Mahasiswa IKS FISIP USU Tanamkan ‘Self Confidence’ Meraih Pendidikan di Panti Asuhan Pintu Harapan Medan

sentralberita|Medan~Dalam rangka kegiatan Praktik Kerja Lapangan yang diselenggarakan oleh kampus, Yohanna Arminta Zega (NIM 180902057) yang merupakan mahasiswa program studi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU melaksanakan kegiatan PKL di kantor Human Initiative Sumut yang terletak di Jl. Kenanga Raya, Kel. Tanjung Sari, Kec. Medan Selayang, Kota Medan Sumatera Utara.

Human Intiative Sumut merupakan salah satu Non Governmental Organization (NGO) yang bergerak di bidang kemanusiaan, bencana, dan kemandirian masyarakat. Fokus dari lembaga ini adalah menghadirkan solusi, mewujudkan peduli pada masyarakat.

Kegiatan PKL ini berlangsung selama kurang lebih 3 bulan, yang dimulai sejak 9 Maret 2021 hingga 8 Juni 2021. Praktikum ini dibimbing oleh Ibu Malida Putri S.Sos, M.Kessos selaku Supervisor Sekolah, dan Pak Rahmad Shidiq selaku Supervisor lembaga.

Sebelum melaksanakan kegiatan praktikum, saya melaksanakan pertemuan perdana dengan Bapak Kepala Cabang Human Initiative Sumut dalam rangka penyampaian tujuan PKL, penandatanganan kontrak dan pengenalan terhadap lembaga serta para staf yang bekerja di sana. Selama melaksanakan praktikum, kegiatan yang dilakukan tentu saja dibimbing dan diarahkan langsung oleh supervisor lembaga.

Pada minggu pertama, saya membantu dalam penataan inventarisasi kantor, yaitu mendata dan menata barang-barang ke dalam lemari agar tampak bersih dan rapih. Hal ini dilakukan dalam rangka pembersihan dan penataan gedung kantor yang baru saja ditempati setelah berpindah dari gedung kantor yang lama.

Minggu kedua, saya membantu dalam mengecek kelengkapan inventaris, memilah barang-barang yang masih layak pakai, mensortir obat-obatan yang masih layak konsumsi untuk kemudian disalurkan kepada penerima manfaat.

Minggu-minggu selanjutnya, saya mulai mengambil bagian dalam membantu persiapan program-program ramadhan yang akan dilaksanakan oleh lembaga, seperti mempersiapkan brosur dan proposal penggalangan dana, membantu menginput data-data para penerima manfaat, menghitung hasil donasi yang masuk, dan membantu persiapan stan-stan penggalangan dana yang akan dibuka di beberapa tempat umum.

Kemudian, saya juga membantu persiapan sembako yang akan dibagikan kepada masyarakat sekitar, persiapan hadiah atau piala perlombaan kegiatan ramadhan, hingga membantu dalam penyaluran donasi dari masyarakat dalam bentuk nasi kotak untuk berbuka puasa kepada saudara-saudara yang membutuhkan.

Penyaluran donasi yang saya ikuti dilaksanakan di dua tempat, yaitu di DPD PERTUNI (Persatuan Tuna Netra Indonesia) Sumut, dan selanjutnya di salah satu pemukiman pengungsi Rohingya.

Lalu, saya juga sempat mengunjungi Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kota Medan dalam rangka diskusi mengenai permintaan izin pemasangan neon box di depan kantor Human Initiative. Dan tidak lupa, saya juga melaksanakan pembuatan dan pemasangan poster mengenai vaksinisasi covid-19 di Kantor Kelurahan Tanjung Sari, dengan tujuan untuk memberi edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya vaksinisasi sebagai salah satu cara mengurangi penyebaran covid-19 di Indonesia.

Selain melaksakan kegiatan PKL di kantor Human Initiative, saya juga melakukan mini project untuk menerapkan praktik intervensi mikro di Panti Asuhan Pintu Harapan yang terletak di Jl. Danau Sipinggan, Kel. Sei Agul, Kec. Medan Barat, Kota Medan.

Di sana saya memiliki seorang klien bernama Winer Sarumaha (11 tahun) yang memiliki masalah kepercayaan diri dalam bersekolah dikarenakan usianya yang sebenarnya sudah dapat masuk jenjang SMP, tetapi malah baru memulai pendidikan di kelas 1 SD.

Klien sering merasa minder karena kadang mendapat bully-an dari teman-temannya akibat masih belum lancar membaca, menulis, dan berhitung. Hal tersebut pun kadang membuat klien merasa tertekan, insecure, sehingga tidak memiliki semangat belajar dan kadang menarik diri dari teman-temannya.

