Pandemic? Don’t Panic! Mahasiswa FISIP USU Tetap Produktif di Masa Pandemi dengan Mematuhi Prokes

sentralberita|Medan~Pada masa pandemi seperti ini, banyak sekali kendala yang dihadapi masyarakat, bukan hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia.

Para pelajar turut mengalami kendala dalam proses belajar dikarenakan sekolah-sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan lainnya melakukan pembatasan, sehingga pelajar lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.

Program studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU tidak membiarkan masa pandemi ini menjadi rintangan bagi para mahasiswanya untuk terus berproduktif. Melalui kegiatan praktikum yang dimulai pada 9 Maret 2021, para mahasiswa dituntut untuk terus aktif berkontribusi di sekitar lingkungannya.

Dewi Meutia (NIM 180902001), salah satu mahasiswa semester 6 Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU dengan Supervisor Sekolah : Drs. Matias Siagian M.Si., Ph.D Supervisor Lembaga : Agus Manshuri, S.Sos., M.AP melakukan praktikum di Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan atau yang biasa disingkat dengan DP3APM.

Dewi mengatakan banyak sekali hal-hal baru yang dipelajarinya saat menjalankan praktikum di DP3APM Kota Medan yang beralamatkan di Jl. Jenderal Besar A.H. Nasution No. 112, Kwala Bekala, Kec. Medan Johor, Kota Medan itu. Kegiatan praktikum ini dibimbing oleh Supervisor sekolah yakni Drs. Matias Siagian M.Si., Ph.D. dan supervisor lembaga dari DP3APM yakni Agus Manshuri, S.Sos., M.AP.

“Banyak banget yang bisa saya pelajari di sana, mulai dari administrasinya, surat-surat, kearsipan, mengikuti agenda rapat, sampai upaya penanganan mereka terhadap kasus-kasus yang dilaporkan” Ujar Dewi.

Terdapat 4 (empat) bidang dalam DP3APM Medan yakni:
1) Bidang Kualitas Hidup Perempuan dan Kualitas Keluarga, Data dan Informasi
2) Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak
3) Bidang Pemenuhan Hak Anak
4) Bidang Pemberdayaan Masyarakat.

Kasus yang ditangani DP3APM Medan meliputi kasus kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, eksploitasi, trafficking, KDRT, dll yang korbannya adalah perempuan dan anak-anak.

Untuk penanganan kasus, korban terlebih dahulu melapor ke Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak untuk kemudian di proses kasusnya. Penyelesaian kasus dilakukan dengan mediasi jika memungkinkan dilakukannya mediasi.

Mediasi biasa dilakukan sebanyak 2-3 kali, namun jika berpotensi dilakukan mediasi lagi, maka akan ditambah jumlahnya. Tidak ada dokumentasi sedikitpun yang boleh disebarkan ke masyarakat luas mengenai penanganan kasus.

Selama masa pandemi ini, kasus yang ditangani DP3APM Medan kebanyakan bersumber dari masalah rumah tangga, yang menginspirasi Dewi untuk membuat poster “Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Masa Pandemi” “Bukan hanya kasus yang ditangani DP3APM Medan saja, tapi saya juga melihat di artikel-artikel berita online bahwa kasus KDRT mengalami peningkatan selama masa pandemi ini” lanjutnya.

Selain aktif melakukan praktikum di DP3APM Medan, Dewi juga aktif membimbing 2 (dua) orang anak sekolah di sekitar tempat tinggalnya. Selama masa pandemi ini, banyak sekali anak-anak sekolah mengalami kesulitan dalam metode belajar daring yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Pemberian gawai pada anak juga menimbulkan beberapa permasalahan, salah satunya anak-anak bukannya belajar malah fokus bermain gim daring dan membuka berbagai aplikasi yang tidak sesuai dengan umurnya.

“Saya perhatikan anak-anak di sekitar rumah, mereka sering sekali berkumpul bermain game ramai-ramai bukannya belajar. Saya juga lihat di handphone mereka ada aplikasi yang seharusnya tidak mereka buka, seperti aplikasi pencarian teman di dunia maya. Saya khawatir mereka akan menjalin komunikasi dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.” Ucapnya.

Pada kondisi seperti ini, Dewi menilai adanya yang perlu dibenahi menggunakan metode social casework. Marry Richmon yang merupakan pelopor penggunaan metode secara ilmiah mengatakan bahwa social casework merupakan suatu proses yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian seseorang melalui penyesuaian diri yang dilakukan secara sadar, melalui relasi individu, antara orang dengan lingkungan sosialnya. Selain itu, Dewi menggunakan asumsi dasar dari social casework menurut Sophia A. Robinson, yakni:
1) Setiap individu harus dipandang sebagai seorang yang memiliki harga diri dan martabat.
2) Setiap perlilaku, baik yang diterima maupun tidak diterima oleh masyarakat, merupakan ekspresi dari kebutuhan setiap individu.
3) Setiap individu mampu dan bersedia berubah jika bantuan diberikan dalam jumlah yang cukup dan dalam waktu yang tepat.
4) Jika bantuan yang diberikan sebelum masalah berkembang semakin serius, maka tanggapan klien akan semakin baik.
5) Keluarga merupakan kekuatan pemberi pengaruh yang sangat penting dalam pengembangan kepribadian, terutama dalam fase usia dini yang penting.

Dalam kegiatan ini, pertama Dewi melakukan engagement pada mereka. Engagement adalah suatu tahap awal dalam praktek pertolongan; yaitu kontrak awal antara pekerja sosial dengan klien yang berakhir pada kesepakatan untuk terlibat dalam keseluruhan proses.

Kemudian dilanjutkan dengan asessment, yakni suatu tahap untuk mempelajari masalah-masalah yang dihadapi klien. Dewi menggunakan pohon masalah untuk menganalisis masalah klien.

Setelah Dewi memahami permasalahan mereka, ia langsung membuat Perencanaan (planning); yakni suatu pemilihan strategi, teknik dan metode yang didasarkan pada proses assessment masalah.

Perencanaan yang akan Dewi lakukan adalah dengan membimbing mereka dalam belajar, karena ia sudah cukup mampu dalam metode pembelajaran daring. Dewi juga melakukan mini project yakni dengan memfasilitasi mereka dalam mengembangkan bakat mereka seperti menggambar, memainkan permainan yang mengasah otak, dll.

Setelah perencanaannya telah tersusun, Dewi masuk ke tahap intervensi yakni suatu kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan perubahan berencana dalam diri klien dan situasinya.

Tahap selanjutnya adalah Evaluasi yang merupakan suatu penilaian terhadap pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dalam planning, serta melihat kembali kemajuan-kemajuan yang telah dicapai sehubungan dengan tujuan. Pada tahap ini Dewi menjelaskan bahwa mereka mulai paham tentang metode belajar daring, namun kecanduan terhadap gim daring masih belum mengalami penurunan yang berarti.

Dengan kegiatan tersebut, Dewi berharap anak-anak di sekitar tempat tinggalnya lebih terarah dan terbantu mengingat tidak semua orang tua bisa mengajari anak-anaknya di rumah.

“Semoga dengan adanya kegiatan seperti ini bisa membantu ya buat anak-anak sekitar rumah saya, ya walaupun masih dua orang saja. Mungkin kalau saya sudah bisa menggunakan metode seperti group work nanti bisa ditambah jumlah anak-anak yang saya bina” tutup Dewi.