100 Hari Kinerja Bobby, SAHdaR Sebut Sampah Kota Medan “Mengerikan”

sentralberita | Medan ~ Genap 100 hari kepemimpinan Walikota Medan Boby Nasution harapan untuk Kota Medan agar terbebas dari permasalahan sampah tampaknya masih membutuhkan usaha yang lebih besar.

Karena sampai dengan saat ini terdapat 1000 titik bahu jalan dan trotoar yang terpantau masi menjadi tempat pembuangan sampah di Kota. Sampah sampah ini menggunung setiap paginya di jalan- jalan protokol kota, seperti di Jalan Sisingamangaraja Kecamatan Medan Amplas, Jalan Letda Sujono Kecamatan Medan Tembung, Jalan Panglima Denai Kecamatan Medan Denai dan Jalan Gatot Subroto Kecamatan Medan Helvetia.

Selain empat ruas jalan tersebut, kondisi serupa juga terjadi di berbagai ruas jalan di Kota Medan hingga ke lokasi perumahan penduduk. Catatan yang ada menunjukan terdapat 16 ruas bahu jalan protokol kota yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah sementara. Yang mana Kondisi ini mengakibatkan jalan di wilayah tersebut tampah kumuh dan apabila dilalui pada pagi hari tercium aroma busuk yang menusuk hidung hingga dapat memicu rasa mual. Berdasarkan pengamatan sejak dideklarasikannya program kebersihan lingkungan oleh Walikota Medan sampai dengan hari ini, terdapat beberapa masalah yang menyebabkan sampah masih berserakan dan di buang di bahu jalan. Antara lain :

Pertama ketiadaan tempat penampungan sampah di tengah pemukiman masyarakat. Minimnya tempat penampungan sampah di kota mau tidak mau menjadi factor yang menyebabkan masyarakat membuang sampah di bahu jalan. Beberapa kecamatan seperti medan tembung, medan barat dan medan timur hanya tersedia 3 sampai 6 bak sampah, yang sudah dapat dipastikan tidak dapat mengakomodir sampah yang dihasilkan oleh masyarakat di wilayah tersebut. Hal ini juga menjadi penyebab sampah akhirnya di buang di parit dan sungai di wilayah tersebut.

Kedua, mahalnya biaya pengangkutan sampah oleh becak pengangkut sampah menyebabkan masyarakat enggan untuk membuang sampah kepada petugas pengumpul sampah. Lain dari itu pengumpulan sampah dari rumah ke rumah juga tidak dilakukan setiap hari sementara sampah rumah tangga yang dihasilkan masyarakat harus dibuang segera karena cepat mengelurkan bau busuk. Ditemui terdapat perbedaan besaran iuran yang diminta oleh petugas pengangkut sampah Seperti halnya pengutipan yang terjadi di wilayah Medan Johor dimana perbulannya masyarakat ada yang diminta harus membayar sebesar Rp 30,000. Sementara Medan Timur sebesar 20.000 dan di Medan Helvetia sebesar Rp 25.000. Tidak adanya jumlah pasti iuran dapat berpotensi menjadi celah yang merugikan PAD (pendapatan asli daerah) karena kutipan tersebut tidak diikuti dengan pemberian kwitansi yang telah disesuaikan dengan SKRD (surat ketetapan retribusi daerah).

Ketiga ; berkaca pada anggaran DPK Tahun 2021, terdapat ketidak proporsionalitas anggaran DPK yang lebih banyak menyasar pada pengelolaan Gedung dan kantor Dinas Pertamanan dan Kebersihan. Berdasarakan data Perwal 53 Tahun 2020 Lampiran II, setengah dari 559 miliar anggaran kebersihan di Kota Medan, habis untuk listrik air dan komunikasi, Hanya 15 persen dari total anggaran yang dialokasikan untuk pengelolaan sampah, Itupun terbagi dalam beberapa item pengerjaan. Seperti promosi dan kampanye kebersihan lingkungan, pemeliharan sapras persampahan dan penyediaan sapras persampahan.

Keempat ; belum maksimalnya kerja dari petugas kebersihan seperti pasukan melati, bestari dan personil kebersihan kecamatan, catatan kami menunjukan bahwa proses rekrutmen, sistem kerja dan petugas kebersihan masih belum terkelola dengan baik. Sehingga masih banyak sampah yang menumpuk di badan jalan di kota medan

Kelima minimnya sarana dan prasarana truck pengangkut sampah di mana pada saat ini, truck sampah hanya beroperasi untuk mengangkut sampah pada pukul 06.00 WIB, tetapi tidak terjadi di semua wilayah. Di beberapa Kecamatan, seperti Medan Denai, dan Medan Barat kami catat pengangkutan dilakukan pada pukul 08.00 WIB atau pukul 09.00 WIB. Sementara truck lainnya hanya bergerak pada kesempatan atau pada waktu tertentu sesuai dengan kegiatan pembersihan sampah yang diagendakan oleh DPK.

Dapat dipastikan perbedaan waktu pengangkutan sampah antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya terjadi karena minimnya jumlah truck sampah yang tersedia, karenanya proses pengangkutan di satu kecamatan harus menunggu giliran. Lebih lanjut truck sampah yang mengangkut sampah juga sudah tidak layak, beberapa truck sampah yang kami temui di jalan kondisinya TAMPAK SANGAT MENGERIKAN. Tidak jarang sampah yang sudah diangkut terjatuh kembali ke badan jalan karena jumlah sampah yang diangkut melebihi dimensi bak truck yang seharusnya.

Oleh karenanya kami merekomendasikan kepada pemko untuk menanggulangi permasalahan sampah di kota dengan langkah sebagai berikut :

  1. Memerintahkan kepada camat untuk menyediakan bak tempat sampah di tengah pemukimam warga, yang dapat di tempatkan di masing masing rumah kepala lingkungan, sehingga sampah tidak dibuang sembarangan dan menumpuk di bahu jalan
  2. Menambah petugas kebersihan khususnya bestari dan jam opersional pengangkutan sampah dan lebih lanjut menyesuaikan iuran retribusi sampah yang dikutip oleh petugas sebagaimana ketentuan yang telah di atur dalam Peraturan Daerah Kota Medan dan tidak lupa untuk memberikan kwitansi sebagai bukti pembayaran retribusi.
  3. Melakukan perubahan terhadap anggaran pengelolaan sampah sehingga lebih proporsional pada Dinas Pertamanan dan Kebersihan serta lebih lanjut memaksimalkan penggunaan anggaran kebersihan yang telah disalurkan kepada masing-masing Kecamatan di Kota Medan.
  4. Memerintahkan kepada Camat untuk memperbaiki system perekrutan petugas bestari, melati ataupun personil kebersihan kecamatan dan lebih lanjut melakukan pelatihan sehingga para petugas kebersihan memiliki pemahaman terhadap tupoksi dan visi untuk kota medan yang lebih bersih
  5. DPK agar melakukan penambahan dan peremajaan terhadap truck sampah yang mengangkut sampah sehingga dapat mengakomodir pengangkutan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Kota Medan. (Put)