Sekretaris SIWO Pusat: Resiko Jadi Wartawan Harus Siap Banyak Musuh

sentralberita| Medan~ Pelatihan Manajemen Informasi Keolahrgaan KONI kota Medan yang berlangsung di Hotel Grand Kanaya Medan, Selasa (28/9/2021) menghadirkan Sekretaris SIWO Pusat Suryansah. Di hadapan wartawan olahraga dengan judul “Wartawan Tak Boleh Mati”, menyampaikan resiko menjadi wartawan.

Menurutnya, resiko menjadi wartawan sarat kematin. Dijelaskannya, saat menjalankan tugas liputan di tempat yang sedang terjadi kerusuhan atau bencana alam harus siap menhgadapi hal-hal yang tak terduga , termasuk kematian.

“Nyatanya bukan hanya tentara yang rela mati bagi negara, Wartawan juga harus rela mati demi berita. Jadi kalau kamu tidak sungguh-sunggh ingin jadi wartawan, lebih baik jangan,”ujarnya pada pelatihan yang dibuka Ketua KONI Medan Eddy Sibarani itu.

Bagi Suryansah, wartawan bukanlah buruh pabrik, masuk pagi pulang sore, jam kerjanya pasti. Wartawan itu profesi dituntut selalu siap dan siaga.

“Semua harus ditinggalkan demi mendapat berita ekklusif dari tempat kejadian langsung. Wartawan bekerja pada industri yang sifatnya menuntut. Menuntut waktu, kecepatan dan pikiran,” tuturnya.

Selain itu, resiko menjadi wartawan itu siap punya banyak musuh. Pekerjaan wartawan adalah memberitakan. Pastinya bukan hanya berita yang baik-baik saja, berita buruk juga. Tentu hal tersebut memicu pro dan kontra dari berbaai macam pihak yang membaca berita.

“Disitu kamu bakal banyak musuh, ada pihak yang merasa tidak senang dangn apa yang ditulis,”ujarnya seraya menyampaikan syarat menjadi wartawan yakni tidak alergi terhadap teknologi, punya naluri ingin tahu yang tinggi dan bukan penakut, mengusai bahasa, santun dan etika, disiplin waktu dan berwawasan luas.

Jurnalistik di Era Media Sosial

Pada bagian lain Suryansah menyampaikan, jurnalistik di era media sosial yang mengharuskan wartawan tidak hanya bisa menulis tapi juga keterampilan multi media.

Media sosial hadir sejak dunia memasuki era internet dan kemunculan situs-situs jejaring sosial, khusnya facebook dan twitter, sebagai saluran interaksi secara online.

Terkait dengan media sosial tersebut, persa dan wartawan membutuhkan reatifitas dan mengikuti perkembangan zaman, setidaknya harus melek teknologi.

“Pers tidak akan pernah mati, itulah kekuatan terbesarna, tetapi juga menjadi kelemahan terbesarnya,”ujar Sekretaris SIWO seraya mengatakan dunia sudah berubah dan membawa aturan baru yang harus dimengeri dan memahaminya agar tidak tersisih.(SB/01)