Impian Anak Yatim Muallaf, “Saya Ingin Kuliah Kelak Bisa Bantu Mamak Bangun Rumah”

sentralberita|Sibolangita~Namanya Agus (19 Thn), terlahir sebagai seorang anak Yatim Muallaf. Sejak Ayahnya yang Muallaf meninggal dunia, kini ia lah yang menjadi tulang punggung keluarganya. Berdua bersama Ibunya ia tinggal di rumah yang sangat tidak pantas disebut sebagai tempat tinggal.

Saat dijenguk oleh ACT baru-baru ini, Sabtu (17/04) Di Desa Tambunen, Kec. Sibolangit, Kab. Deliserdang, Agus dan ibunya tinggal dirumah gubuk warisan dari Ayahnya. Dengan atap dari bahan rumbia, sebagian atapnya sudah banyak ter;epas.

Menurut Agus, jika hujan dan angin kencang mendera, kondisi rumahnya akan tergenang air, ia dan ibunya harus berjibaku membersihkan genangan air dari dalam rumahnya yang lantainya pun masih berupa tanah tanpa lapis semen ataupun keramik.

Rumah yang lebih mirip dengan gudang, membuat Agus harus dengan ikhlas tinggal disana. “Walau gubuk, hanya ini lah harta peninggalan Ayah tercintanya,” bisik Agus menunduk.

Dengan mata yang berkaca-kaca, remaja tangguh ini pun menceritakan kesabaran ibunya dalam menjalankan ujian dari Allah SWT ini.

Sebab mereka sendiri berada di lingkungan muslim minoritas, tidak banyak warga lokal yang membantu mereka selain saudara-saudara muslim yang ada di Desa itu.

Tetangganya rata-rata hidup dalam serba berkecukupan. Rumah mereka sangat kontras hadir diantara deretan rumah-rumah semi permanen dan permanen di Desa itu.

Sangat mencolok sekali, rumah yang mereka huni terlihat seakan mau ambruk, sangat reot sekali, beberapa bagian atap terlepas dan dinding rumahnya terdiri dari lapisan seng usang yang berkarat.

Agus yang baru saja tamat SMA ini sangat sadar dengan kondisi rumahnya, untuk itu dia bertekad ingin melanjutkan sekolahnya hingga ke perguruan tinggi.

Untuk itu dia berjualan jajanan anak-anak di Desa itu, sementara ibunya berjualan sayuran di pasar.

Harapan Agus, hasil dari jualan jajanan anank-anak ini akan ia tabung dan akan digunakannya untuk mendaftar perguruan tinggi di kota Medan.

“Saya ingin sekali melanjutkan hingga kejejenjang perguruan tinggi, jika wisuda ia akan bekerja diperusahaan besar, agar gajinya bisa untuk membantu mamaknya (ibu) memperbaiki rumah,” kata Agus.

Namun hingga saat ini kemampuannya hanyalah sampai membantu memenuhi beli beras sehari-hari, dagangannya yang merupakan jajanan anak-anak itu pun tidak lah cukup, jangan kan untuk membangun rumah warisan sang ayah, untuk ongkos ke medan agar mendaftar di perguruan tinggi pun ia tak mampu.

Harapannya ada dermawan Indonesia yang peduli dengan masa depan dan kondisi Yatim Muallaf Dhuafa, yang ikhlas membagikan sedikit rezekinya agar Agus dapat melanjutkan pendidikannya hingga Perguruan Tinggi dan membantu impiannya membangun kembali rumahnya yang hamper roboh.

Atas keprihatinan ini lah ACT Sumatera Utara mencoba mengetuk hati para Dermawan Indonesia untuk menyisihkan sedikit rezekinya untuk membantu Agus dan anak-anak Yatim Muallaf yang Dhuafa seperti Agus ini. (SB/01/ilham)