Pancasila Bisa Tinggal Sebutan Saja

sentralberita | Medan ~ Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI dari Fraksi Partai Gerindra H.Raden Muhammad Syafi’i, SH, MHum menilai Era Disrupsi ( perubahan mendasar atau fundamental) yang melanda umat manusia termasuk di tanah air Indonesia seperti “bermata dua” menjadi hambatan atau menjadi keuntungan.Baik bagi pelaku bisnis maupun dalam bentuk ideologi politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan.

Sebab, hal-hal yang terjadi dalam era disrupsi diantaranya, . Pekerjaan manusia akan digantikan oleh robot, dunia maya (virtual) dan kwalitas produk menjadi lebih baik dan perkembangannya sangat pesat . Kemudian disrupsi menciptakan pasar baru sehingga bisnis yang selama ini tertutup menjadi terbuka
hingga produk dan layanan pada era disrupsi leih mudah

“Namun hal itu berakibat Indonesia saat ini mengalami darurat ideologi transnasional. Yakni baik dari ideologi liberalisme Barat yang membawa gaya hidup hedonisme, LGBT, narkoba maupun ideologi berbasis ekstremisme agama yang telah menyerbu dari berbagai penjuru lewat globalisasi,”kata Raden Muhammad Syafi’i akrab disapa Romo kepada wartawan di Medan, kemarin.

“Kenyataan ini semakin mengkhawatirkan bagi saya, karena sangat berhubungan erat dengan ancaman masa depan anak cucu kita. Apalagi saya yang pernah menjadi penatar P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila) dan pernah menjadi Guru Mata Pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) sekarang disebut Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) selama 18 tahun,”imbuhnya.

Kekhawatiran Romo ini juga disampaikannya pada kegiatan sosialisasi ke daerah pemilihan sebagai Anggota MPR RI kepada ratusan peserta tergabung dalam unsur Pimpinan 21 Kecamatan Fahmi Ummi Kota
Medan pada 25 Maret 2021. Pada pertemuan itu Romo membuka tanya jawab kepada para peserta, diantaranya pertanyaan seorang peserta yang mempertanyakan soal nilai-nilai Pancasila terutama Sila Pertama dengan derasnya Informasi dan narasi di media sosial yang membuat kehidupan beragama menjadi gaduh.

“Salah satu konsekuensi era disrupsi dan kemampuan IT melalui perangkat gadget dan akses internet telah membuat dunia menjadi begitu terbuka dan data dan informasi yang selama ini
tidak bisa diakses, saat ini data dan informasi tersebut mudah diakses.
Dan termasuk dalam kesadaran beragama tentang sila ketuhanan tidak lagi mudah diselewengkan dan idiologi-ideologi juga begitu terbuka tidak mudah lagi.Demikian juga dengan ideologi Pancasila harus tetap menjadi Ideologi terbuka agar tetap dapat eksis sebagai falsafah dan pandangan hidup Bangsa Indonesia,”sebut Romo menjawab pertanyaan peserta.

Lebihlanjut seorang peserta bernama Zulaika Rosta juga menyampaikan rasa khawatir kedepan nilai-nilai keagamaan khusunya ajaran Islam akan menjadi asing bagi anak cucu .Menanggapi itu, Romo juga mengakui bahwa kemungkinan itu bisa terjadi seperti hadist Nabi “Nanti disuatu zaman Islam tinggal nama dan Al-Qur’an sekedar bacaan saja”.

“Ini terjadi karena ummat disibukkan dengan kegaduhan-kegaduhan seperti yang terjadi saat ini di media sosial muncul hoax yang sayangnya kita lupa ajaran agama islam yang menyuruh untuk tabayyun atau klarifikasi atas setiap informasi yang diterima. Namun faktanya kita telah mengabaikan ajaran Islam tersebut,”papar Anggota DPR/MPR RI dari daerah pemilihan Sumut 1 meliputi Kota Medan, Tebingtinggi, Kabupaten Deliserdang dan Sergai ini.

“Kegaduhan-kegaduhan tersebut bagian yang membuat kita makin menjauh dari kebenaran dan terjebak kepada pembenaran demi pembenaran yang subjektif dan parsial. Sehingga kesadaran fundamental kita tentang kebenaran dari keyakinan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi tergerus sedikit demi sedikit oleh motif-motif materialism dan kapitalisme yang sangat dominan saat ini,”jelasnya.

Lebihlanjut dkatakan Romo, pada era Orde Baru Negara menyebarluaskan P4 sebagai bahan ajar di sekolah dan juga
melalui Penataran P4, merasakan telah terjadi perubahan orientasi, cara pandang dan pemahaman generasi yang sekarang disebut Generasi Milenial terhadap nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia.

Bahkan kemungkinan terburuk Pancasila hanya tinggal sebutan dan nama
saja tidak lagi sebagai pandangan hidup dan perilaku pengejawantahan dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia telah digantikan oleh nilai-nilai Bangsa Lain atau Ideologi Transnasional.
Salah satu yang membuat dominasi ideologi trans nasional tersebut instan, Cepat, dan mampu memberi pengaruh karena penguasaan dan adaptasi terhadap IT dan Digital yang memiliki kecerdasan tiruan yang mengharuskan pola komunikasi berubah yang jauh makin dekat dunia semakin terbuka dan terkesan sempit serta mengharuskan kolaborasi. (01/red)