BI: Inflasi Sumut 2019 Masih Tinggi

Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumut Wiwiek Sisto Widayat.

sentralberita|Medan~Meski pada Oktober 2019 Sumatera Utara mengalami deflasi 0,28 persen, namun dalam dua bulan ke depan yakni Nopember dan Desember perlu lebih diwaspadai lagi karena pengaruhnya akan membuat inflasi keseluruhan tahun 2019 diperkirakan masih tinggi di posisi 4,0 – 4,5 persen (yoy).

“Dalam dua bulan ke depan ini ngeri-ngeri sedap,” ungkap Wiwiek Sisto Widayat, Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Utara kepada wartawan di Medan Kamis (7/11).
Saat itu dia didampingi Deputi Kepala Perwakilan BI Sumut Ibrahim, Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi dan UMKM Demina Sitepu.

Menurut Wiwiek, tingginya inflasi 2019 dipengaruhi antara lain oleh inflasi kelompok bahan makanan, makanan jadi serta kelompok sandang. Merespon hal tersebut, Pemerintah Daerah dan Bank Indonesia dalam forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus melakukan upaya-upaya pengendalian menjaga laju inflasi Sumut hingga akhir 2019. “Minggu depan kami rapat koordinasi TPID untuk membahas masalah ini,” kata Wiwiek.

Ia menjelaskan secara historis, tekanan inflasi pada Nopember 2019 terutama bersumber dari bahan makanan dan komoditas rokok. “Untuk Nopember ini perlu diwaspadai komoditi cabai merah, bawang merah, ikan, telur dan daging ayam,” jelas Wiwiek.

Begitu pula pada Desember 2019 tekanan inflasi biasanya juga meningkat terutama bersumber dari bahan makanan dan penyesuaian tarif angkutan udara menjelang libur akhir tahun. “Jadi tekanan inflasi Desember juga perlu mendapat perhatian serius,” katanya.

Dengan perkiraan itu, inflasi 2019 diperkirakan masih tinggi berkisar 4,0 sampai 4,5 persen yoy, jauh lebih tinggi dari tahun 2018 sebesar 1,23 persen yoy. “Namun harapan kita turun,” ungkapnya.

Pengaruh lainnya yang membuat inflasi masih tinggi di 2019 yakni inflasi tahun kalender (Januari – Oktober) 2019 sebesar 3,21 persen (ytd) merupakan paling tinggi se Indonesia. Inflasi Oktober dibanding posisi sama tahun 2018 (yoy) sebesar 2,84 persen. Sedangkan nasional inflasi ytd hanya 2,22 persen dan yoy sebesar 3,13 persen. Di Sumatera, pada Oktober terjadi deflasi 0,17 persen, ytd 2,18 persen dan yoy 2,84 persen.

Dalam dua bulan ini pengaruh bahan makanan yakni peningkatan komoditas bumbu-bumbuan khususnya cabai merah karena produksi belum optimal di tengah permintaan yang tinggi. Makanan jadi meningkat seiring dengan event besar seperti pariwisata daerah. Sandang, tendensi peningkatan harga emas di pasar global.

Risiko inflasi yakni fluktuasi harga pangan, khususnya hortikultura yang rentan terhadap kondisi cuaca. Harga tiket pesawat beresiko dalam tren yang yang kembali meningkat. Perbaikan harga minyak dunia perlu diwaspadai karena akan mempengaruhi penyesuaian harga bahan bakar domestik. Penyesuaian harga rokok secara gradual sejalan dengan kenaikan cukai rokok rata-rata 23 persen dan mulai Januari 2020.

Wiwiek menyebut untuk menjaga agar inflasi Sumut dapat berada pada rentang target inflasi nasional 3,5 plus minus 1 persen sampai akhir tahun 2019, BI bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) merekomendasikan lima pengendalian inflasi jangka pendek yakni memantau harga pasar, menggiatkan Satgas pangan, menguatkan data produksi, melaksanakan operasi pasar dan melakukan dialog dengan pelaku pasar.

Pengendalian jangka panjang yakni penyediaan CAS di lokasi sentra produksi, pendirian BUMD pangan, kerjasama perdagangan antar kabupaten/kota. Penerbitan regulasi penggunaan dana APBD untuk kegiatan pengendalian inflasi. Mengatur pola tanam antar sentra produksi. (SB/wie)

Comments