Dalam hal ini, tahapan intervensi yang saya gunakan menggunakan teori dari Skidmore, Thackeray, dan Farley (1994:59-63) yang menggambarkan proses casework menjadi empat tahapan jika dilihat dari relasi antara therapist/caseworker (pihak yang melakukan terapi/intervesi) dengan kliennya, yaitu:

  1. Tahap ‘Penelitian’ (Studi Phase) : Pada tahap inilah proses penjalinan relasi (engagement) antara saya sebagai caseworker dan klien terjadi melalui pendekatan yang saya lakukan dengan klien secara fisik maupun verbal. Saya dan klien saling memperkenalkan diri, mengajak klien untuk bercanda gurau dan bermain, serta bercerita mengenai hal-hal yang klien sukai.
  2. Tahap Pengkajian (Assessment Phase) : Proses ini diawali dengan pernyataan masalah apa yang dihadapi oleh klien, sebagai langkah awal untuk memahami permasalahan apa yang sebenarnya dihadapi oleh klien tersebut. Pada tahap ini saya berusaha menggali informasi melalui wawancara dengan klien mengenai diri klien dan keluarganya, masalahnya dalam belajar, serta potensi-potensi apa yang dimiliki klien yang kira-kira dapat membantu saya untuk menemukan cara yang tepat untuk membantu klien. Dalam proses assessment ini saya menggunakan tools Napoleon Hills, dimana saya berusaha menggali cita-cita dan rencana masa depan klien dengan menggunakan metode “Tree of Hope” atau Pohon Harapan yang saya kembangkan untuk mendorong klien memiliki rencana untuk masa depannya. Saya menggunakan tools ini karena klien masih susah dalam menentukan target hidupnya di masa depan dan masih ragu-ragu untuk memiliki cita-cita. Dari hasil assessment ini akhrinya klien dapat menentukan cita-citanya, yaitu ingin menjadi seorang polwan (polisi wanita), dan juga bisa menentukan rencana masa depannya sendiri. Saya menggunakan teori Intelegensi guna menggali penyebab masalah berpikir dan belajar klien, untuk membantu saya menemukan pemecahan masalah dengan melihat cara klien memproses sesuatu hal, dan kemampuan yang dimilki untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
  3. Tahap Intervensi : Tahap ini sebenarnya sudah diawali pada pertemuan pertama dengan klien. Proses penelitian/engagement sudah dapat dikatakan sebagai treatment ketika proses ini sudah membantu klien untuk dapat menyadari dan mengklarifikasi masalahnya dan bersedia melakukan perubahan. Tahap ini saya bagi dalam dua sub-tahap, yaitu :
  • Perencenaan program, yang sesuai dengan masalah dan melakuan pemilihan alternatif pemecahan masalah bersama klien. Adapun program yang ingin saya lakukan dalam tahapan perencanaan adalah membantu klien agar mendapatkan kepercayaan dirinya belajar membaca, menulis, dan berhitung yang saya kolaborasikan dengan cara-cara yang unik, seperti menggunakan “Magic Jar” yang saya gunakan untuk mengasah kemampuan membaca dan menghafal klien, juga “My Daily Diary” untuk mengasah kemampuan menulis klien, dan “Story Telling” untuk mengasah kemampuan berkomunikasi klien. Selain itu, saya juga akan melakukan pemberian motivasi dan edukasi serta mengasah potensi klien melalui penampilan bakat.
  • Pelaksanaan Program : Pada tahap ini saya melaksanakan program-program yang sudah saya rancang bersama dengan klien. Saya melakukan kunjungan ke panti secara berkala untuk melihat progress dari klien dan memberi dukungan sesuai dengan teori Motivasi agar klien semangat dalam menjalani program. Sebagai penunjang dalam program saya, saya menggunakan teori Reward and Punishment untuk memotivasi klien menjalani program dengan memberi reward berupa hal yang klien sukai ketika berhasil melaksanakan misi yang saya berikan, dan memberi punishment yang positif ketika klien gagal menjalankan misi. Namun selama masa intevensi, klien selalu berhasil menjalankan misinya, sehingga tidak pernah mendapat punishment.
    Dalam membantu klien mengatasi masalahnya, saya berperan sebagai pemercepat perubahan (enabler) dan sebagai pendidik (educator).
  1. Terminasi : Fase ini merupakan tahapan di mana relasi antara caseworker dan klien akan dihentikan dengan memastikan klien sudah mampu menolong dirinya sendiri di masa yang akan datang. Tahap ini saya barengi dengan evaluasi program yang telah dilakukan bersama dengan klien.
    Setelah empat tahapan intevensi dilakukan, saya dapat melihat dampak yang cukup memuaskan, diantaranya:
  • Klien sudah percaya diri dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitungnya yang semakin lancar.
  • Klien sudah berani mengungkapkan perasaannya bila diperhadapkan dengan teman-temannya yang mem-bully klien dengan menegur secara baik.
  • Klien mampu menenangkan dirinya sendiri ketika sedang merasa minder/insecure.
  • Memiliki cita-cita yang klien jadikan sebagai motivasi untuk terus belajar.
  • Prestasi klien semakin meningkat di sekolah.

Pada akhir masa PKL dan intervensi, saya beserta teman-teman mengadakan kegiatan kecil-kecilan sebagai rasa terima kasih kepada pihak lembaga Human Initiative dan Panti Asuhan Pintu Harapan yang telah memberi kesempatan bagi saya secara pribadi dalam menerapkan ilmu yang telah saya peroleh dari kegiatan belajar di kampus selama ini. Kegiatan ini diakhiri dengan pemberian sertifikat dari Human Initiative Sumut kepada saya dan pembagian sembako kepada adik-adik Panti Asuhan Pintu Harapan.