areal kebun binatang seluas 30 hektare itu pada Sabtu sore (25/1/2020).

“Bagaimana berkembang biak gajah-gajah ini, betina semua. Neneng dan Siti itu betina dan tidak pernah (dikawinkan dengan gajah jantan lain),” katanya.

Dikatakannya, gajah Neneng yang berasal dari Aceh dan Siti dari Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan itu sudah menghuni di Kebun Binatang Medan sejak 15 tahun yang lalu dan dirawat oleh pawang-pawang atau mahout.

“Kita akan buat permohonan gajah. Sepasang lah, dua ekor. secepatnya kita buat surat ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA). Sepengetahuan kami banyak gajah. Mahout kita sudah berpengalaman untuk menjinakkan,” katanya.

Kalau kita ke tangkahan tempat gajah juga interaksi dengan pengunjung dan boleh naik gajah, khusus di Medan Zoo sejak di Kampung Baru juga gajah ditunggangi pengunjung , gajah happy penghujung happy , gajah di Medan zoo begitu akrab dengan manusia ,coba bandingkan kasus dikebun binatang lain atau gajah lain banyak kasus gajah menendang dokter hewannya, gajah menginjak pengunjung ,jadi familiar ya gajah Medan zoo itu keunikan tersendiri, kata Putrama.

Pantauan di lapangan, saat tim dokter hewan di Kebun Binatang Medan melakukan nekropsi atau bedah bangkai gajah Neneng, dua orang yang diketahui merupakan perwakilan dari BBKSDA Sumut tiba di lokasi turut menyaksikan proses tersebut. Namun demikian, belum
sempat dilakukan wawancara.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, gajah Neneng (55) mati pada Sabtu pagi (25/1/2020) pukul 10.20 wib. Nekropsi dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian gajah yang selama ini menjadi daya tarik kebun binatang dan kerap ditungganggi pengunjung, khususnya pada saat libur.

Dokter hewan di Kebun Binatang Medan, drh. Sucitrawan mengatakan, gajah Neneng mati pada Sabtu pagi tadi pukul 10.20 wib. Kematiannya diindikasikan karena faktor usia.
“Pertama faktor usia lah yang kita tahu, kita kan baru bongkar (nekropsi) ini,” ucapnya.

Dijelaskannya, sebelumnya tim dokter sudah melakukan perawatan terhadap Neneng. “Gejala awalnya, Neneng gak mau makan, agak lemah, kita rawat kita infus terus kasih vitamin dan antibiotik,” jelasnya. (SB/01)

Comments