Sedih…, Nelayan T.balai Ngaku Dijebak, Divonis Mati karena Bawa Narkoba

sentralberita | Medan ~ Kisah  Alim, seorang nelayan yang berada di Tanjungbalai, Sumatra Utara sangat miris.

Dia terjebak karena kedapatan membawa sabu di kapalnya. Modusnya Alim disuruh menjemput 10 orang TKI yang hendak pulang ke Medan melalui kapalnya dengan iming-iming Rp10 juta untuk ongkos jemput.

Akibatnya Alim harus mendapat kenyataan pahit. Dia dihukum mati. Kisah Alim diceritananya dari channel YouTube Mister Prass. Video ini sudah ditonton 1,1 juta kali dengan durasi 22.01.

Judulnya, “Mendengar Kisah Cerita Narapidana yang Divonis Hukuman Mati #CACANAP.”

Dikutip Senin (26/4), Alim sudah menjalani 5 tahun penjara, divonis saat tahun 2018 yang sudah proses persidangan di tingkat Mahkamah Agung.

Namun, begitupun Alim masih menaruh harapan agar tak menjalankan pidana hukuman mati.

Dalam ceritanya, sebelum tertangkap Alim melakukan kegiatan melaut (Nelayan) tangkap ikan. Namun, kesialan tersebut berawal saat temannya meminta tolong untuk mengangkut TKI asal Malaysia sekitar 10 orang.

Dijemput TKI ke Malaysia dengan ongkos perorang Rp1 juta hitungan bersih dan semuanya telah ditanggung di awal. Misalnya bensin, di luar upah.

Kapal sehari-hari Alim, bisa mencapai muatan 50 orang. Tanpa berpikir panjang, saat itu Alim meng-iyakan tawaran dengan tarif ongkos tersebut.

“Sore kami berangkat sekitar jam 11 malam kami sudah sampai. Sampai disana ternyata orang TKI itu tak ada, sudah balik duluan. Yang tinggal hanya tas. Jadi tasnyalah yang kami bawa ini. Ada 4 buah tas,” kata Alim.

Hal ini merupakan pertama kalinya Alim menerima tawaran, mengangkut 4 tas tersebut tanpa orang dan tanpa mengetahui isi tas. “Saya ditelpon kawan tadi. Cemana bang. Ini orangnya tak ada saya bilang kan. Kok begitu kata dia. Tak tahu lah ini cuma tas saja yang ada, orangnya tak ada. Yaudah tak apa katanya,” dalam cerita Alim.

Apalagi empat tas tersebut dilarang untuk dibuka. Tas dalam keadaan digembok dan dipesan dengan ucapan jaminan tak ada apa-apa hanya pakaian TKI yang hendak berangkat.

“Kalau gemboknya rusak berarti abang yang tanggungjawab,” begitu cerita Alim.

Sedangkan, ongkos atau tarif yang dijanjikan pada Alim, dalam telpon dijamin bahwa tarif tak berkurang meski hanya 4 tas yang dibawa tanpa penumpang TKI.

“Tetap Rp10 juta dengan 4 tas. Uang belum diterima (karena belum sampai ke tempat. Tapi, sebelum berangkat uang minyak, rokok udah diselesaikan, kalau duit belum ada,” ucapnya.

Lanjut Alim, saat tiba di lokasi ia pun menelpon pemilik tas tersebut. Namun, jawabannya untuk mengambil tas pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB padahal Alim sudah tiba pukul 06.00 WIB di lokasi.

Alim masih berpikir positif, sambil melakukan penjaringan ikan untuk lanjut nelayan agar tak menyia-nyiakan waktunya.

“Sekitar jam 10.00 WIB saya tidur, saya bilang sama kawan nanti sore kita masuk. Ternyata jam 12.00 WIB kami kedatangan tamu pemancing mania alasannya minta umpan seperti cumi, udang dan lainnya,” ucap Alim.

Alim sontak pun terbangun dari tidurnya. Ada sekitar 20 orang yang mengelilingi Alim saat itu, ia pun menaruh curiga pada orang-orang tersebut.

Singkat cerita, orang-orang tersebut menunjukkan kartu identitas dan menyuruh Alim untuk ikut ke Polres dan mengecek isi tas tersebut dengan total 5 Kilogram sabu.

Atas kejadian tersebut, Alim mencoba untuk menenangkan dirinya dalam sel tahanan. Dia juga mengubah penampilannya. Seperti namanya, Alim kini lebih alim karena sudah memasrahkan diri kepada Yang Kuasa.

“Pakaian ini belajar dalam tahap mendalami agama. Bukan berarti orang berilmu atau alim-alim kali pun bukan. Cuman mau belajar, ternyata dengan pakaian seperti ini suka saja saya memakainya, hati tenang,” kata Alim.

Alim saat ini sudah menjalankan hukuman dalam sel tahanan selama 5 tahun, artinya tinggal 3 tahun lagi untuk putusan dari Mahkamah Agung dengan total 8 tahun.

Ia tak ingin mengeluhkan atas kejadian tersebut. Baginya, semua telah diatur oleh sang Maha Pencipta.

“Berarti itu sudah takdir dari Allah SWT. Walaupun ajal gak ada yang tahu. Kalau memang dari Allah datangnya kita mau bilang apa,” ungkapnya penuh haru.

“Semua orang didunia ini mau membela kita. Tapi, kalau Allah bilang tidak ya tidak juga,” pungkasnya.(idn)